Wabah Virus Corona
Apa yang Harus Dilakukan Jika Hasil Rapid Test Positif atau Negatif Virus Corona Covid-19?
kamu sudah menjalani tes rapid atau rapid test? apa hasilnya? selanjutkan apa yang dilakukan jika positif atau negatif corona?
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Rapid test adalah satu di antara uji cepat untuk mendeteksi apakah seseorang punya antibodi terhadap virus corona Covid-19 atau tidak.
Cara kerja rapid test adalah bereaksi terhadap antibodi IgG dan atau IgM yang ada dalam sampel darah yang selanjutnya akan menimbulkan perubahan warna rapid test.
Penggunaan rapid test biasanya dilakukan terhadap mereka yang memiliki kontak erat dengan orang yang telah dinyatakan positif Covid-19.
Walau demikian, alat ini tidak sepenuhnya valid ketika digunakan untuk melakukan tes karena dapat memunculkan negatif palsu ataupun positif palsu karena beberapa alasan.
• Lowongan Kerja BIN untuk Tim Penanganan Covid-19, Cek Posisi, Syarat hingga Jadwal Tes
Setelah menjalani rapid test, hasil yang akan muncul kemungkinannya dua: positif dan negatif.
Apa yang harus dilakukan jika rapid test menunjukkan positif atau negatif?
Melansir informasi yang dibagikan Kementerian Kesehatan RI melalui akun Instagram-nya, @kemenkes_ri, hal yang harus dilakukan saat hasil rapid test positif adalah:
1. Jika tidak ada gejala seperti demam, batuk, tenggorokan gatal dan sesak napas, maka harus berada di rumah untuk melakukan isolasi mandiri.
2. Hubungi layanan digital health untuk berkonsultasi. Beberapa contoh layanan konsultasi digital health di antaranya SehatPedia, Halodoc, Alodokter, SehatQ, KlikDokter, ProSehat, doktersehat, Good Doctor, Docquity dan sebagainya.
3. Jika muncul gejala meliputi demam, batuk, tenggorokan gatal dan sesak napas yang memberat maka harus segera menghubungi fasilitas layanan kesehatan guna pemeriksaan lebih lanjut.
Jika hasil rapid test menunjukkan hasil negatif, maka Anda diimbau untuk melakukan beberapa hal:
1. Tetap berada di rumah dan melakukan physical distancing atau menjaga jarak fisik dengan anggota keluarga.
2. Diimbau untuk melakukan tes ulang 7-10 hari kemudian di fasilitas layanan kesehatan.
3. Jika membutuhkan konsultasi masyarakat juga dapat menghubungi layanan digital health.
Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS PatKln) Prof. DR. Dr. Aryati, MS, Sp.PK (K) mengingatkan, hasil positif palsu dari rapid test bisa saja muncul jika ada infeksi virus corona jenis lain di masa lalu mengingat virus corona bukan hanya SARS-Cov-2.
“Karena (jenis) corona banyak di masa lalu itu, antibodi yang pernah timbul bisa saja terdeteksi,” kata Aryati.
Sementara, hasil negatif palsu bisa saja muncul karena seseorang belum masuk periode inkubasinya.
“Tapi kalau hasil negatif dia belum melewati inkubasinya, saya sarankan untuk dilakukan pengambilan sampel ulang 7 hari kemudian dari hari pertama tadi. Misal batuk, diperiksa negatif, jangan senang dulu. Cek lagi hari ke-12. Kalau dicek lagi positif, berarti ya positif,” kata Aryati.
Sementara itu Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, seperti diberitakan Kompas.com, 28 Maret 2020, menyatakan bahwa hasil negatif palsu bisa muncul saat seseorang masih dalam proses inkubasi.
Ketika telah melewati masa inkubasi, maka hasilnya akan menunjukkan IgM yang positif dan IgG yang negatif.
Alasannya, karena saat ada infeksi di tubuh maka IgM akan naik.
Sementara, saat tubuh mulai membaik, maka IgG akan ikut naik.
Selanjutnya, saat IgM dan IgG sama-sama positif, artinya pasien telah berada pada fase infeksi aktif.
Adapun, jika hasil IgM negatif dan IgG positif, hal ini menunjukkan fase akhir infeksi atau menunjukkan adanya kemungkinan riwayat bhwa orang tersebut sudah pernah terinfeksi SARS-CoV-2 lalu sembuh.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Apa yang Harus Dilakukan jika Hasil Rapid Test Positif atau Negatif?
Penulis : Nur Rohmi Aida
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary