Breaking News:

HUT RI

Live Streaming KompasTV Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi di Istana Merdeka Jakarta

Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini hanya akan dihadiri oleh undangan terbatas yang terlibat dalam rang

Editor: Nasaruddin
(AFP/ADEK BERRY)
Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) membentangkan bendera saat Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi 1945 di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu (17/8/2019). 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Upacara peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Istana Merdeka, Senin (17/8/2020) akan dimulai sekitar pukul 09.42 WIB.

Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini hanya akan dihadiri oleh undangan terbatas yang terlibat dalam rangkaian upacara peringatan.

Seluruh masyarakat nantinya dapat mengikuti jalannya upacara peringatan secara virtual.

Kepala Sekretariat Presiden (Kasetpres) Heru Budi Hartono juga mengatakan, dalam acara puncak pada tanggal 17 Agustus 2020, panitia yang terdiri atas berbagai kementerian akan bersinergi untuk memberikan nuansa HUT ke-75 RI tetap berlangsung secara meriah.

Berbagai acara baik berupa hiburan maupun edukasi kepada masyarakat, akan disiarkan melalui televisi sebelum upacara peringatan detik-detik proklamasi dimulai.

Biasanya, upacara peringatan HUT RI dilakukan di Istana Merdeka dengan mengundang sejumlah orang dari berbagai elemen masyarakat.

Kali ini, upacara hanya dihadiri oleh Presiden Joko Widodo beserta istri dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin beserta istri.

Kisah Pengibar Bendera Merah Putih saat Proklamasi 17 Agustus 1945

Kisah Dibalik Detik-detik Proklamasi 1945, Tak Hanya Penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok

Selain itu, yang hadir di Istana Merdeka untuk mengikuti upacara ialah para pejabat yang diberikan tugas membacakan teks proklamasi, pembukaan UUD 1945, dan Pancasila.

Kapolri Jenderal Idham Azis dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto juga turut hadir dalam upacara.

Istana sengaja tak akan mengundang masyarakat karena situasi yang tak memungkinkan untuk mengumpulkan orang banyak di tengah pandemi Covid-19.

Selain jumlah tamu, anggota Paskibraka juga dibatasi.

Pada tahun-tahun sebelumnya, ada 68 anggota Paskibraka yang bertugas di Istana Kepresidenan.

Namun, akibat pandemi Covid-19, tahun ini jumlahnya dipangkas jadi delapan anggota saja.

“Prosesnya adalah penaikan bendera tetap kami lakukan. Kami memutuskan di Istana sangat minimalis, artinya pengibar bendera dari Paskribraka hanya 3 orang, ditambah mungkin cadangan,” ungkapnya, dikutip dari Setkab.

Tiga anggota akan bertugas untuk upacara kenaikan bendera dan tiga anggota untuk upacara penurunan.

Kisah Dibalik Detik-detik Proklamasi 1945, Tak Hanya Penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok

Kisah Pengibar Bendera Merah Putih saat Proklamasi 17 Agustus 1945

Sisanya, dua anggota cadangan.

Saksikan siaran langsung Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Istana Merdeka melalui link Live Streaming berikut ini:

Link 1

Link 2

Link 3

Sejarah Proklamasi 17 Agustus 1945

Hari ini 75 tahun lalu, tepatnya 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Detik-detik proklamasi 17 Agustus 1945 didahului dengan beberapa peristiwa penting.

Beberapa hari menjelang proklamasi terjadi peristiwa Rengasdengklok yang ditandai menyerahnya Jepang kepada Sekutu, hingga penyusunan naskah proklamasi.

Jepang lumpuh karena hantaman bom atom pada 9 Agustus 1945 di Kota Nagasaki. Mereka menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945.

Awalnya, kemerdekaan Indonesia akan dihadiahkan oleh Jepang dengan dibentuknya Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Ir. Soekarno juga sudah memiliki pandangan sendiri akan memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Akan tetapi, dengan menyerahnya Jepang kepada Sekutu membuat sekelompok orang ingin kemerdekaan Indonesia disegerakan tanpa menunggu keputusan Jepang.

Hal itu menimbulkan perbedaan pendapat antara golongan tua dengan golongan muda yang terdiri atas beberapa perkumpulan. Golongan muda ingin kemerdekaan segera diproklamasikan.

Sebaliknya, golongan tua tidak sepakat karena tidak ingin ada pertumpahan darah, mengingat anggota pasukan Jepang di Indonesia masih banyak.

Hal tersebut berlanjut pada penculikan Soekarno dan Mohammad Hatta oleh sekelompok pemuda.

Soekarno-Hatta diculik pada 16 Agustus 1945 dan dibawa ke Rengasdengklok, sebuah kota kecil dekat Karawang.

Dalam penculikan itu, Soekarno didesak para pemuda. Namun, Soekarno tetap berpegang teguh untuk melaksanakan rencana proklamasi pada 17 Agustus 1945.

Menurut Soekarno, angka 17 adalah angka yang suci. Saat itu, Agustus merupakan bulan suci Ramadhan.

Selain itu, 17 Agustus 1945 bertepatan dengan hari Jumat yang dipercaya sebagai hari suci.

Sementara itu, di Jakarta, Achmad Soebardjo dari golongan tua dan Wikana dari golongan muda membicarakan kemerdekaan Indonesia harus dilaksanakan di Jakarta.

Akhirnya, mereka bersepakat Soekarno dan Hatta dijemput untuk kembali ke Jakarta, dengan jaminan proklamasi kemerdekaan akan diumumkan pada 17 Agustus 1945.

Rombongan Soekarno dan Hatta tiba di Jakarta pada pukul 23.00 WIB, 16 Agustus 1945.

Perumusan teks proklamasi dilakukan di ruang makan kediaman Laksamana Muda Maeda Tadashi.

Teks dirumuskan bersama oleh Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo.

Kalimat pertama proklamasi merupakan saran dari Achmad Soebardjo.

Sedangkan kalimat terakhir disempurnakan oleh Mohammad Hatta.

Bagi Hatta, kalimat pertama merupakan pernyataan dari kemauan bangsa Indonesia dalam menentukan nasibnya.

Pada 17 Agustus 1945 pukul 04.00 WIB, Soekarno membuka pertemuan dini hari dan naskah proklamasi kemudian diketik oleh Sajuti Melik.

Setelah jadi, Soekarno dan Hatta langsung menandatangani teks tersebut.

Pada pukul 05.00 WIB, para pemimpin bangsa dan tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda.

Mereka telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta pada pukul 10.00 WIB (atau Waktu Jawa menurut versi lain).

Mohammad Hatta berpesan kepada para pemuda yang bekerja sebagai pekerja pers dan di kantor berita untuk memperbanyak naskah proklamasi dan menyebarkannya ke seluruh dunia.

Bendera yang dijahit dengan tangan Fatmawati Soekarno sudah disiapkan.

Bentuk dan ukuran bendera itu tidak standar karena kainnya berukuran tidak sempurna.

Sementara itu, rakyat yang telah mengetahui akan dilaksanakan Proklamasi Kemerdekaan telah berkumpul.

Tepat pukul 10.00 WIB Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia membacakan Proklamasi Kemerdekaan RI.

Dalam perjalanan waktu, ada pembahasan soal waktu pembacaan proklamasi.

Mengutip Harian Kompas, 15 Agustus 1977, pada saat proklamasi kemerdekaan, Indonesia masih menggunakan Waktu Jawa, Waktu Sumatera Utara, Waktu Indonesia Timur, dan sebagainya.

Saat itu, pukul 10.00 pagi yang dimaksud adalah Waktu Jawa.

Indonesia baru menggunakan Waktu Indonesia Barat (WIB) sejak 1 Januari 1971.

Sehingga, ada dugaan detik-detik proklamasi bergeser 30 menit atau sekitar 09.30 WIB.

Kemudian, pada 31 Oktober 1981, diadakan ekspose detik-detik proklamasi 17 Agustus 1945 di Ruang Data Museum Pusat ABRI Satriamandala, Jakarta.

Di sana, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) membantu menetapkan secara ilmiah kapan tepatnya proklamasi dilakukan.

Diberitakan Harian Kompas, 15 Mei 1983, berbagai pihak ikut serta mulai dari ABRI, anggota pusjarah, wakil dari Sekretariat Negara, dan para saksi utama proklamasi.

BMG memperhitungkan waktu proklamasi dengan bayangan matahari yang terdapat pada foto pengibaran Sang Saka Merah Putih.

Dari eksperimen yang dilakukan BMG tersebut, disimpulkan bahwa foto pengibaran bendera 17 Agustus 1945 dibuat antara pukul 09.53 hingga 10.10 WIB.

Jadi, diperkirakan pada 10.10 WIB bendera sudah sampai di puncak.

Berdasarkan kesimpulan BMG tersebut, perayaan detik-detik proklamasi pada 17 Agustus pada 1982 tidak berubah dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu pukul 10.03 WIB.

Detik-detik proklamasi adalah saat pembacaan naskah proklamasi yang asli.

Sebelumnya didahului oleh bunyi sirine dan dentuman meriam 17 kali.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hari Ini dalam Sejarah: Mengenang Detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1945"
Penulis : Nur Fitriatus Shalihah
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved