Virus Corona Masuk Kalbar

Dinkes Kalbar Pastikan Tak Gunakan Dexamethasone untuk Obat Pasien Covid-19

Pada tingkat molekular, diduga glukokortikoid mempengaruhi sintesa protein pada proses transkripsi RNA.

TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Karyawan menunjukkan obat dexamethasone di Apotek Amanah, Jalan Tani Makmur, Pontianak, Kalimantan Barat, Minggu (28/6/2020) siang. Kadiskes Provinsi Kalbar memastikan dexamethasone bukanlah obat untuk menyembuhkan pasien Covid-19. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Harisson menanggapi terkait berita yang beredar tentang obat antiradang dexamethasone disebut efektif untuk mengobati pasien Covid-19 dalam kondisi kritis.

Ia mengatakan bahwa Dexamethasone adalah salah obat anti inflamasi (anti peradangan) golongan kortikosteroid yang berperan dalam mengurangi atau menekan proses peradangan dan alergi yang terjadi pada tubuh.

Pada tingkat molekular, diduga glukokortikoid mempengaruhi sintesa protein pada proses transkripsi RNA.

"Obat ini biasa digunakan untuk meredakan peradangan dan reaksi alergi berupa gatal-gatal di kulit, dermatitis, asma bronkhial, dan sebagainya," ujarnya kepada Tribun Pontianak, Minggu (28/6/2020).

Tingkat Kesembuhan Pasien Covid-19 Kalbar Capai 80 Persen | Total Kasus 321, Sembuh 259, Meninggal 4

Lanjutnya mengatakan bahwa efek samping biasanya terjadi pada penggunaan kortikosteroid untuk jangka panjang, yaitu lebih dari 2-3 bulan.

Sejumlah efek samping yang bisa ditimbulkan setelah menggunakan obat kortikosteroid (dexamethason) seperti Penumpukan lemak di pipi (moon face), menekan sistem imunitas atau kekebalan tubuh.

Sehingga seseorang menjadi rentan terkena infeksi, meningkatnya tekanan darah atau hipertensi, meningkatnya kadar gula darah, mempercepat timbulnya penyakit katarak pada mata, memperparah penyakit maag yaitu terjadi tukak (luka) pada lambung atau duodenum (usus dua belas jari), penipisan lapisan kulit, pelemahan fungsi otot, mempercepat pengeroposan tulang, perubahan mood dan perilaku.

"Dexamethason ini termasuk dalam obat Keras, dan hanya bisa didapatkan dengan resep dari dokter," ucapnya.

Ia menambahkan bahwa belum ada penelitian yang benar- benar diakui lembaga kesehatan dunia seperti WHO yang mengakui bahwa dexamethason dapat menyembuhkan covid-19.

"Itu hanya dugaan-dugaan orang atau statement-statement yang tidak jelas, cenderung membuat masyarakat bingung," jelasnya.

Halaman
12
Penulis: Anggita Putri
Editor: Wahidin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved