Kasus DBD di Kalbar Tahun 2019 Mencapai 2783 Kasus dan 21 Meninggal
Ia mengatakan sebenarnya poging tidak tepat untuk pencegahan dan yang paling efektif itu pemberantasan sarang nyamuk.
Penulis: Anggita Putri | Editor: Maudy Asri Gita Utami
PONTIANAK - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Harrison mengatakan sepanjang tahun 2019 ada 2783 kasus DBD di Kalimantan Barat yang merenggut 21 nyawa.
Ia mengatakan kasus DBD terbanyak yang menyebabkan kematian di tahun 2019 ada di Kabupaten Ketapang yakni 5 kasus dan jumlah kejadian penyakitnya juga tinggi mencapai 707 kasus di 2019.
Sedangkan Di 2020 pada Januari sampai minggu kedua kasus DBD mencapai 45 kasus dan terbanyak masih sama yakni di Ketapang, lalu di Kubu Raya dan Kota Pontianak namun sejauh ini tidak ada yang meninggal.
“DBD meningkat biasanya pada musim penghujan dan akan meningkat pada September, Oktober, November, Desember, Januari , Februari, Maret ,April , Mei sudah mulai turun lagi biasanya,” ujarnya, Minggu (19/1/2020).
• Enam Warga Perbatasan Indonesia-Malaysia di 3 Kecamatan Kabupaten Kapuas Hulu Terserang DBD
Ia mengatakan kasus DBD biasanya berhubungan dengan musim penghujan dan banyaknya genangan air dan penampungan air yang tidak di bersihkan,serta tidak dikuras dan tidak di tutup .
Adapun pencegahan yang bisa dilakukan yakni dengan pemberantasan sarang nyamuk dan masih menggunakan metode lama seperti menguras bak air dan kemudian di tutup .
“Lalu limbah yang bisa meyebabkan genangan air bisa dikubur atau dilakuakn daur ulang. Selain itu bersihkan juga bagian Kaki meja untuk menghindari semut, belakang kulkas dan dispenser ,” ujarnya.
Ia mengatakan penyakit DBD tidak hanya menyerang tempat kumuh pokoknya ditempat penampungan yang sebenarnya adalah buatan manusia.
“Kalau dia di parit yang langsung berhubungan dengan tanah langsung ,dia tidak hidup di situ. Malah di air jernih tempat penampungannya buatan manusia,” ujarnya.
Sedangkan untuk membasmi jentik- jentik menggunakan obat abate dan masyarakat bisa minta langsung ke puskesmas.
“ Puskesmas biasanya menyediakan abate. Kalau memang ada dijual masyarakat mau beli silakan. Kalau poging biasanya fokus dilakukan di rumah penderita DBD dan diameter 100 M dari tempat kasus kita poging,” ujarnya.
Ia mengatakan sebenarnya poging tidak tepat untuk pencegahan dan yang paling efektif itu pemberantasan sarang nyamuk.
Sedangkan untuk Gejala DBD biasanya dimulai dari demam panas tinggi tidak turun, badan ngilu, sakit kepala, lesu, dan tidak mau bermain. Biasanya gawat di hari keempat dan kelima.
“Kalau tidak terdeteksi bisa terjadi pendarahan didalam. Kalau tidak tertolong bisa menyebabkan kematian. Makanya kalau lagi musim penghujan anak sedang panas petugas kesehatan biasanya mikir itu DBD baru fikir yang lain,” ujarnya.
Ia menghimbau masyarakat atau ibu- ibu jika menemukan gejala ini secepatnya dibawa ke rumah sakit, puskesmas untuk dilihat
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/kepala-dinas-kesehatan-kalbar-harrison-xccevr.jpg)