Human Interest Story
Hendrikus Mangku Ajak Lestarikan Budaya Nenek Moyang
endrikus menceritakan titik balik, kembalinya Ia ke tanah air adalah pada awal tahun 2019
Penulis: Marpina Sindika Wulandari | Editor: Zulkifli
SEKADAU - Ikut serta dalam pendirian Yayasan Pusat Pemberdayaan Sumber Daya Ibanik (PPSDI), yang mendirikan Taman Kelempiau di Desa Tapang Semadak Kabupaten Sekadau, Hendrikus Mangku, menjadi sosok pemuda yang berharap dapat melestarikan budaya nenek moyang yang hidup berdampingan dengan alam.
Hendrikus Mangku merupakan pemuda kelahiran Sungai Gandal, Kecamatan Belitang, Kabupaten Sekadau, 17 Maret 1992.
Ia merupakan Lulus Master of Philosophy (M.Phil) dalam bidang Antropologi Linguistics dari National University of Malaysia, Kuala Lumpur.
"Pada tahun 2015-2016 bekerja sebagai staf CU Keling Kumang. Belum sampai 1 tahun berkerja, saya mendapatan tawaran kuliah S2 dari Kerajaan Malaysia," ujarnya Senin (9/3/2020)
• Jadi Primadona Baru di Kabupaten Sekadau, Inilah Keindahan Objek Wisata Taman Kelempiau
Dalam dunia pendidikan dan karir Hendrikus memiliki, kisah yang cemerlang.
Pada tahun 2016 - 2018, Ia bahkan menjabat sebagai Research Assistant atau asisten peneliti Profesor di National University of Malaysia
Dengan tugas menulis artikel atau journal, mengumpulkan data ke Lapangan dan menyelesaikan tesisnya sendiri.
"Selain itu, pada tahun yang sama 2016- 2018 saya terlibat sebagai anggota tim revitalisasi bahasa daerah di Indonesia dan Malaysia https://revolve.live/tim/ projek ini di sponsori oleh Toyota Foundation Jepang," jelasnya
Hendrikus menceritakan titik balik, kembalinya Ia ke tanah air adalah pada awal tahun 2019.
Dirinya kembali ke Indonesia dan kembali berkerja di CU Keling Kumang Group dan ikut serta dalam pendirian Yayasan Pusat Pemberdayaan Sumber Daya Ibanik (PPSDI). Yayasan ini merupakan rekomendasi Ibanik summit 1.
Yayasan itu bergerak dalam bidang penelitian bahasa dan budaya, merevitalisasi bahasa dan budaya.
"Oleh karena itu, yayasan mendirikan Taman Kelempiau.
Diharapkan taman ini menjadi pusat revitalisasi budaya dan bahasa," ucapnya
Hendrikus mencontohkan, revitalisasi budaya di taman kelempiau, adalah budaya nenek moyang dahulu bersahabat dengan alam dan lingkungan, menjaga hutan dan segala binatang yang ada di dalamnya.
Mengenal nama-nama pohon dalam bahasa lokal, merupakan satu di antara bentuk revitalisasi bahasa lokal sederhana.