Breaking News:

Ketua Forum Perbatasan Kalbar Tak Setuju Program Belajar Tiga Bulan Mendikbud 

Adapun konsep dasar Kampus Mengajar ialah melibatkan mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia untuk melakukan pengajaran kepada anak-anak usia seko

Penulis: Ridho Panji Pradana | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Ketua Umum Forum Perbatasan Kalbar Abelnus 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ketua Umum Forum Perbatasan Kalbar Abelnus menilai program belajar selama tiga bulan oleh pihak kampus khususnya untuk daerah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T) yang dicanangkan Mendikbud RI, Nadiem Makarim tidak realistis.

Seperti diketahui, Kemendikbud RI resmi meluncurkan program Kampus Mengajar. 

Adapun konsep dasar Kampus Mengajar ialah melibatkan mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia untuk melakukan pengajaran kepada anak-anak usia sekolah dan sasaran pengajaran utamanya di daerah-daerah 3T.

"Saya tidak setuju dengan kebijakan dan program Mendikbud tersebut, saya menilai dengan sistem merekrut para mahasiswa di kampus dan mengirimnya didaerah 3T waktunya sangat terbatas hanya tiga bulan, kapan para mahasiswanya untuk mempelajari karakteristik siswa dan daerah tersebut," katanya, Rabu 17 Februari 2021.

Baca juga: Memperkuat Silaturahmi dan Sinergisitas, Ansor Kalbar Melakukan Audiensi ke Gubernur Kalbar

"Apalagi misalnya, mahasiswanya bukan berasal dari daerah tersebut, dapat dipastikan akan menghadapi kesulitan dilapangan," jelasnya.

Sementara untuk waktu, kata Abel yang juga Ketua Ikatan Cendikiawan Dayak Nasional (ICDN) Kabupaten Sambas ini sangat terbatas.

"Sebaiknya Mendikbud mengoptimalkan tenaga guru yang ada di daerah tersebut, dari pada mengirim para mahasiswa, punya Abel," imbuhnya.

Lanjut Abel, pemerintah dapat memaksimalkan SDM guru honorer di daerah 3T dan meningkatkan kesejahteraan guru honor yang selama ini upah mereka yang diterima setiap bulan sangat tidak manusiawi.

Pemerintah harus melakukan kajian dan pendekatan horizontal terlebih dahulu sebelum membuat dan melaksanakan kebijakannya.

"Hemat saya program tersebut sangat tidak masuk akal, mengingat waktunya yang sangat singkat," tutup Abel. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved