Yuk, Kenali Mitos dan Faktanya Seputar Penyakit Kencing Manis

Diabetes mellitus (DM) atau yang kita akrab dengar dengan nama “kencing manis” atau “penyakit gula” adalah penyakit yang bersifat kronis

Tayang:
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
dr Chelwy Joycestio Vrixander dan Eric Herrianto Dwiputra SKed 

Yuk, Kenali Mitos dan Faktanya Seputar Penyakit Kencing Manis

APA sih penyakit kencing manis itu?

Diabetes mellitus (DM) atau yang kita akrab dengar dengan nama “kencing manis” atau “penyakit gula” adalah penyakit yang bersifat kronis (jangka panjang) yang terjadi ketika ada masalah dengan pengaturan insulin di tubuh kita.

Tribunpontianak.co.id merangkum tulisan dari dua dokter muda Kalbar yakni dr Chelwy Joycestio Vrixander dan Eric Herrianto Dwiputra SKed. Yuk, cek tulisan mereka.

Insulin adalah suatu hormon yang berfungsi mengatur kadar gula dalam tubuh kita, dengan cara menurunkan kadarnya jika terlalu tinggi.

Kenapa ya sering disebut kencing manis?

Seringkali diabetes mellitus disebut sebagai penyakit kencing manis maupun penyakit gula. Kenapa disebut seperti itu ya? Diabetes terjadi akibat terdapat glukosa atau “gula darah” yang berlebihan di dalam darah.

Karena ginjal tidak mampu menyaring gula darah yang berlebihan tersebut, maka gula tersebut akan dibuang oleh ginjal melalui urin (air kencing). Terdapat gula dalam urin inilah alasan mengapa penyakit diabetes sering disebut kencing manis atau penyakit gula.

Penyebab utama dari kencing manis tuh apa sih?

Nah, ada 2 kemungkinan utama nih kejadiannya dalam tubuh kita. Yang pertama, organ tubuh kita yang disebut pankreas tidak dapat memproduksi hormon insulin secara normal, entah jumlahnya berkurang atau bahkan tidak memproduksi sama sekali. Ini disebut Diabetes Tipe I.

Yang kemungkinan kedua nih, pankreas bisa memproduksi insulin dengan normal, eh malah tubuh kita yang gak bisa memanfaatkan insulinnya dengan baik.
Ini yang disebut Diabetes Tipe II.

Oke, pertanyaannya selanjutnya: Apa sih yang bisa menyebabkan “kecelakaan” diatas?

Tentu saja ada yang namanya faktor risiko. Hati-hati ya jika sobat punya faktor-faktor
dibawah ini:
• Obesitas / kelebihan berat badan
• Kurang beraktivitas
• Sering mengkonsumsi makanan gula yang berlebihan dalam kesehariannya.
• Punya keluarga yang memiliki riwayat penyakit kencing manis
• Perokok
• Peminum alkohol

Terus jumlah gula yang aman dikonsumsi dalam sehari berapa ya? Ternyata menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, konsumsi gula yang paling aman adalah tidak lebih dari 50 gram/4 sendok makan per hari. Nah, hati-hati ya dibatasi loh konsumsi gulanya!

Kencing manis itu gejalanya apa aja sih?

Kencing manis seringkali menimbulkan gejala yang tidak mencolok, dan bahkan dapat tidak menimbulkan gejala lho, terutama pada penyandang DM tipe II. Akibatnya, penyakit ini bisa saja tidak terdiagnosis selama bertahun-tahun. Keluhan klasik yang paling sering dialami oleh penyandang DM terdiri dari 3P dan 1W, yaitu:

• Poliuria (banyak pipis)
• Polidipsia (rasa haus berlebihan/banyak minum)
• Polifagia (nafsu makan berlebihan/banyak makan)
• Weight loss (berat badan menurun tanpa sebab yang jelas)

Selain itu, DM juga bisa loh menimbulkan gejala-gejala lain yang tidak spesifik, seperti badan lemah, kesemutan, gatal, mata kabur, dan lain-lain.

Terus dok, bagaimana cara saya mengetahui kalau saya terkena kencing manis?

Oke, yang paling pertama adalah mengenali gejalanya. Setelah sobat mengenali gejalanya dan sobat merasa curiga terkena diabetes, segera ke dokter untuk konsultasi. Dokter akan merekomendasikan sobat untuk memeriksakan diri ke laboratorium terutama kadar gula darah sobat dan HbA1c (Hemoglobin A1c).

Jika diantara parameter laboratorium tersebut ada yang di atas nilai normal dan memenuhi kriteria diagnosis diabetes, maka diagnosisnya dapat ditegakkan.

Bagaimana cara penatalaksanaannya dok kalau saya terkena kencing manis?

Nah, kunci utama dalam penanganan terhadap penyakit ini adalah kontrol gula darah.

Cara mengontrol gula darah adalah terutama dengan menjalani pola hidup sehat (termasuk diet dan aktivitas fisik) serta rutin mengkonsumsi obat DM maupun insulin suntikan sesuai anjuran dokter.

Lalu, cara saya tahu gula darah saya terkontrol atau tidak bagaimana dok?

Cara mengetahuinya adalah dengan menggunakan alat bernama glukometer. Glukometer mengecek kadar gula darah kapiler yang dikeluarkan di ujung jari dan pemeriksaannya harus dikuasai oleh penyandang maupun keluarga penyandang DM secara mandiri loh.

Tujuannya apa sih dok harus bisa cek sendiri di rumah? Yak tentu saja untuk mengetahui apakah dengan diet, aktivitas, dan pengobatan yang sedang dijalani, mampu untuk mengendalikan gula darah atau tidak. Bisa saja dengan pengobatan ternyata gula darah masih tetap di atas normal (hiperglikemia), maupun ternyata gula darah terlalu rendah (hipoglikemia).

Frekuensi dan waktu pemeriksaan (misalnya sebelum makan atau setelah makan, ataupun sebelum tidur malam) sangat tergantung dari jenis pengobatan yang diresepkan (obat minum atau suntikan), dan keadaan-keadaan tertentu misalnya sedang menjalani ibadah puasa, sedang hamil, dan lain-lain.

Mengenai frekuensi, waktu, dan prosedur pemeriksaan, sobat tidak perlu pusing dan khawatir, karena nantinya jadwalnya akan diatur dan dijelaskan oleh tenaga medis yang memberikan pengobatan ya.

MITOS ATAU FAKTA YA???

• Saya dengar, kencing manis dapat disembuhkan ya dok? → MITOS

Sayang sekali, diabetes adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan bila “sembuh” disini diartikan “pulih seperti sedia kala”. Namun bila “sembuh” dalam artian “terkontrol”, tentu saja bisa.

Kunci utama penanganan diabetes hanya mengontrol gula darah, dan dengan begitu, penyandang diabetes dapat menghindari komplikasi-komplikasi yang berbahaya.

• Orang kurus tidak mungkin terkena diabetes → MITOS

Memang, kebanyakan penyandang diabetes ditemukan ternyata memiliki berat badan berlebih. Tapi jangan salah, ternyata orang kurus juga bisa terkena diabetes loh! Seperti yang sudah tertulis di atas, jika sobat memiliki faktor risiko seperti diet gula, perokok, peminum alkohol, ataupun memiliki riwayat keluarga. Meskipun badan sobat tergolong kurus, sobat masih memiliki risiko untuk terkena diabetes
loh.

• Orang yang masih muda aman dari diabetes → MITOS

Banyak yang beranggapan bahwa diabetes adalah penyakit yang hanya diderita oleh orang tua. Memang benar bahwa diabetes paling banyak ditemukan pada penduduk berusia 55 tahun ke atas. Berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensi DM tertinggi ditemukan pada kelompok umur 55-64 tahun dengan prevalensi 6,3%.

Namun, apakah diabetes tidak mungkin terjadi pada kelompok usia muda? Tentu saja tidak. DM tipe II, sebagai tipe yang biasanya sering ditemukan pada orang-orang tua, ternyata semakin banyak ditemukan pada dewasa muda dan remaja juga loh. Hal ini banyak berkaitan dengan pola diet tinggi kalori, genetik, dan lain-lain.
Belum lagi bila kita menghitung DM tipe I yang lebih sering ditemukan pada orang-orang berumur <20 tahun, serta DM tipe lain seperti MODY (Maturity Onset Diabetes of the Young) yaitu DM yang disebabkan akibat mutasi genetik pada sel pembentuk hormon insulin, dan lain-lain.

Jadi, usia muda tidak berarti aman dari diabetes ya sobat. Ada banyak sekali faktor lain yang mempengaruhi, seperti riwayat di keluarga, genetik, pola hidup seperti diet, dan lain-lain.

• Orang kencing manis tidak boleh makan gula lagi seumur hidupnya → MITOS

Tentu saja tidak! Menurut American Diabetes Association, penyandang diabetes masih boleh kok makan makanan yang mengandung gula, asalkan teratur dan menjadi bagian pola diet sehat orang tersebut, diet yang dimaksud adalah diet dengan lemak jenuh yang rendah, rendah kandungan garam dan gulanya, serta sayuran dan buah.

Hati-hati dengan produk yang mengklaim label “free sugar” atau bebas gula. Dibaca kembali kemasannya sebelum dikonsumsi dan tetaplah kontrol diri sobat dalam mengonsumsi produk gula yang sobat sukai!

• Kalau terkena kencing manis, katanya saya lebih gampang sakit ya dok? → FAKTA

Yak, pernyataan ini sangat benar. DM adalah penyakit dengan komplikasi yang sangat banyak. Kondisi hiperglikemia (gula darah berlebih) memiliki efek ke seluruh tubuh terutama melalui kerusakan terhadap pembuluh darah.

Karena hampir seluruh bagian tubuh dialiri oleh pembuluh darah, efeknya juga sangat luas. Komplikasi akut (jangka pendek) dari DM meliputi ketoasidosis diabetik (produksi asam dalam tubuh berlebihan) dan hiperosmolar hiperglikemik (dehidrasi akibat terlalu banyak gula) yang merupakan keadaan darurat yang dapat mengancam nyawa dalam waktu yang singkat.

Komplikasi jangka panjang meliputi serangan jantung, gagal jantung, stroke, kerusakan mata, kerusakan saraf tepi, dan yang paling sering adalah gagal ginjal. Pada penyandang DM juga, risiko terkena infeksi sangat tinggi, termasuk infeksi saluran kemih, kulit, jaringan lunak, bahkan infeksi paru-paru seperti Covid-19 sekalipun. Hal ini disebabkan karena terganggunya sistem imun yang diperparah lagi dengan adanya kerusakan pembuluh darah.

Mengerikan sekali, bukan? Tetapi sobat tenang saja, komplikasi-komplikasi tersebut kebanyakan muncul hanya pada DM yang tidak terkontrol kok. Jadi kunci utamanya sekali lagi adalah kontrol gula darah.

• Jika orang tua/keluarga saya terkena kencing manis, saya juga pasti terkena diabetes → MITOS

Jawabannya tidak! Tentu saja sobat memiliki faktor risiko keluarga, tapi jika sobat menjaga kebiasaan dan gaya hidup sobat, asupan nutrisi yang baik, serta tidak merokok dan minum alkohol, maka tentu saja sobat tidak akan terkena diabetes.

Ingat, memiliki faktor risiko tidak memastikan sobat terkena diabetes, namun tentu saja lebih mungkin terkena diabetes.15 Terkadang ada yang ketakutan sampai mengatakan “ah ayah saya kencing manis pasti saya juga” Jangan berputus asa!

Ingat, tubuh kita adalah hasil dari usaha kita sendiri. Apa yang kita makan, aktifitas kita, itulah hasil tubuh kita.

• Insulin menyebabkan kecanduan → MITOS

Nah, sobat pasti pernah dong mendengar/membaca pernyataan yang mengatakan bahwa insulin menyebabkan kecanduan. Hal ini sama sekali tidak benar. Insulin adalah hormon yang sudah mulai diproduksi sejak bayi dalam kandungan berusia 10-14 minggu.

Insulin diperlukan oleh penyandang diabetes untuk menggantikan insulin alami yang sudah tidak cukup diproduksi oleh pankreas. Justru insulin obat yang sangat diperlukan untuk mengontrol gula darah pada penyandang diabetes sehingga perlu dipakai secara rutin. Apakah memakai secara rutin disebut sebagai kecanduan? Tentu saja tidak.

• Orang dengan kencing manis tidak boleh berolahraga → MITOS

Wah, ini nih yang paling sering saya dengar. “Orang kencing manis kan lemah, tidak boleh berolahraga, nanti gampang sakit karena gula darahnya tidak normal.”

SALAH! Justru salah satu pengobatan diabetes adalah dari perbaikan gaya hidup, yang sebelumnya jika sobat kurang berolahraga maka sobat harus mulai berubah dengan rajin berolahraga. Hal ini ditujukan agar gula darah yang berlebih dapat dipakai dan dikurangi dengan lebih efisien.9 Sepertinya pernyataan ini hanya dibuat oleh orang-orang yang malas olahraga. Cuma dalam olahraga harus berhati-hati ya, karena pada orang diabetes jika mengalami luka akan sulit untuk sembuh.

• Jika saya sering sakit kepala, saya pasti terkena kencing manis → MITOS

Sakit kepala sejatinya bukan gejala utama yang menandakan seseorang terkena diabetes. Namun, ternyata penyandang DM juga dapat mengalami sakit kepala loh, terutama pada fase-fase awal setelah terdiagnosis.

Hal ini disebabkan karena fluktuasi gula darah dimana seorang penyandang sedang menyesuaikan diet, dosis obat, dan aktivitas untuk mengontrol gula darah. Fluktuasi ini menyebabkan terlepasnya hormon-hormon yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah otak yang berkontribusi menimbulkan gejala sakit kepala.

Gejala sakit kepala juga dapat menjadi penanda terjadinya keadaan diabetes yang mengancam nyawa yaitu ketoasidosis diabetik (akibat penumpukan asam berlebih) dan hiperosmolar hiperglikemik (akibat dehidrasi).

Namun kembali lagi, apakah bila sering sakit kepala berarti pasti terkena kencing manis? Jawabannya adalah tidak, karena sakit kepala tidak hanya dialami oleh penyandang diabetes, dan diabetes didiagnosis tidak hanya berdasarkan adanya sakit kepala, namun juga pemeriksaan kadar gula darah dan HbA1c.

Sekian untuk artikel kali ini. Bagi sobat yang tidak terkena diabetes, pencegahan adalah nomor 1, dengan menjaga pola hidup yang sehat. Sedangkan bagi sobat yang telah terdiagnosis diabetes, tenang saja. Diabetes hanya perlu dikontrol kok, sehingga komplikasi-komplikasi yang berbahaya dapat dihindari. Semoga artikel ini bermanfaat bagi sobat-sobat sekalian.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved