RUSIA Dihantam Gelombang Protes, Nasib Vladimir Putin Bisa Berakhir Seperti Moammar Gaddafi Libya?

Negara berjuluk Negeri Beruang Merah itu, kini tenga dilanda gelombang protes besar setelah satu di antara tokoh oposisi ternama di Rusia, Alexi Naval

Tayang:
Editor: Ishak
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA VIA KONTAN.CO.ID
RUSIA Dihantam Gelombang Protes, Nasib Vladimir Putin Bisa Berakhir Seperti Moammar Gaddafi Libya ? Cek selengkapnya di artikel ini Sabtu 6 Februari 2021 / ILUSTRASI. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Gonjang ganjing politik akhirnya ‘mampir’ juga ke Rusia.

Negara berjuluk Negeri Beruang Merah itu, kini tenga dilanda gelombang protes besar setelah satu di antara tokoh oposisi ternama di Rusia, Alexi Navalny ditangkap.

Gelombang protes besar tersebut pun lantas memunculkan sejumlah spekulasi.

Termasuk terkait kekhawatiran pemimpin Rusia saat ini, Vladimir Putin yang khawatir akan berakhir tragis seperti Moammar Gaddafi dalam revolusi di Libya beberapa tahun silam. 

Suharjo Lie: Kapal Rusia Pengangkut 14 Ribu Ton CPO Bersandar di Pelabuhan Internasional Kijing

Dikutip dari laman Kontan.co.id, spekulasi ini satu di antaranya muncul dari seorang ahli terkemuka di Rusia.

Vladimir Putin diklaim takut dibunuh seperti diktator Libya Moammar Gaddafi dalam sebuah revolusi ketika aksi protes melanda Rusia atas dipenjaranya tokoh oposisi Alexi Navalny di tahun baru 2021 kali ini.

Tokoh oposisi Rusia Yuri Felshtinsky mengatakan kepada The Sun Online bahwa kerusuhan yang sedang berlangsung semakin meyakinkan Putin bahwa dirinya harus lebih banyak melakukan penindasan dan pembunuhan lawan untuk menghindari nasib mengerikan yang sama seperti pemimpin Libya.

Putin menghadapi salah satu tantangan terbesar dalam 20 tahun pemerintahannya ketika ribuan pendukung tokoh oposisi Navalny yang dipenjara turun ke jalan.

AMERIKA Vs Turki Panas, Sanksi Dijatuhkan ke Negara Pimpinan Erdogan Gara-gara Rudal S-400 Rusia

Pria berusia 68 tahun itu telah menandatangani undang-undang yang memungkinkannya untuk tetap berkuasa hingga setidaknya tahun 2036.

Melansir The Sun Online, Felshtinsky mengatakan Putin perlu bertindak brutal untuk memadamkan perbedaan pendapat dan melindungi posisinya.

Dilaporkan bahwa pemimpin Rusia telah "menonton secara obsesif" video Kolonel Moammar Gaddafi yang dibunuh secara brutal setelah terpojok oleh gerombolan massa yang mengamuk pada tahun 2011.

Felshtinsky mengamini bahwa Putin merasa takut jika dia melonggarkan cengkeramannya, maka akhir pahit serupa akan menunggunya.

BABAK Baru Perang Armenia Vs Azerbaijan, Rusia Turun Tangan | Menlu Turki Ucapkan Selamat Azerbaijan

“Dia cukup cerdas untuk mengetahui bahwa di bawah aturan normal, sistem pemerintahannya tidak mungkin ada. Dia bukan seorang idealis. Dia tahu tidak mungkin dia bisa bertahan kecuali dia terus menindas," jelas Felshtinsky.

Dia menambahkan, “Pelajaran yang akan dipetik Putin setelah kejadian baru-baru ini adalah bahwa dia harus lebih banyak mengontrol dan dia harus lebih menekan. Dan itulah yang akan kita lihat."

Informasi saja, Alexi Navalny, 44 tahun, ditahan setelah kembali dari Jerman, di mana dia berhasil pulih dari keracunan saraf Novichock yang mematikan dalam percobaan pembunuhan yang dicurigai secara luas dilakukan oleh Kremlin.

Sumber: Kontan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved