Breaking News

Virus Corona Masuk Kalbar

Apindo Kalbar Harap Penerapan PSBB Menjadi Pilihan Terakhir Pemerintah

Ia mengistilahkan kondisi saat ini seperti pelari maraton yang harus pandai mengatur pernafasan agar tetap bisa bertahan.

Penulis: Rizki Kurnia | Editor: Maudy Asri Gita Utami
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalbar, Andreas Acui Simanjaya saat wawancara, Sabtu (18/04/2020). 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalbar, Andreas Acui Simanjaya mengharapkan peberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjadi pilihan terakhir yang diambil Pemerintah. 

Hal tersebut ia sampaikan setelah memikirkan kemungkinan gagal yang besar.

"Menurut saya PSBB sebaiknya menjadi opsi terakhir sebab kemungkinan gagalnya besar, karena salah satu indikatornya adalah apakah ada tambahan Pasien positif selama masa PSBB diterapkan."

Hasil Rapid Test Dua ABK Reaktif, Pelni Karantina KM Bukit Raya

"Jika dalam masa penerapan PSBB kemudian ada yang yang terindikasi positif saat PSBB berlangsung maka PSBB diperpanjang," ungkap Acui kepada wartawan Tribun Pontianak melalui pesan whatsapp (WA), Sabtu (18/04/2020).

Ia menerangkan saat ini pemerintah cukup terapkan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin, contoh warga ke tempat umum tak pakai masker di denda dan tipiring.

Tempat usaha yang tak sediakan fasilitas cuci tangan dan tak terap kan pengaturan jarak di sanksi.

Peningkatan sanitasi lingkungan secara intensif di tingkat RT, artinya bantu tehnis dan metode sosialisasi pada pengurus RT untuk di teruskan pada warga mengenai protokol kesehatan.

"Kita lihat DKI saat ini gagal dalam mencapai hasil yang diinginkan melalui PSBB. Selain itu jika aktivitas masyarakat dibatasi dalam PSBB maka kerentanan ekonomi warga akan semakin meningkat, sekarang saja sudah mencapai 30% orang kehilangan penghasilan yang artinya belanja kebutuhan dan sebaiknya juga pasti menurun volume nya, jika diterapkan PSBB kemungkinan orang yang kehilangan penghasilan bisa menjadi 60% dan akan jadi beban besar bagi pemerintah," ungkap Acui.

Menurutnya dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat maka aktivitas masyarakat masih bisa berjalan dengan pengamanan diri sendiri/individu yang ketat.

"Bagaimanapun Pandemi Virus Corona ini bisa kita atasi jika masing-masing individu disiplin menjaga kesehatan diri dan keluarganya," ungkapnya.

Ia mengistilahkan kondisi saat ini seperti pelari maraton yang harus pandai mengatur pernafasan agar tetap bisa bertahan.

"Kita ini sekarang ibaratnya pelari maraton, harus pandai mengatur napas dan semangat agar bisa tetap bertahan sampai Pandemi Virus Corona ini berakhir." 

"Sebab kita tidak bisa melakukan tidur panjang atau hibernasi seperti Beruang dan kodok misal dalam menghadapi kondisi kurang menguntungkan seperti saat ini," ujar Acui.

Selain itu, Acui juga mengutip berdasarkan analisa WHO puncak Pandemi Virus Corona di Indonesia ada di sekitar 21 Mei 2020 yang artinya, setelah itu kasus pasien positif Corona akan perlahan-lahan menurun.

"Sehingga saya prediksi kita akan selesai berurusan dengan Pandemi Virus Corona pada Bulan Juli 2020. Kemudian kita perlu waktu untuk penyesuaian dan memulihkan segala aktivitas masyarakat termasuk ekonomi sampai akhir tahun 2020, yang artinya semua aktivitas akan berjalan normal pada Januari 2021, dengan catatan tidak muncul lagi gelombang Pandemi ke 2 atau ke 3 seperti yang gejalanya mulai muncul di beberapa negara," jelasnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved