WAJIB TAHU Beda Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober dengan Hari Lahir Pancasila 1 Juni
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang berlangsung hari ini, di beberapa tempat ada yang menaikkan bendera merah putih setengah tiang.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Kamis 1 Oktober 2020 ini Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila yang berkaitan langsung dengan G 30 S PKI.
Lalu apa bedanya dengan Hari Lahir Pancasila yang diperingati tiap 1 Juni?
Berikut penjelasannya:
Tanggal 1 Oktober setiap tahunnya selalu diperingati dengan Hari Kesaktian Pancasila.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila biasanya diisi dengan upacara dan pengibaran bendera merah putih.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang berlangsung hari ini, di beberapa tempat ada yang menaikkan bendera merah putih setengah tiang.
Dikutip dari Kompas.com, pengibaran bendera merah putih setengah tiang itu mengacu pada Surat Edaran Mendikbud No.85491/MPK.F/TU/2020 tentang Penyelenggaraan Upacara Hari Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2020.
• Kesaktian Pancasila, Pemersatu Rakyat Indonesia
Tiap 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila.
Sementara tiap tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila.
Lalu apakah perbedaan antara kedua hari peringatan Pancasila tersebut?
Mungkin masih banyak yang bingung dengan dua peringatan hari tersebut.
Belum lagi, Hari Kesaktian Pancasila dikaitkan dengan peristiwa berdarah G30S/PKI yang diperingati pada tiap tanggal 30 September.
Meski sama-sama sebagai hari peringatan terhadap dasar negara Idonesia, kedua hari peringatan itu sebenarnya memiliki makna yang berbeda.
Hari Lahir Pancasila
Hari lahir pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni merupakan peringatan cikal bakal Pancasila yang dijadikan sebagai lambang negara.
Melansir historia.id, mulai dari tahun 2017, tanggal 1 Juni mulai ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila lewat Keputusan Presiden (Keppres) No.24 Tahun 2016 yang ditanda tangani oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Hal itu berdasarkan Keputusan Pres (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016 yang ditanda tangani oleh Presiden Joko Widodo.
Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni juga ditetapkan sebagai hari libur nasional sejak tahun 2017.
Ditetapkan sebagai Hari Lahirnya Pancasila, karena pada tanggal 1 Juni 1945 Soekarno berpidato tentang dasar negara yang dinamainya Pancasila.
• Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2020 di Masa Pandemi, BPIP Tetap Gelar Upacara
Akan tetapi, bukan berarti peringatan terhadap hari lahirnya pancasila baru dimulai sejak tahun 2017.
Sebagaimana dikutip dari historia.id lewat artikel Sejarah Peringatan Hari Lahirnya Pancasila yang ditayangkan pada 3 Juni 2018, Antara pada 6 Juni 1958 memberitakan bahwa Hari Lahirnya Pancasila pertama sekali diselenggarakan pada 5 Juni 1958.
Penyelenggaraan yang diadakan di Istana Negara itu juga didukung dengan pernyataan Menteri Penerangan Sudibjo dalam pidato pembukaannya.
Dalam pidato pembukaan tersebut, Sudibjo menyatakan bahwa peringatan lahirnya pancasila yang diadakan pada saat itu adalah yang pertama kalinya.
Sejak saat itu, peringatan Hari Lahir Pancasila kemudian dilaksanakan setiap tahun, setiap tanggal 1 Juni.
Soeharto juga sempat memperingati Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 1967 dan 1968.
Tapi hari peringatan itu sempat dilarang di rezim Orde Baru melalui Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) mulai tahun 1970.
Yang diperingati Orde Baru atau era Presiden Soeharto adalah Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober.
Sementara itu, Hari Kesaktian Pancasila ditetapkan Pada 17 September 1966 oleh Menteri/Panglima Angkatan Darat Jenderal TNI Soeharto sebagai hari keberhasilannya menggagalkan upaya kudeta 1965.
Hari Kesaktian Pancasila
Hari Kesaktian Pancasila diperingati tiap tanggal 1 Oktober.
Berbeda makna dengan Hari Lahir Pancasila pada tanggal 1 Juni yang diperingati sebagai cikal bakal Pancasila yang dijadikan sebagai lambang negara.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini dimaksudkan agar bangsa Indonesia mengingat kembali kekejaman Gerakan 30 September 1965.
Ya, Hari Kesaktian Pancasila lebih berkaitan dengan peristiwa berdarah yang menjadi catatan kelam bangsa Indonesia, atau sering ditulis dengan G30S/PKI.
Sebuah insiden yang masih menjadi perdebatan di lingkungan akademisi mengenai siapa penggiat dan motif di belakangnya, sebagaimana dikutip dari Wikipedia.
Akan tetapi otoritas militer dan kelompok keagamaan terbesar saat itu menyebarkan kabar bahwa insiden tersebut merupakan usaha Partai Komunis Indonesia (PKI).
• SEDANG Tayang Film G30S PKI LIVE Streaming Tv One Film G 30 S PKI, Tvonenews/live Tv Bersama Tv One
Pada hari itu, enam jenderal dan 1 kapten serta beberapa orang lainnya dibunuh oleh oknum-oknum yang digambarkan pemerintah sebagai upaya kudeta.
Gejolak yang timbul akibat G30S/PKI pada akhirnya berhasil diredam oleh otoritas militer Indonesia.
Pemerintah Orde Baru kemudian menetapkan 30 September sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September G30S dan tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila.
Melansir Kompas.com, peringatan Hari Kesaktian Pancasila bermula dari Surat Keputusan Menteri atau Panglima Angkatan Darat Jenderal Soeharto pada 17 September 1966 lalu.
Setelah keputusan itu keluar, Wakil Panglima Angkatan Darat Letjen Maraden Panggabean dalam jumpa pers menjelaskan, Pancasila sebagai way of life bangsa Indonesia pada tanggal itu mendapat ancaman yang luar biasa sehingga hampir saja musnah dari Bumi Pertiwi.
Namun, Pancasila selamat dari serangan fisik penganut Marxisme, Leninisme, dan Maoisme.
Karena itu dapat disimpulkan bahwa Pancasila adalah sumber kekuatan moril dan spiritual bangsa ini.
Dalam surat itu dinyatakan, peringatan harus dilakukan oleh seluruh slagorde (pasukan) Angkatan Darat dengan mengikutsertakan angkatan lainnya serta rakyat.
Pada 1 Oktober 1966, peringatan Hari Kesaktian Pancasila pertama kali dilakukan di Lubang Buaya.
Tragedi G30S
Gerakan 30 September 1965 (G30S) merupakan bagian dari catatan hitam bangsa Indonesia.
Tercatat, 10 nama menjadi korban dalam tragedi berdarah itu.
Diantaranya ialah enam jenderal dan satu perwira pertama TNI AD.
Mereka adalah Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Mayor Jenderal Raden Soeprapto, Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono, Mayor Jenderal Siswondo Parman, Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo, dan Lettu Pierre Andreas Tendean.
Melansir berbagai arsip Jaringan Tribun, ketujuh jenderal itu dibunuh secara kejam oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).
Jasadnya lalu dibuang ke dalam sumur Lubang Buaya, yang berlokasi di Jakarta Timur.
Saat itu terjadi pemberontakan G30S dengan menculik beberapa TNI Angkatan Darat.
Para perwira TNI yang gugur dalam peristiwa tersebut kemudian sering disebut sebagai Pahlawan Revolusi.
Berdasar pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009, ada 10 perwira TNI yang dianugerahi sebutan Pahlawan Revolusi.
Namun hanya tujuh nama korban TNI AD yang gugur di dalam Lubang Buaya dalam peristiwa berdarah itu yang dianugerahi sebagai Pahlawan Revolusi. (*)
Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Sejarah Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober, Ini Perbedaannya Dengan Hari Lahir Pancasila 1 Juni