Pertemuan Dua Seniman Setelah 8 Tahun Berpisah, Jusin: Sangat Bermakna dan Antusias

Saya merasakan bahwa beliau sangat menyukai dan tertarik untuk bisa menguasai seni Bian Lian dan juga filosofi didalamnya.

Tayang:
Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano | Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Sang Maestro, Didik Nini Thowok bertemu dengan Magician Jusin Clasic di acara Hitam Putih, Jakarta. 

SINGKAWANG - Jumat (12/12/2019) di lobby Hotel Swiss Belinn Singkawang, jarum jam menunjukkan pukul 20.00 wiba.

Sang Maestro, Didik Nini Thowok yang baru saja tiba di Kota Seribu Kelenteng itu memiliki agenda khusus untuk bertemu dengan sahabat lamanya di dunia seni, Jusin.

Pria kelahiran Singkawang yang sudah banyak dikenal sebagai seorang magician muda dan orang pertama di tanah air yang memainkan atraksi seni merubah wajah (Bian Lian).

Berawal dari Ririn, Manager Singkawang Grand Mall yang menjadi perantara bagaimana kedua bintang ini bertemu di sana.

Pertemuan begitu hangat dan keduanya memulai pembicaraan membahas waktu-waktu yang telah dilalui oleh dua seniman ini selama 8 tahun.

Sejak tampil bersama dalam acara Hitam Putih di Trans 7, mereka berdua sudah lost contact dikarenakan kesibukan masing-masing. Saat itu, Jusin langsung melanjutkan pendidikan ke Negeri Tirai Bambu untuk meraih gelar Bachelor of Art.

VIDEO: Sekda Hilaria Yusnani Resmikan Pusat Informasi Balai Taman Nasional Gunung Palung

Kesan pertama yang disampaikan oleh Didik Nini Thowok kepada Sang Maestro Muda Bian Lian dari Indonesia, Jusin saat itu adalah bahwa Mas Didik sudah menguasai seni merubah wajah (Bian Lian). Ia menceritakan bahwa seni Bian Lian telah ia pelajari langsung ke Negeri Tembok Raksasa pada tahun 2012.

Sang Maestro, Didik Nini Thowok bertemu dengan Magician Jusin Clasic di Kota Singkawang
Sang Maestro, Didik Nini Thowok bertemu dengan Magician Jusin Clasic di Kota Singkawang 

Mendengar penuturan sahabat baiknya itu, Jusin merasa sangat bahagia karena apa yang diimpikan sahabatnya itu ternyata telah terwujud meski tidak melalui dirinya.

“Sebelum berpisah setelah tayang bersama di acara itu (Hitam Putih), Mas Didik sempat meminta saya untuk mengajarinya seni merubah wajah (Bian Lian). Saya merasakan bahwa beliau sangat menyukai dan tertarik untuk bisa menguasai seni Bian Lian dan juga filosofi didalamnya. Namun sayang, karena singkatnya waktu dan padatnya kegiatan di antara kami, saya melewatkan kesempatan untuk mengajarinya saat itu," ungkap Jusin, pria yang juga pernah performa satu panggung dengan Shin Lim pada tahun 2015 di Tiongkok.

Pertemuan kembali kali ini juga mengingatkan kepada Jusin bahwa seharusnya mereka dapat bertemu jauh sebelumnya pada 3 tahun silam.

Dimana kala itu, Didik Nini Thowok menjadi salah satu juri pada Kontes Hakka Ako Amoi Nasional di Yogyakarta pada tahun 2016. Sementara, Jusin sebagai The First Runner Up Hakka Ako Singkawang seharusnya bisa mewakili kota kelahirannya untuk berlaga di kontes penuh gengsi di tingkat nasional pada kesempatan itu. Namun sayang, saat itu Jusin sudah harus kembali ke Tiongkok untuk melanjutkan studinya.

“Banyak yang kami bicarakan dan saya rasa every single word sangat bermakna dan kami melewatinya dengan penuh antusias”, demikian penuturan Jusin saat dimintai kesan singkatnya.

Terakhir Didik Nini Thowok juga meminta kepada Jusin untuk bertemu dengan seorang legendaris Kota Singkawang yang telah dikenal lama oleh publik sebagai Dalang Wayang Gantung, Tjhin Nen Sin. Seniman tetaplah seniman.

Didik Nini Thowok bak mendengar kabar dimana ada mustika, disanalah ia akan mencari dan menggalinya hingga ketemu.

Tak hanya untuk belajar namun juga mengenal lebih dalam asal muasal dan filosofi seni wayang gantung asal Singkawang. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved