2019 Kasus Kriminalitas Pada Anak di Bawah Umur Meningkatkan di Sekadau, Se-Kalbar Ada 60 Kasus

Hal ini disampaikan langsung oleh Kapolres Sekadau AKBP Marupa Sagala dalam Release Akhir Tahun 2019 pada (31/12/2019)

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Marpina Sindika Wulandari
Kapolres Sekadau AKBP Marupa Sagala 

SEKADAU - Kasus persetubuhan dengan anak di bawah umur di Kabupaten Sekadau pada tahun 2019 mengalami peningkatan.

Total ada 10 kasus di tahun 2019, naik 8 kasus dari tahun sebelumnya di tahun 2018 yang memiliki 2 kasus UU Anak.

Hal ini disampaikan langsung oleh Kapolres Sekadau AKBP Marupa Sagala dalam Release Akhir Tahun 2019 pada (31/12/2019)

Menyikapi hal itu Kapolres Sekadau mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menangkal agar kasus serupa tidak terjadi lagi di Kabupaten Sekadau.

KPPAD Tangani 60 Kasus Anak Selama 2019, Kini Fokus Dampingi Korban dan Pelaku Kasus Audrey

"Makanya kita ajak Pemda Sekadau Tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, kepala sekolah, serta masyarakat selaku orang tua untuk dapat lebih menjaga keamanan anak-anak kita. Kita bersinergi agar kasus seperti ini tidak terjadi lagi," ujar Kapolres Sekadau

Seperti yang diketahui bersama generasi muda adalah penerus bangsa. Pemegang kekuasaan di masa yang akan datang.

Sehingga sangat penting memberikan rasa aman kepada anak dalam masa tumbuh kembangnya. 

60 Kasus Anak di Kalbar

Komisioner Komisi Perlindungan dan Penangan Anak Daerah (KPPAD) Kalbar, Alik Rosyad menjelaskan sepanjang 2019 setidaknya ada 60 kasus yang dilaporkan masyarakat pada KPPAD.

"Kasus anak yang ada di Kalbar sepanjang 2019 ini yang dilaporkan pada KPPAD ada 60 kasus, terbanyak adalah kasus kejahatan seksual dan hak asush anak," ujarnya.

Baru-baru ini kasus yang sempat menghebohkan lainnya selain kasus AU (14) juga ada kasus pencabulan oleh seorang ayah di Sungai Kakap terhadap lima anak gadisnya.

"Kasus yang dipunggur juga sudah diberikan pendampingan dimana seorang ayah mencabuli lima anak kandungnya. Hari ini kita sudah fokus mendampingi psikologi pada korban dan pendampingan lainnya,"tambah Alik.

Awalnya para korban yang merupakan anak pelaku takut dan trauma pada orangtuanya dan enggan pulang kerumah tapi setelah ayahny ditangkap dan diamankan kepolisian para korban kembali berani untuk pulang kerumah, KPPAD terus memberikan pendampingan pada mereka. 

Penulis: Marpina Sindika Wulandari
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved