Tribun Pontianak Wiki
KISAH Kholid Basyaiban General Manager Orchardz Hotel Pontianak, Awali Karir dari Cleaning Service
Jujur dan tawakal serta berdoa diakuinya senantiasa menuntunnya pada sesuatu yang baik.
Penulis: Tri Pandito Wibowo | Editor: Madrosid
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kholid Basyaiban merupakan General Manager Hotel Orchardz Cabang Gajah Mada Pontianak dan Orchardz Ayani Pontianak.
Selain itu, Kholid juga menjabat General Manager Orchardz Centro Batam.
Pria kelahiran Semarang, 15 Mei 1974 ini fokus mengembangkan karir di bidang perhotelan sejak lulus SMA. Kerja keras Kholid yang memulai karirnya sebagai cleaning service berbuah manis lantaran kini ia dipercaya menjadi pimpinan tiga hotel dengan total 438 kamar.
Jujur dan tawakal serta berdoa diakuinya senantiasa menuntunnya pada sesuatu yang baik. Ia yang memiliki cita-cita
bermanfaat bagi keluarga dan sesama mengaku apa yang ia capai tak lepas dari doa ibunda.
Menjadi anak bungsu dari enam bersaudara kehidupan Kholid diakuinya jauh dari kemewahan. Sang ayah merupakan pedagang dan hidup keluarganya serba kekurangan, ia mengingat saat SMA jarak rumah ke sekolah sekitar 16 km.
Kholid pernah absen lantaran tak bisa ke sekolah karena tak memiliki ongkos untuk naik angkot. Bahkan ia ingat betul, keluarganya pernah kesulitan makan karena tak memiliki uang. Selepas SMA, ia pun mengambil kursus perhotelan selama 1 tahun.
• Orchardz Gajah Mada Adakan Layanan Drive Thru Selama Ramadan, Yuk Lihat Promonya
Setelah lulus ia melamar di sebuah hotel berbintang 5 di Kota Semarang. Namun lagi-lagi kesabarannya diuji. Saat melamar sebagai bellboy, HRD manager mengatakan tampangnya tidak pantas di front liner sehingga ia ditempatkan di bagian cleaning service.
Namun Kholid mengaku tetap menjalani semua proses hidupnya dengan penuh syukur. Awal bekerja diakuinya memang berat karena saat itu ia masih muda dan memiliki keinginan nongkrong seperti teman sebayanya.
Ketika rasa malas menghampiri, lagi-lagi ia berpikir, jika tak bekerja siapa yang akan memberinya uang. Tak seperti teman lainnya yang bisa menadahkan tangan meminta ke orangtuanya, Kholid bahkan harus bisa membiayai hidup sendiri dan orangtua.
Berkat doa orangtua, Kholid yang saat itu menjadi cleaning service dipindahkan ke bagian laundry alias tukang cuci hotel. Seiring waktu berjalan berkat ketekunannya, sang atasan menawarkannya ke bagian operator telepon hingga akhirnya menjadi reception.
Suatu ketika ia mendapatkan tawaran pekerjaan oleh atasannya yang telah pindah untuk membantunya ditempat barunya. Tawaran pun ia terima namun ternyata pekerjaannya kurang cocok hingga akhirnya ia mengundurkan diri dan menganggur.
Bapak dua anak ini mengaku, ada hikmahnya bahkan disaat kondisi tersulit. Saat ia menganggur sang ibu sakit dan koma sehingga ia harus menjaganya karena saudara yang lain harus bekerja.
Beberapa bulan kemudian, akhirnya pihak rumah sakit menyerah dan menyarankan sang ibu dibawa pulang.
Bersama kakak perempuannya semua pekerjaan dalam merawat ibu ia lakukan.
Berkat bantuan sang teman, Kholid pun diterima bekerja di sebuah hotel yang baru dibangun. Pada hari pertama ia berangkat bekerja sang ibu sadar dari komanya, namun takdir berkata lain karena pada hari kelima sang ibu wafat.
Meski tak sempat memanjakan sang ibu pasca mendapatkan karir yang mapan namun ia berusaha menjadi orang yang bermanfaat untuk sesama. Kholid mengaku saudara-saudaranya berkata apa yang dicapainya saat ini tak lain karena jasanya merawat sang ibu sehingga doanya diijabah oleh allah SWT.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/kholid-basyaiban-cfggvtbh.jpg)