Ramadhan 2020
MUTIARA RAMADHAN - Uzur Berpuasa
Tentu mewabahnya virus Covid-19 sedikit tidak berpengaruh terhadap suasana puasa tahun ini.
Sukardi SH MHum
Dosen IAIN Pontianak
Di tengah usaha pemerintah dan masyarakat untuk ikut serta menanggulangi Covid-19 yang melanda dunia (termasuk juga negara kita), sebagian besar umat Islam dunia juga akan mejalankan ibadah puasa 1441 hijriyah.
Tentu mewabahnya virus Covid-19 sedikit tidak berpengaruh terhadap suasana puasa tahun ini.
Tulisan ini bermaksud untuk menguraikan secara singkat hal-hal yang membolehkan Umat Islam untuk tidak berpuasa,dalam bahasa penulis disebut Uzur Berpuasa.
Mengutip pendapat Prof Wahbah Az-Zuhaili dalam bukunya yang sangat terkenal yaitu Fiqih Islam Wa Adillatuhu jilid ketiga halaman 88 disebutkan beberapa hal yang membolehkan Umat Islam untuk tidak menjalankan ibadah puasa,antara lain:
1. Melakukan perjalanan
Dalil yang menguatkan tentang hal ini adalah Alquran surat al-Baqarah ayat 185, yaitu:”… Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-hari yang lain…”.
Berdasarkan dalil tersebut di atas dapat disampaikan mengenai perjalanan yang membolehkan seseorang untuk tidak berpuasa atau mengerjakan ibadah-ibadah yang lainnya (sholat) adalah pertama, perjalanan yang menempuh jarak lebih kurang 89 km.
Jumhur ulama berpendapat bahawa perjalanan tersebut dimulai sebelum terbit fajar dan tiba di tempat yang menjadi titik awal bolehnya qashar dalam keadaan telah meninggalkan rumah-rumah kampungnya di belakangnya.
Dia tidak boleh membatalkan puasanya gara-gara sekedar memulai perjalanan sesudah dia berada dalam keadaan berpuasa di pagi itu.
Karena, hukum mukim mesti lebih diunggulkan atas hukum perjalanan jika keduanya berkumpul.
Kedua, jika musafir sedang berpuasa di pagi hari kemudian dia bermaksud menghentikan puasanya, hal itu boleh baginya, dan dia tidak berdosa (menurut mazhab Syafi’I dan Hambali), dengan dalil hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas.
Juga, karena Nabi saw dulu menghentikan puasanya dalam perjalanan ketika hendak menaklukkan kota Mekkah.
Ketiga, musafir dalam bulan ramadhan tidak boleh melakukan puasa selain puasa ramadhan, misalnya puasa nadzar atau qadha.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/sukardi-sh-mhum.jpg)