4 dari 10 Balita Indonesia Alami Stunting, Ini Tips Pencegahannya dari dr Nelly Jessyca
dr Nelly Jessyca mengajak masyarakat khususnya ibu hamil di Kalimantan Barat untuk mencegah kasus stunting.
Penulis: Jovanka Mayank Candri | Editor: Jovanka Mayank Candri
4 dari 10 Balita Indonesia Alami Stunting, Ini Tips Pencegahannya dari dr Nelly Jessyca
KAYONG UTARA, TRIBUN - Dokter Umum Puskesmas Sungai Paduan, Kecamatan Teluk Batang, Kabupaten Kayong Utara dr Nelly Jessyca mengajak masyarakat khususnya ibu hamil di Kalimantan Barat untuk mencegah kasus stunting.
“Apa itu stunting? Stunting adalah suatu kondisi di mana seseorang tubuhnya lebih pendek dari standar usianya yang terjadi akibat gangguan atau hambatan pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Indonesia merupakan kontributor terbesar ke lima di dunia dalam jumlah stunting pada Balita,” ujar dr Nelly Jessyca kepada Tribun, Senin (24/02/2020).
Lima negara tersebut, kata dr Nelly yakni India, Nigeria, Pakistan, China dan Indonesia. “Prevalensi tahun 2013 sebanyak 37.2%. Artinya 4 dari 10 balita Indonesia mengalami stunting,” ungkapnya.
dr Nelly menjelaskan,ciri-ciri anak stunting antara lain pertumbuhan terhambat, performa buruk pada tes perhatian dan memori belajar, pertumbuhan gigi terhambat, wajah tampak lebih muda dari usianya, tanda pubertas terlambat.
“Stunting biasanya disebabkan karena bayi atau anak mengalami kekurangan gizi selama 1.000 hari kehidupan pertamanya. Apa itu 1000 hari pertama kehidupan? Yaitu periode kehidupan seorang bayi atau anak selama sembilan bulan di dalam kandungan (270 hari) dan dua tahun pertama setelah lahir (730 hari),” paparnya.
Menurutnya, 1000 hari pertama kehidupan ini sangat penting. “Bila periode ini tidak dilalui dengan baik, maka akibatnya terhadap kecerdasan dan kesehatan bersifat permanen, sulit untuk diperbaiki dan berpengaruh terhadap dua generasi berikutnya,” katanya.
“Apa saja akibat dan efeknya? Terjadi hambatan dalam perkembangan fisik, terjadi penurunan kecerdasan/ fungsi kognitif dan sulit berprestasi, kepercayaan diri menurun, risiko tinggi terkena penyakit infeksi , risiko tinggi menderita Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti diabetes, penyakit jantung, stroke, hipertensi,” lanjut dr Nelly.
Dikatakan dr Nelly, semua akibat tersebut akan mempengaruhi kemampuan dan prestasi anak di sekolah, kreativitas dan produktivitas di usia-usia produktif sehingga dapat menyebabkan kualitas SDM Indonesia yang rendah.
Dokter Umum Puskesmas Sungai Paduan, Kecamatan Teluk Batang, Kabupaten Kayong Utara ini mengajak ibu hamil memperhatikan asupan gizi selama masa kehamilan.
“Ibu hamil makan lebih banyak dari biasanya. Buah dan sayur, lengkap dengan lauk pauk. Mengonsumsi tablet tambah darah sebelum hamil, selama kehamilan dan selama masa nifas untuk mencegah anemia dan menjaga sistem kekebalan tubuh,” paparnya.
Ia juga menyarankan melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). “Bayi mendapatkan ASI yang penuh dengan kolostrum yang memperkuat daya tahan tubuh melawan infeksi. Gunakan garam beryodium untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan janin dan mencegah bayi lahir cacat,” paparnya.
Dijelaskannya, ASI eksklusif diberikan 0-6 bulan. Pemberian ASI hingga dua tahun bayi perlu diberikan Makanan Pendamping ASI.
Sementara untuk menanggulangi cacingan, ia meminta masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, cuci tangan pakai sabun, dan menggunakan alas kaki ketika berada di luar rumah.
Dr Nelly juga mengimbau kaum ibu memberikan imunisasi dasar pada anak. Imunisasi lengkap, lanjutnya, menjadikan anak tetap sehat untuk dirinya dan lingkungannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/cegah-stunting.jpg)