Mewujudkan Perdamaian Bak Melempar Kerikil ke Telaga

Kehendak baik itu berujud kekuatan kasih, persaudaraan, persahabatan, dan berpikir positif.

Mewujudkan Perdamaian Bak Melempar Kerikil ke Telaga - markus-solo-kewuta-svd-dari-kantor-dewan-kepausan-jcv.jpg
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Markus Solo Kewuta, SVD dari Kantor Dewan Kepausan Untuk Dialog Antar Umat Beragama, Vatikan
Mewujudkan Perdamaian Bak Melempar Kerikil ke Telaga - alumnus-lemhannas-ri-ppsa-xxi-am-putut-prabantoro-ygxss.jpg
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Dari Kiri-Kanan : Alumnus Lemhannas RI PPSA XXI, AM Putut Prabantoro dalam kapasitasnya sebagai Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa), Presiden Dewan Kepausan Untuk Dialog AntarAgama Kardinal Ayuso Guixot dan Markus Solo Kewuta SVD dari Kantor Dewan Kepausan Untuk Dialog AntarAgama, Vatikan, Selasa (15/10/2019)
Mewujudkan Perdamaian Bak Melempar Kerikil ke Telaga - dr-muhammad-hasan-ali-abdghaffr-dhs.jpg
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Persaudaraan Lintas Agama - Dr Muhammad Hasan Ali Abdghaffr yang menjabat sebagai Imam Masjid Di Tivoli Italia , Markus Solo Kewuta SVD dari Kantor Dewan Kepausan Untuk Dialog Antar Agama, Vatikan dan DR Ridouan asal Marokko yang menjabat sebagai Sekjed Masjid Raya Roma
Mewujudkan Perdamaian Bak Melempar Kerikil ke Telaga - vatikan-tengah-berfoto-bersama-dengan-para-pemuda-sikh.jpg
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Persaudaraan Lintas Agama - Markus Solo Kewuta SVD dari Kantor Dewan Kepausan Untuk Dialog AntarAgama, Vatikan (tengah) berfoto bersama dengan Para Pemuda Sikh

DOKUMEN ABU DHABI

Dalam kesempatan itu, Padre Marco mengingatkan akan semangat Dokumen atau Deklarasi Abu Dhabi yang ditandatangani bersama antara Pimpinan Tertinggi Gereja Katolik Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar Ahmad Al Thayyeb pada Februari 2019 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, yang mendekatkan sisi-sisi kemanusiaan dari kehidupan dalam masyakarat yang plural.

Deklarasi Abu Dhabi tentang Perdamaian itu berjudul “Documento Sulla – FRATELLANZA UMANA Per Pace Mondiale E La Convivenza Comune” atau “Sebuah Dokumen tentang– Persaudaraan Umat Manusia Untuk Perdamaian dan Hidup Bersama”.

Dokumen yang bersejarah ini diterjemahkan dalam 7 bahasa termasuk Inggris, Arab, Jerman, dan Italia.

Menurut Padre Marco, Deklarasi Abu Dhabi merupakan sebuah dokumen yang memiliki makna propetis atau kenabian.

Artinya, deklarasi ini memuat hal-hal yang merupakan batu sandungan di dalam perjalanan umat manusia menuju masyarakat yang damai, adil dan makmur secara kasat mata.

“Bantu sandungan itu dimuat secara sangat jelas atau nyata meskipun terasa sangat menyakitkan tetapi sekaligus ingin mengingatkan kepada umat manusia justru itulah masalah-masalah yang harus ditelusuri bersama secara jujur dan dicari makna dan solusinya secara bersama-sama pula,” ujar Padre Marco.

Ditambahkannya, “Kita harus bekerja sama mendorong dan memajukan budaya persabatan, budaya pertemanan, budaya dialog, dan budaya perdamaian. Semua itu harus menjadi budaya. Sesuatu menjadi budaya kalau dilakukan secara teruus menerus. Ini yang diharapkan dari setiap masyarakat Indonesia. Tanpa hal itu intoleransi akan bertambah besar dan orang akan semakin takut hidup berbangsa dan bernegara.”

Ia menilai rakyat Indonesia secara internal saat ini tengah ditantang rasa kerukunan dan rasa kesatuannya sebagai sebangsa se-Tanah Air yang sudah mulai goyah, mengalami ketidakpastian.

Dengan berbagai peristiwa kekerasan, seperti terakhir menimpa Menko Polhukam Wiranto, menurut dia, turut mendukung rasa ketidakpastian di dalam relasi antarmasyarakat.

Orang jadi takut dan waswas satu sama lain, selalu curiga yang sebenarnya hal itu tidak boleh terjadi.

Kepada masyarakat Indonesia, Padre Marco berharap, untuk lebih berpikir waras dan lebih bijak dalam menyerap berita, menerima doktrin dan menyikapi pengaruh yang mugkin pada akhirnya menjatuhkan kehidupan berbangsa.

Pasalnya, ia melihat gejala-gejala dan alur yang sama dari negara-negara yang sudah hancur, kini tengah dialami Indonesia.

“Alur di negara kita seperti itu, tentu kita tidak mau sampai ke sana (hancur). Karena itu kita harus bekerja sama mencegah hal itu dengan terus menjaga dan meningkatkan kerukunan, persatuan, perhabatan, demi perdamaian,” ujarnya.

Sebaliknya bagi mereka yang merasa tidak puas dengan keadaan yang ada, Padre Marco mengimbau mereka untuk menggunakan jalur-jalur konstitusi yang sudah ada.

“Sampaikan aspirasi melalui jalur konsitusi. Kalau menggunakan hukum rimba nanti akan chaos. Kita tidak mau hal itu terjadi,” pungkasnya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved