BANJIR Sekadau Capai 1-1,5 Meter, 476 Keluarga Terdampak & BMKG Prediksi Potensi Hujan di Kalbar

Sebanyak 467 keluarga terdampak banjir tersebut. Dari sejumlah itu, ada tiga keluarga yang mengungsi ke Gedung PAUD terdekat.

BPBD SEKADAU/MATIUS JON
Daerah Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, dilanda banjir, Juamt (31/1/2020). Tampak petugas BPBD Sekadau sedang di lokasi untuk membantu warga. 

Banjir luapan sungai masih mengancam wilayah Kalimantan Barat. Kejadian terakhir, tiga dusun di Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, terendam banjir setinggi 1 meter-1,5 meter, Jumat (31/1/2020). Ratusan warga terdampak dan beberapa di antaranya mengungsi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sekadau, Matius Jon, Kamis (31/1/2020), menuturkan, banjir terjadi di Dusun Nanga Koman Satu, Nanga Koman Dua dan Seloak yang berada di Desa Nanga Koman, Kecamatan Nanga Taman. Banjir mulai terjadi sejak Jumat pukul 03.00.

“Banjir disebabkan hujan lebat pada Kamis (30/1/2020) malam. Akibatnya, Sungai Sekadau dan Koman meluap. Air menggenangi permukiman warga. Apalagi, lokasinya berada di dataran rendah pesisir Sungai Sekadau dan Koman. Luas daerah yang terkena banjir 44,82 kilometer persegi,” ujarnya.

Fasilitas Umum, Masjid, Sekolah Terendam Banjir di Sekadau, Kapolsek Nanga Mahap Turun ke Lokasi

Banjir Landa Kawasan Pasar Nanga Mahap, Ancaman Banjir Lebih Tinggi Jika Hujan Turun Lagi

Sebanyak 467 keluarga terdampak banjir tersebut. Dari sejumlah itu, ada tiga keluarga yang mengungsi ke Gedung PAUD terdekat. Selebihnya bertahan di lantai dua rumah mereka. Adapun daerah tersebut terpaut sekitar 200 kilometer dari Kota Pontianak.

“Ketinggian air di Sungai Sekadau terus meningkat karena banjir kiriman dari Nanga Mahap. BPBD sudah ke lokasi dan mengingatkan warga agar selalu mewaspadai ketinggian air sungai. Tim gabungan termasuk BPBD sudah ke lokasi dan memberikan sejumlah bantuan terutama kebutuhan pokok,” ujarnya.

Matius Jon menuturkan, sejak musim hujan November 2019 hingga akhir Januari, daerah-daerah tersebut sudah empat kali dilanda banjir. Daerah tersebut memang daerah rawan banjir setiap tahunnnya.

Catatan Kompas, daerah Sekadau sudah beberapa kali dilanda banjir. Bulan Desember lalu, Kecamatan Nanga Taman, tepatnya di Desa Pantok, dilanda banjir bandang. Saat itu, banjir mengakibatkan satu rumah hanyut. Ada pula rumah yang rusak berat, sedangkan puluhan rumah lain terendam.

UPDATE Banjir Bandang Bondowoso, Ketinggian Genangan Campur Lumpur Capai 60 Cm, 200 KK Terdampak

Kondisi pemukiman warga yang terendam banjir di Kecamatan Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, Jumat (31/1/2020) Humas Polres Sekadau
Kondisi pemukiman warga yang terendam banjir di Kecamatan Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, Jumat (31/1/2020) Humas Polres Sekadau (IST/Dok.Humas Polres Sekadau)

Berdasarkan pemetaan BPBD Provinsi Kalbar, tercatat seluruh kabupaten/kota di Kalbar rawan banjir. Bahkan, Desember lalu sudah ada beberapa kabupaten diterjang banjir, misalnya Melawi, Kubu Raya, dan Sambas.

Untuk itu, sejak 27 Desember hingga 31 Maret, Kalbar masih berstatus siaga darurat bencana banjir, puting beliung, dan tanah longsor. Bahkan, antisipasi akan dilakukan hingga April. Personel gabungan lintas sektor beserta perlengkapannya sudah disiagakan sejak Desember.

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Bandara Internasional Supadio Pontianak, Septika Sari, menjelaskan, satu bulan ke depan, hujan di Kalbar masih berpotensi melanda dengan kategori ringan hingga lebat. Hal itu berlaku di sebagian besar wilayah Kalbar.

Kondisi ini dipicu suhu air laut yang masih tinggi dan adanya belokan angin yang membentuk awan hujan di wilayah Kalbar.

FOTO: Diguyur Hujan Deras, Sejumlah Jalan Raya di Pontianak Terendam Banjir

Sementara itu, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalbar, Nikodemus Ale, menilai, intensitas banjir di sejumlah wilayah meningkat akibat daya dukung lingkungan yang kian menurun. Menurut dia, akar persoalannya karena persoalan lingkungan belum ditempatkan sebagai isu utama pembangunan.

Nikodemus menilai, pembangunan masih bertumpu pada sektor yang berbasis hutan dan lahan serta bersifat eksploitatif. Jika paradigma pembangunan tidak berubah, dia khawatir, ancaman bencana bakal semakin parah.

Kondisi itu diperparah fakta bahwa sebagian besar kabupaten belum memiliki kerangka penyelamatan lingkungan yang optimal. Padahal, untuk menyelamatkan lingkungan, diperlukan kemauan politik dan komitmen yang kemudian diimplementasikan melalui kebijakan.

Degradasi lingkungan itu terlihat dari tutupan hutan yang semakin berkurang. Data Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Kalbar, dari 8 juta hektar total hutan alam Kalbar, 30 persen di antaranya mengalami deforestasi.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved