Imlek

Rute Pawai Lampion Singkawang 2020

Selanjutnya akan melewati Jalan Budi Utomo, Jalan Setia Budi, Jalan Niaga, Jalan Stasiun, Jalan GM Situt dan finish di...

Editor: Nasaruddin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/NASARUDDIN
Ilustrasi Pawai Lampion di Singkawang 

Pawai lampion yang akan digelar di Singkawang, Kamis (6/2/2020) akan dimulai sekitar pukul 18.00 WIB.

Rute pawai lampion tahun 2020 ini akan dimulai dari Kantor Wali Kota Singkawang di Jalan Firdaus.

Start dari kantor Wali Kota, peserta pawai akan menuju perempatan Jalan Diponegoro.

Selanjutnya akan melewati Jalan Budi Utomo, Jalan Setia Budi, Jalan Niaga, Jalan Stasiun, Jalan GM Situt dan finish di Gedung Happy Building.

Dalam pawai lampion, akan ada karnaval mobil hias.

Selain itu, ada berbagai tradisi lain seperti kuda lumping ada reog, barongsai, naga, drumband, paskibra dan sebagainya itu masuk di dalam kelompok pawai lampion.

Bermula di Dinasti Han

Pemerhati sejarah, Syafaruddin Usman mengungkapkan, perayaan lampion adalah perayaan pertama setelah perayaan musim semi, jatuh pada bulan purnama pertama tahun Imlek.

"Perayaan lampion mungkin berasal dari Dinasti Han dan berkembang selama Dinasti Tang dan Song, tapi tradisi tarian naga adalah warisan dari pemujaan langit pada periode Dinasti Shang dan Zhou," katanya, Minggu (26/01/2020).

"Tarian naga mengungkapkan harapan rakyat akan kedamaian dan kemakmuran," ungkap Syafaruddin Usman.

Menurutnya, orang China kuno menganggap ini sebagai hari yang sangat bagus.

Sebab ini merupakan hari yang dipenuhi doa, harapan, dan keinginan.

"Perayaan lampion adalah salah satu perayaan tradisional di China," jelasnya

"Bulan pertama kalender bulan disebut yuan, dan malamnya disebut xiao, maka hari ini juga dikenal sebagai Yuan Xiao Jie," tambahnya.

Nama perayaan lampion (deng jie), kata dia, muncul karena kegiatan utama selama perayaan ini adalah memajang lampion.

Nama lainnya adalah shang yuan, dan nama ini diambil dari kepercayaan Taoisme.

Perayaan ini dikaitkan dengan berdoa untuk kelimpahan.

Perayaan lampion selalu menjadi perayaan yang berlangsung selama beberapa hari pada pemerintahan Kaisar Huizong dari Dinasti Song.

"Beberapa malam, kaisar akan meminta pelayan melemparkan koin emas dan perak pada rakyat, dan kadang-kadang ia akan menjamu rakyat dengan arak dalam cangkir emas," katanya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved