Human Interest Story

Perempuan dalam Pusaran Pengelolaan Sumber Daya Alam

Cerita tentang kaum perempuan yang tak mendapatkan ruang berekspresi, kerapkali menari dalam benak.

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA/WWF-Indonesia
Kaum Ibu di Desa Tanjung sedang belajar memanfaatkan lahan secara efektif dan efisien melalui pendekatan pertanian sayuran organik. 

Mereka juga bisa belajar banyak hal. Dari kerajinan, tata kelola kelompok, sampai tata cara berkomunikasi yang baik.

Padahal, kaum Ibu ini adalah orang-orang yang sangat tertutup.

Lambat laun, kelompok tersebut telah membuka cakrawala berpikir mereka.

Belajar dari hal-hal kecil seperti membuat kue atau pupuk kompos, dan pengembangan perkebunan sayuran organik.

Bagi Hasbi, perempuan adalah simbol kehormatan, juga keagungan.

Mereka salah satu alasan bagi keberhasilan laki-laki dalam menjalankan aktivitas keseharian.

Untuk menyokong perekonomian rumah tangga, tak jarang para Ibu harus berbuat sesuatu demi mencukupi kebutuhan keluarganya.

WWF kemudian mengambil inisiatif mendorong peningkatan kapasitas kaum perempuan agar dapat memperoleh penghasilan alternatif.

Langkah ini dikombinasikan dengan upaya lain seperti pola pertanian organik dan pembuatan pupuk kompos.

Ini dimaksudkan agar warga dapat memanfaatkan lahannya secara efektif dan efisien.

Salah satu hal yang dilakukan adalah pengelolaan perkebunan sayuran organik.

Di sini, kaum Ibu belajar secara intensif tentang banyak hal.

Mulai dari penyiangan, penggarapan lahan, pembuatan bedeng, pemupukan lahan, pemasangan plastik mulsa dan pemasangan ajir patok tanaman.

Tidak hanya sebatas perkebunan sayuran organik. Penguatan kapasitas kaum perempuan ini terus dipacu. Termasuk pelatihan pembuatan pupuk kompos.

Dengan demikian, proses pengembangan perkebunan sayuran organik tersebut dapat menekan pembiayaan karena mereka sudah punya keterampilan membuat pupuk organik.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved