Wabah Virus Corona
Peneliti Harvard & MIT Kembangkan Masker Wajah Canggih Bisa Deteksi Covid-19, Bermula Sensor Ebola
Peneliti dari Harvard dan MIT saat ini tengah mengembangkan masker wajah yang mampu mendeteksi orang yang positif terinfeksi virus corona.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Peneliti dari Harvard dan MIT saat ini tengah mengembangkan masker wajah yang mampu mendeteksi orang yang positif terinfeksi virus corona.
Nantinya, mereka yang positif terkena virus SARS-CoV-2 akan membuat sensor masker menyala.
Teknologi ini merupakan pengembangan dari temuan peneliti utama, Jim Collins yang sudah melakukan penelitian sebelum virus corona muncul.
Penemuan bermula pada 2014, Laboratorium Bioteknologi di MIT mulai mengembangkan sensor yang dapat mendeteksi virus ebola yang dibekukan di atas selembar kertas.
• Waspada Potensi Berbagai Bencana ! Matahari Dalam Fase Lockdown, Ilmuwan : Terparah 1 Abad Terakhir
Kemudian pada 2016, tim kecil ilmuwan dari MIT dan Harvard mengembangkan temuan itu dan untuk pertama kalinya menerbitkan penelitian mereka yang telah dilengkapi dengan rancangan teknologi untuk mengatasi ancaman virus Zika.
Kini para peneliti menyesuaikan penelitian dengan kondisi pandemi virus corona yang saat ini ada.
Deteksi suhu
Pengunjuk rasa memprotes perintah tinggal di rumah untuk menekan penyebaran penularan virus corona (Covid-19) di depan gedung pengadilan provinsi di Spokane, Washington, Amerika Serikat, Jumat (1/5/2020). Wabah Covid-19 yang masih menghantui dunia dan berimbas pada banyak sektor kehidupan, memunculkan aksi unjuk rasa di sejumlah negara.(ANTARA FOTO/REUTERS/YOUNG KWAK)
Mereka merancang masker wajah yang mampu menghasilkan sinyal fluorescens saat seseorang dengan virus corona benapas, batuk atau bersin.
Harapannya, apabila teknologi ini berhasil, mereka bisa mengatasi kekurangan dari metode screening yang dilakukan dengan pemeriksaan suhu.
Sebagaimana diketahui, deteksi awal suhu kerapkali gagal mendeteksi mereka yang terinfeksi terutama bagi mereka yang tidak menunjukkan gejala.
“Anda bisa membayangkannya, ini digunakan di bandara saat orang-orang melewati kemananan, atau saat orang-orang tengah menunggu di pesawat,” ujar Collins sebagaimana dikutip dari Business Insider, Rabu (13/5/2020).
"Kamu atau aku bisa menggunakannya dalam perjalanan ke dan dari kantor. Rumah sakit dapat menggunakannya untuk pasien ketika mereka masuk atau menunggu di ruang tunggu sebagai deteksi awal siapa yang terinfeksi,” lanjutnya.
Ia juga berharap, nantinya dokter bisa menggunakannya untuk mendiagnosis pasien tanpa harus mengirim sampel ke laboratorium.