VIRUS EBOLA: Gejala, Penularan dan Cara Pengobatan
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pun memberikan pengumuman informasi serupa lewat akun Twitter-nya.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Virus ebola kembali menjangkiti masyarakat Kongo, salah satu negara di Benua Afrika di tengah pandemi virus corona Covid-19.
Menurut data WHO, virus ebola muncul pertama kali di dekat Sungai Ebola, Kongo di tahun 1976.
Waktu itu, virus ebola telah menjangkiti 318 orang, dan 88 persen pasien terinfeksi meninggal dunia.
Ebola kemudian terus menjangkiti orang-orang dari waktu ke waktu di penjuru negara di benua lain.
Bahkan virus ini sampai di Italia, Inggris, Spanyol, dan Amerika Serikat.
Dilansir Tribunnewswiki dari DW, Senin (1/6/2020), Kongo sudah mengumumkan kasus epidemi baru ebola usai 4 orang meninggal dunia terkonfirmasi terjangkit virus ebola.
• Tempuh Jarak 257 Kilometer, Kapolda Kalbar Patroli Jarak Jauh Gunakan Sepeda Motor
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pun memberikan pengumuman informasi serupa lewat akun Twitter-nya.
Dari pertama terjadi hingga pada peristiwa penyebaran berikutnya, tingkat fatalitas virus ebola dikatakan cukup tinggi.
Tingkat Fatalitas ebola berada di kisaran 50 persen.
Dilihat dari data penyebaran virus ebola pada tahun-tahun yang lalu, tingkat kematian bervariasi mulai dari 25-90 persen.
Penyakit tersebut memang langka.
Hal ini berarti secara kuantitas tidak begitu tinggi, namun mempunyai risiko kematian yang begitu tinggi.
Dikutip Tribunnewswiki dari John Hopkins Medicine, ebola adalah sebuah virus penyebab terjadinya penggumpalan darah dan menimbulkan pendarahan di dalam.
Darah bocor keluar dari pembuluh darah kecil ke bagian tubuh.
Oleh sebab itu, virus ini pun dikenal sebagai bagian dari hemorrhagic fever virus atau virus demam berdarah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/ilustrasi-penanganan-virus-ebola-kongo.jpg)