Anggota PHRI Terdampak Covid-19, Tutup Hotel dan Jual Properti
Kami bahkan sudah merumahkan karyawan. Ada yang hari ini masuk, besok tidak. Ada yang seminggu masuk, seminggu tidak.
Ia berharap Covid-19 segera berlalu dengan rencana penyuntikan vaksin di akhir tahun.
“Alhamdulillah saya berharap sekali ini berakhir. Kita sudah jenuh. Kalau memang harus merugi, sekian kerugiannya tapi di bulan apa. Kalau mengambang seperi ini. Kita tak tahu,” pungkasnya.
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar dr Harisson MKes yang menjadi narasumber utama dalam FGD menyatakan pengetatan memang tak dilakukan di Kalbar. Pasalnya, jika pengetatan dilakukan maka akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi.
“Bisa saja pertumbuhan perekonomian di Pontianak dan Kalimantan Barat ini akan terjadi penurunan atau minus. Untuk itu kita tidak melakukan itu.Tapi tolong masyarakat melaksanakan protokol kesehatan,” jelas Kadiskes Kalbar.
Ia tak memungkiri saat ini ada istilah mati karena Covid-19 tidak, tapi mati karena tidak bisa makan atau mencari uang.
Abai Protokol
Kadiskes Kalbar Harisson juga memaparkan perkembangan pandemi Covid-19 di Kalbar dan apa saja pemicu warga terpapar Covid-19 serta pencegahan yang harus dilakukakan agar tidak menyebabkan hal-hal yang fatal untuk masyarakat Kalbar. Harisson menjelaskan, Covid-19 sangat cepat menyebar di masyarakat ataupun di perkantoran.
“Pertama mereka selalu menganggap mereka adalah teman kerja di kantor, sehingga aman untuk berdekatan dan berbicara tanpa menggunakan masker,” kata Kadiskes.
Kedua, lanjutnya, karena merasa teman dekat dan sahabat, sehingga aman untuk tidak menggunakan masker.
“Ketiga, mereka adalah keluarga, sehingga aman untuk saling mengunjungi, berkumpul bersama dan mengabaikan protokol kesehatan. Keempat, berolahraga beramai-ramai dengan masyarakat luas dan merasa pasti aman karena dirinya memakai masker dan membawa hand sanitizer, serta lokasi di area terbuka,” lanjutnya.
Kelima, lanjut Kadiskes, merasa muda dan sehat tidak punya penyakit bawaan, imunitas tinggi dan pasti tidak akan tertular dan jatuh sakit.
“Keenam merasa sehat dan tidak punya gejala Covid-19, sehingga merasa bebas beraktivitas, tidak menggunakan masker dan mengabaikan protokol Kesehatan. Hal tersebut bisa menjadi pemicu kenapa Covid-19 sangat cepat menyebar ditengah masyarakat karena abai protokol kesehatan dan merasa baik-baik saja ketika tidak menerapkan protokol kesehatan,” paparnya.
Menurutnya, penerapan protokol kesehatan 3M sangat perlu dilakukan untuk menjaga diri agar terhindar dari paparan virus Covid-19. “Ingat pesan Ibu penerapan 3M ketika beraktivitas itu sangat penting ditengah pandemi Covid-19,” ujar Harisson.
Ia mengatakan bahwa pada awal ditemukan kasus Covid-19 masyarakat sangat takut, tetapi sepertinya berjalannya kasus sampai hari ini akhirnya masyarakat bosan dan mengaggap bahwa Covid-19 seperti tidak nyata.
“Akhirnya masyarakat membebaskan diri keluar rumah tanpa menerapkan protokol kesehatan . Itulah yang menyebabkan kasus tinggi. Selain itu kita juga belum mampu memberi penjelasan bahwa covid-19 memang nyata,” jelasnya.
Ia mengatakan bahwa banyak masyarakat yang belum paham bahkan banyak juga yang tidak percaya dengan adanya virus Covid-19. “Tapi kalau sudah positif Covid-19 mereka sudah merasakan barulah dia paham dan percaya bahwa COVID-19 itu nyata,” tegasnya.
Ia mengatakan terkait penerapan Protokol kesehatan bahwa masih banyak masyarakat yang abai karena menganggap 3M adalah rutinitas, tapi tidak terasa akhirnya mereka lengah dan tidak melakukannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/yuliardi-qamal_20180221_193055.jpg)