Dosen Asal Kalbar di Cina Ungkap Tiongkok Sigap Tangani Virus Corona

Menurutnya Marvely situasi saat ini di Tiongkok sudah membaik dan tidak seperti pemberitaan yang berkembang saat ini.

Tribun Pontianak/Septi Dwisabrina
WARGA KALBAR di CINA - Warga Kalbar, Marvely Nustra, beserta istri dan anaknya saat tiba di Bandara Internasional Supadio, Kamis (30/1/2020). Marvely adalah satu di antara WNI yang bekerja sebagai dosen di Maoming University di Guangdong, Guangzhou, Tiongkok. 

PONTIANAK - Virus Corona masih menjadi perhatian seluruh dunia, bahkan di Indonesia. Berbagai upaya pengetatan pengawasan kesehatan terus dilakukan di tiga lajur, yakni darat, udara dan air. Satu di antara Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai dosen di Maoming University di Guangdong, Guangzhou, Tiongkok, adalah Marvely Nustra.

Menurut Marvely situasi saat ini di Tiongkok sudah membaik dan tidak seperti pemberitaan yang berkembang saat ini.

"Karena sedang musim Imlek, awalnya agak susah mendeteksi siapa saja yang terkena (virus corona). Ketika Kota Wuhan yang terkena virus itu sudah diisolasi, pemerintah sudah dapat mengatasi kasus tersebut. Sehingga kota-kota lain tidak begitu terpengaruh," ujarnya kepada Tribun Pontianak, saat ditemui dari Bandara Supadio, Kamis (30/1).

Marvely Nustra yang merupakan putra mantan anggota DPRD Kabupaten Mempawah, Drs Martinus Beltra, baru saja tiba di Pontianak sekitar pukul 17.10 WIB. Ia bersama istri dan anaknya take off dari Gaoqi Xiamen Airport menuju Cengkareng pada 28 Januari 2020 dalam rangka libur Imlek. Dilanjutkan ke Pontianak, Kalbar.

Marvely Nustra mengatakan karena kemajuan teknologi, pemerintah bersama petugas kesehatan di Tiongkok sudah dapat mendeteksi masyarakat yang terkena virus corona sehingga akan langsung diisolasi. "Banyak warga yang mencoba keluar dari Wuhan yang sudah diisolasi. Mereka keluar secara ilegal, tapi tetap dikejar oleh pemerintah setempat. Masih bisa dideteksi," ungkapnya.

Ketika tiba di Indonesia, Marvely tak seorang diri, ia bersama istrinya yang berasal dari Tiongkok dan juga mengajar di tempat sama dengannya. Serta bayi mungil, yang usianya belum genap setahun.

Marvely juga menyoroti beberapa foto yang beredar di internet, terlihat orang-orang tergeletak di jalan terkena wabah virus corona. Namun, ia mengatakan semua itu adalah hoaks.

"Misalnya kita kena virus itu, kita tidak ada terkena sindrom. Malahan kita langsung jatuh. Namun, yang beredar di media sosial, ketika melihat banyak yang menakuti terkait gejala yang muncul, kita pun menjadi panik," bebernya.

DiJEMPUT KELUARGA - Warga Kalbar, Marvely Nustra, beserta istri dan anaknya saat tiba di Bandara Internasional Supadio dan dijemput keluarga, Kamis (30/1/2020). Marvely adalah satu di antara WNI yang bekerja sebagai dosen di Maoming University di Guangdong, Guangzhou, Tiongkok.
DiJEMPUT KELUARGA - Warga Kalbar, Marvely Nustra, beserta istri dan anaknya saat tiba di Bandara Internasional Supadio dan dijemput keluarga, Kamis (30/1/2020). Marvely adalah satu di antara WNI yang bekerja sebagai dosen di Maoming University di Guangdong, Guangzhou, Tiongkok. (Tribun Pontianak/Septi Dwisabrina)

Pria yang berasal dari Kalbar ini menuturkan, Pemerintah Tiongkok sudah berpengalaman dalam menangani kasus kesehatan yang tengah menjadi perhatian. Ia mencontohkan, kasus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), yakni Sindrom Pernapasan Akut Berat muncul pertama kali di Provinsi Guangdong, Tiongkok, pada November 2002 lalu.

"Seperti SARS tahuh 2002 lalu, mereka sudah tahu bagaimana cara mengatasinya dan mengapa mereka lakukan isolasi, karena tidak ingin menjadi dampak yang besar. Perlu kita ketahui, pemerintah Tiongkok sudah memiliki vaksin untuk virus corona," imbuhnya.

Halaman
123
Penulis: Septi Dwisabrina
Editor: Stefanus Akim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved