Cerita Yeran Terpilih Wakili Kalbar Ikuti Program YSEALI 2019 Mengelilingi Amerika Serikat
Yeran Hasna Dinastia terpilih mewakili Kalimantan Barat mengikuti program "Young Southeast Asian Leader Initiative Academic
Penulis: Anggita Putri | Editor: Madrosid
Ia mengatakan karena adanya Topan Hagibis di Jepang beberapa waktu lalu, perjalanan para peserta (untuk Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Timor Leste) diperpanjang selama 5 hari dan mengunjungi satu kota lagi yaitu kota tua Alexandria di Virginia.
"Umumnya kita belajar tiga hal disana, tentang budaya, sejarah dan pemerintahan Amerika Serikat, kemudian tentang Wirausaha Sosial dan Perkembangan Ekonomi dan Kepemimpinan ," ujarnya.
Selama kuliah intensif, ia mengatakan banyak mengikuti kelas seperti seminar, workshop, diskusi panel, dan presentasi final tentang projek yang akan kita jalankan.
"Tempat yang kita kunjungi juga relevan dengan akademik objektiv tadi dan yang paling berkesan di Saya adalah ketika mengunjungi State Capitol and Legislative Building di Connecticut, Wirausaha sosial "Impact Everything" di Rhode island dan juga melakukan beberapa community service seperti Foodshare, Wish School, WAIM dan Covenant Soup Kitchen," jelasnya.
Pengalaman yang paling berkesan menerutnya ketika bisa berkunjung ke WAIM.
WAIM itu adalah komunitas sosial yang menampung barang-barang preloved. Siapa saja bisa menyumbangkan barang disitu, bisa pakaian, perabotan rumah tangga, alat elektronik sampai DVD dan nanti barang-barang ini akan disortir oleh pengurus.
"Barang-barangnya juga disusun berdasarkan lantai. Lantai paling atas itu baju-baju, lantai kedua itu perabotan rumah tangga yang kecil-kecil, sedangkan lantai paling bawah disimpan barang rumah tangga yang besar seperti kulkas, sofa dll ," ujarnya.
Jadi, siapapun bisa kesana dan mengambil barang-barang sesuai keperluan termasuk mahasiswa atau ibu rumah tangga.
Tapi, setiap orang hanya boleh belanja hanya sekali setiap bulannya. Mereka suka sebut itu dengan belanja, tapi siapapun yang belanja gak akan dipungut biaya alias gratis.
"Menurut saya konsep ini sangat berarti bagi orang-orang yang benar-benar membutuhkan. Semuanya terpusat dan terarah," ujarnya.
Melalui program ini ia bisa mengetahui perbedaan budaya, memang ia katakan sempat sulit adaptasi.
"Terutama budaya memberikan tips, berat dulu rasanya, bukan karena nominalnya tapi gak terbiasa aja. Kita kan jarang kasi tips. yang masih bikin bingung itu persenannya, misalnya kalau di hotel minimal kasi tips 10%, kalau di restoran 20%, terus kaget juga dengan biaya berobat yang nominalnya tinggi ," tandasnya.
Ia sendiri saat disana pernah sakit gigi dan berobat ke dokter gigi. Hanya periksa kemudian dan biaya berobatnya $290 dolar atau sekitar 4 juta. Nominal yang besar kalau dibandingkan dengan disini.
" Untungnya, kita peserta punya kartu asuransi kesehatan, jadi hanya membayar $25 dolar. Info yang saya dapat saat diskusi di dalam kelas adalah, orang Amerika sendiri jarang berobat karena mahalnya biaya ," ujarnya.
Kalau dari kuliner atau makanan, selama di Kampus, peserta disediakan Dining Hall. Ada 7 Dining Hall di kampus UConn, kita bebas mau makan dimana saja, 3 kali sehari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/yeran-hasna-dinastia-saat-mengikuti-program.jpg)