Virus Corona Masuk Kalbar

Usaha Sepi, Pemilik Cafe di Pontianak Minta Pemerintah Ambil Solusi Terbaik

Hal itu dilakukan karena akibat maraknya virus corona yang semakin merambah kemana-mana

Penulis: Faisal Ilham Muzaqi | Editor: Madrosid
Tribunpontianak.co.id/Muhammad Rokib
Suasana sepi di Warkop dan Cafe Kota Pontianak, Kalbar, Rabu (25/3/2020). 

PONTIANAK - Terkait kebijakan Pemerintah Kota (pemkot) Pontianak yang saat ini sedang melakukan pengkajian tentang pembebasan pajak bagi pengelola restoran, hotel dan warung kopi atupun cafe.

Kendati demikian hal itu masih akan dilihat oleh pemkot pada enam bulan kedepan. Karena masih melakukan tahap pengkajian terlebih dahulu.

Hal itu dilakukan karena akibat maraknya virus corona yang semakin merambah kemana-mana

Menanggapi hal tersebut, salah satu owner cafe SF yang terletak di Imam Bonjol, Pontianak, Wulian mengatakan agar pemerintah bersama-sama memberikan solusi yang lebih tepat dan terbaik.

Wulian pun mengakui akhir-akhir ini memang pelanggan cafenya semakin sepi, karena kebijakan pemerintah tidak memperbolehkan warkop, cafe dan tempat keramaian lainnya menyiapkan tempat duduk bagi setiap pelanggan.

Dampak Covid -19, DJP Berikan Tenggang Waktu Pelaporan Wajib Pajak

Hanya saja pelanggan diperbolehkan membeli makanan ataupun minuman dengan dibungkus untuk dibawa pulang.

Sebenarnya, yang diperlukan pelanggan, lanjut Wulian, tidak hanya minuman ataupun makanan. Tetapi pelanggan juga memerlukan jaringan wifi gratis dari setiap warung kopi ataupun cafe.

"Memang serba salah sih, repot juga kalau ada diposisi pemerintah saat ini, cuman mohon agar diberikan solusi lain," kata Wulian kepada Tribun.

Cafe boleh saja tutup, lanjut Wulian, akan tetapi menurutnya nasib karyawan harus juga dipikirkan. Karena apabila setiap cafe tutup, tentunya semua karyawan tidak kerja.

"Kalau misalnya tutup kita masih ada lah sedikit uang untuk bertahan sementara,"

"Tapi kalau keryawan enggak kerja ya tentunya gak dapat gaji, enggak ada penghasilan, kan kasian juga kalau yang punya tanggungan, kayak kreditan hp dan motor, juga karyawan yang sudah berkeluarga punya anak," jelas Wulian.

Lebih lanjut, Wulian menuturkan apabila semua cafe tutup tentunya semua karyawan akan libur kerja meski sementara. Dari hal itu menurutnya akan mengakibatkan pengangguran.

Saat ini Wulian memiliki delapan karyawan dengan gaji yang ditanggungkannya kurang lebih Rp 2 juta perorang.

"Sedangkan untuk kepeuan lainnya masih banyak yang harus ditanggung oleh ouner cafe," kata Wulian.

"Perbulan itu saya bisa ngeluarkan uang Rp 30 juta, untuk keperluan cafe, jadi kalau kami tutup, tapi pajak tetap jalan gimana," ungkapnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved