Breaking News

Proyeksi Dampak Pengelolaan Danau Berbasis Masyarakat Capai Ratusan Juta Pertahun

Hipotesis itulah yang dibangun oleh tim yang meneliti status mutu air di empat danau lindung di Kabupaten Sintang.

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Madrosid
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Dedi Wahyudy, Forest Coordinator-Hulu Kapuas Landscape WWF Indonesia. 

Proyeksi Dampak Pengelolaan Danau Berbasis Masyarakat Capai Ratusan Juta Pertahun

SINTANG - Jika status mutu air danau meningkat, maka populasi ikan akan meningkat pula.

Hipotesis itulah yang dibangun oleh tim yang meneliti status mutu air di empat danau lindung di Kabupaten Sintang.

 
Dari hipotesa di atas, tim gabungan yang terdiri dari WWF Indonesia, Faperta Untan, LH dan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Sintang menilai perlu dibangun baseline status mutu air danau, sebagai bahan Monitoring, Evaluation, And Learning (MEL).

Data-data MEL tersebut idealnya menjadi dasar manajemen bagi para pihak dalam mengelola danau secara berkelanjutan di Kabupaten Sintang. 

Baca: Berikut Struktur, Komposisi, dan Personalia DPD ICDN Kabupaten Sekadau Tahun 2019-2024

Baca: Golkar Kalbar Utamakan Kader di 3 Daerah Ini Untuk Pilkada 2020

Baca: Bupati Jarot Keluarkan SK Status 12 Danau Lindung

 
“Jika kualitas status mutu air danau membaik, maka populasi ikan akan meningkat. Jika populasi ikan meningkat maka masyarakat sekitar danau bisa selalu menangkap ikan di zona pemanfaatan, untuk konsumsi sehari-hari maupun dijual,” kata Dedi Wahyudy, Forest Coordinator-Hulu Kapuas Landscape WWF Indonesia.

 
Lalu apa yang didapat oleh lembaga pengelola danau? “Melalui pemanfaatan yang terbatas, Lembaga Pengelola dapat memanen ikan (panen raya) di zona inti setiap satu atau dua tahun sekali. Lembaga pengelola juga dapat mengelola danau untuk kepentingan ekowisata, memancing maupun penelitian,” beber Dedi.

 
Selain menguji mutu air danau, tim juga melakukan proyeksi dampak pengelolaan danau berbasis masyarakat jika pengelolaan ikan tangkap di zona inti oleh Lembaga Pengelola Danau, dengan asumsi status mutu air berada di kelas I.

 
“Jika dalam satu tahun panen raya mendapatkan 5 ton ikan konsumsi, lembaga pengelola danau mendapatkan Rp 150 juta setiap tahun. Itu belum dari sisi pengelolaan danau ekosiwatanya bisa mencapai Rp 30 juta pertahun valuasinya,” beber pria yang kerap disapa Uju Deder ini.

 
Menurut Deder, proyeksi sederhana ini tentu masih sangat tentative hasilnya, sesuai dengan variable social, ekonomi, lingkungan serta kebijakan yang berkembang.

“Selanjutnya kerja-kerja kolaborasi multi pihak masih sangat diperlukan untuk mendukung tata kelola danau-danau sebagai salah satu sumber daya alam untuk ketahanan pangan sektor perikanan khususnya, dan pembangunan yang berkelanjutan di Kabupaten Sintang pada umumnya,” harap Deder. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved