Breaking News:

Tanaman Endemik Sagu Miliki Potensi Tinggi untuk Ketahanan Pangan Nasional

Menandakan pada zaman tersebut, masyarakat telah terbiasa mengolah sagu sebagai satu di antara sumber pangan.

Penulis: Septi Dwisabrina | Editor: Zulkifli
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Sagu sebagai menu olahan yang kaya akan nutrisi serta dapat menjadi potensi ketahanan pangan di Indonesia, selain beras. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Selain beras, ada tanaman endemik gambut yang olahannya lekat di lidah orang indonesia serta memiliki potensi produksi tinggi, ketika dibudidayakan dengan baik untuk ketahanan pangan nasional, yakni sagu.

Berdasarkan temuan para peneliti, sagu ternyata juga dikonsumsi luas sejak dahulu di bumi Nusantara.

Bahkan, pada relief atau pahatan di Candi Borobudur, yang dibangun pada Abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra, ditemukan cerita tentang palma atau palem (tanaman) seperti nyiur (kelapa), lontar, aren dan sagu.

Menandakan pada zaman tersebut, masyarakat telah terbiasa mengolah sagu sebagai satu di antara sumber pangan.

Niat Makan Sahur Puasa Senin Kamis, Doa Buka Puasa Senin Kamis & Manfaat Puasa Bagus Untuk Jantung

Bupati Citra Minta Warga Sabar Tunggu Perbaikan Jalan Provinsi Siduk-Sukadana

Fakta menarik pun disampaikan Prof Dr Ir HMH Bintoro, M Agr dari Insitut Pertanian Bogor (IPB).

Ia menerangkan bahwa secara antropologi, masyarakat Jawa menyebut beras dengan istilah sego, sedangkan masyarakat Sunda menyebut beras dengan istilah sangu. Sego dan sangu berasal dari kata sagu.

"Pengolahan sagu saat ini juga semakin modern. Pada industri pangan, tepung sagu mulai diteliti dan dikembangkan menjadi biskuit pendamping air susu ibu atau weaning food, sohun instan, dan kue kering.

Sagu juga sudah diproduksi dan dipasarkan pada skala Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM)," jelasnya baru-baru ini saat diskusi daring yang digelar Badan Restorasi Gambut (BRG).

Selanjutnya, Prof Bintoro menuturkan jika sagu memiliki nutrisi yang relatif lengkap dan baik bagi tubuh.

Di dalam sagu, terdapat karbohidrat dalam jumlah yang cukup banyak serta protein, vitamin, dan mineral.

"Sagu adalah salah satu bahan pangan lokal Indonesia berpotensi, yang perlu lebih dieksplorasi pengembangan dan kegunaannya karena memiliki kadar karbohidrat dan serat yang tinggi," ujarnya.

Honda Kalbar Gelar Fun Touring Bersama Komunitas ADV 150

Dibikin Jera, Pebalap Liar Kena Sanksi Potong Knalpot Motor Usai Terjaring Razia Polres Kubu Raya

Tak hanya itu, dengan kandungan yang dimilikinya.

Sagu menjadi solusi pangan pengganti nasi dan bermanfaat bagi mereka yang mengidap penyakit celiac atau penyakit autoimun yang terjadi akibat mengonsumsi gluten.

Menurut Prof Bintoro, potensi produksi sagu bisa sangat tinggi apabila dibudidayakan dengan baik.

Sagu dapat menjadi alternatif makanan pokok yang dapat dimanfaatkan menjadi berbagai macam olahan untuk diversifikasi pangan.

"Sagu menjadi satu di antara tanaman yang dapat memperkuat ketahanan pangan Indonesia di masa yang akan datang," sebutnya.

Namun, tantangan yang dihadapi saat ini adalah peningkatan produksi sagu.

Di Indonesia, budidaya sagu dikembangkan di areal seluas total 5.539.637 hektare, tersebar di Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Kepulauan Riau, Kepulauan Mentawai, Papua, dan Papua Barat.

Kapasitas produksi sagu saat ini hanya sebanyak 250.400 ton per tahun.

Terdiri dari sagu rakyat sebanyak 241.000 ton per tahun, sagu perkebunan 6.000 ton per tahun, sagu rakyat Papua 400 ton per tahun, dan sagu perkebunan di Papua Barat sebanyak 3.000 ton per tahun.

Prof. Bintoro pun menerangkan sagu adalah vegetasi yang cocok tumbuh di lahan gambut. Lahan gambut memiliki pH yang asam dan biasanya dicirikan sebagai lahan yang miskin hara.

Jelaskan Apa yang Bisa Kamu Contoh dari Film Pendek Kebun Sekolahku, Ceritakan Pada Orangtua & Guru

Mengenal Sosok Owner Oranje Garden, Geluti Hobi yang Menguntungkan

"Sagu dapat tumbuh di lahan dengan kondisi tanah seperti itu, karena kemampuan tanaman sagu untuk bersimbiosis dengan berbagai mikroorganisme untuk memenuhi kebutuhan unsur haranya," tuturnya.

Sementara itu, Badan Restorasi Gambut (BRG) yang bertugas untuk merestorasi ekosistem gambut Indonesia memanfaatkan potensi sagu. BRG saat ini secara intensif melakukan pendampingan pada masyarakat di kawasan gambut untuk membudidayakan sagu dan memproduki pangan olahan berbahan sagu.

Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead mengatakan BRG terus mendorong pembudidayaan tanaman sagu di lahan gambut yang rusak, sebab secara ekologis pemanfaatan lahan gambut untuk budidaya sagu memiliki dampak positif jangka pendek maupun jangka panjang.

Selain bermanfaat untuk ekonomi, budidaya sagu diharapkan dapat membantu pencegahan kebakaran gambut.

Secara ekologis, pemanfaatan lahan gambut untuk budidaya sagu sangatlah tepat karena sagu tumbuh pada lahan gambut yang lembab, basah, hingga tergenang menjadikannya sesuai dengan tujuan restorasi gambut, yaitu mengembalikan fungsi hidrologi ekosistem gambut.

"Sedangkan pada jangka panjang, sagu dapat memberi keuntungan ekonomi.

Dikarenakan dapat memperkuat ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kualitas hidup dan sosial ekonomi masyarakat, terutama petani dan pengolah sagu," ungkapnya.

Sagu yang dapat ditemukan di berbagai daerah dan menjelajahi bermacam makanan khas pokok tradisional.

Di Papua, Maluku dan Sulawesi, bubur sagu menjadi makanan pokok penduduk asli dengan nama atau penyebutan yang berbeda. Untuk Sulawesi dikenal Kapurung. Kemudian di Maluku dan Papua disebut Papeda.

Di Kabupaten Meranti, Provinsi Riau, sagu tumbuh bebas di ekosistem gambut yang basah.

Masyarakat terbiasa mengolah sagu menjadi berbagai jenis produk pangan olahan, seperti mie sagu; lempeng sagu, sagu rendang dan sempolat atau bubur sagu dengan tambahan udang, ikan, cumi atau kerang serta sayur pakis. 

Update Informasi Kamu Via Launcher Tribun Pontianak Berikut:
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wTribunPontianak_10091838

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved