Wawancara Eksklusif

Darwis: Pikiran Jokowi Sedang Berat

Hasilnya sungguh maksimal. Darwis Triadi berhasil menunjukkan karakter seorang Joko Widodo melalui kameranya.

Tayang:
Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Fotografer Darwis Triadi 

Darwis: Pikiran Jokowi Sedang Berat

PONTIANAK - Fotografer Darwis Triadi dipilih memotret Presiden dan Wakil Presiden terpilih Joko Widodo dan Maruf Amin.

Foto-foto karyanya akan digunakan oleh negara untuk dipajang di setiap kantor pemerintahan dan acara kenegaraan.

Sesi pemotretan ini dilakukan di Istana Merdeka, Jakarta beberapa hari sebelum pelantikan Jokowi dan Maruf, Minggu (20/10/2019) besok.

Darwis hanya memiliki waktu 30 menit untuk memotret mereka berdua.

Sebelum pemotretan, Darwis Triadi melihat Joko Widodo sedang memiliki pikiran yang berat. Oleh karena itu, Darwis berusaha membuat Jokowi rileks sebelum pemotretan. Darwis memilih berbincang ringan dengan orang nomor satu di Indonesia tersebut.

Hasilnya sungguh maksimal. Darwis Triadi berhasil menunjukkan karakter seorang Joko Widodo melalui kameranya.

Darwis Triadi menceritakan pengalamannya tersebut kepada wartawan Tribun Network Dennis Destryawan di Darwis Triadi School of Photography di Jakarta, Jumat (18/10). Berikut ini petikan wawancaranya.

Tribun: Bagaimana awal mula Anda menjadi official photographer Presiden RI Joko Widodo?

Darwis: Sebetulnya, pertama kali waktu bikin profile Beliau untuk kampanye Pilpres. Dari situlah saya dipanggil untuk memotret.

Kebetulan waktu itu yang kontak saya Pak Triawan Munaf (kepala Badan Ekonomi Kreatif, red).

Mungkin Beliau (Joko Widodo, red) tidak tahu nomor saya, kebetulan Pak Triawan tahu lalu kontak.

Di situlah saya motret Bapak dengan Pak Kiai (Maruf Amin, red). Sejak saat itu saya diminta lagi untuk bikin profile photo-nya sampai dua kali, untuk keperluan kampanye Beliau.

Kemudian juga untuk buku Jokowi Menuju Cahaya karya Alberthiene Endah. Setelah saya memotret Bapak, mungkin terjadi sebuah kecocokan.

Saya kan memang seorang profesional, jadi kalau ada setiap hal yang saya kerjakan, akan saya kerjakan secara maksimal.

Ada satu hal yang kalau saya tarik ke belakang, saya selalu berpikir begini, saya melihat foto Bapak, dulu, yang setelah Beliau dilantik pada 2014 banyak terpajang. Dalam hati saya berpikir,

"Ini foto Bapak, kok karakternya tidak keluar." Saya berpikir begitu. Saya ini tahu bagaimana teknis lighting, saya fotografer portrait, jadi saya mempelajari itu.

Jadi, kalau ada teknis yang tidak tepat, saya hanya bilang, "Ketidaktepatan menggunakan cahaya membuat karakter jadi sulit keluar."

Kedua adalah bagaimana meng-capture sebuah karakter yang betul-betul mencerminkan apa yang ada di dalam figure tersebut. Tidak mudah memang, tapi kalau kita sudah tahu, ya gampang. Itu saja persoalannya.

Setelah saya dipanggil, kok apa yang saya pikir, saya impikan, ternyata terealisasi. Jadi saat saya motret Bapak berkampanye, saya hanya berpikir mudah-mudahan saya motret untuk official fotonya karena buat saya sebuah foto official kenegaraan itu merepresentasikan ke luar negeri, tidak hanya di dalam negeri.

Baca: PREDIKSI PS Tira Vs Bhayangkara FC LIVE Indosiar Shoppe Liga 1 18:30, Paul Munster : Laga Adik-Abang

Di luar negeri harus, "Ini kepala negara gua." Itu yang terpenting. Jadi, kalau kita lihat foto-foto kepala negara di luar, itu gagah sekali. Mungkin karena yang motret orang yang paham.

Bukan berarti di sini tidak paham, tapi mungkin secara detail kurang paham. Memotret itu sebetulnya bukan hanya masalah teknis.

Kalau teknis bisa kita pelajari. Soal teknis, saya rasa agak sedikit orang yang paham mengenai itu. Jadi, itulah yang sebetulnya.

Tribun: Bagaimana proses Anda menjadi official photographer?

Darwis: Karena memang Bapak sebelumnya bilang, "Kalau waktunya tepat, kita motret lagi."

Saya memang mempersiapkan diri untuk itu. Sebetulnya persiapan tidak harus secara ini juga karena saya sudah tahu kira-kira kebutuhannya seperti ini.

Tinggal saya selalu berpikir bagaimana saat saya memotret saya bisa berkomunikasi secara prima dengan Bapak dan Pak Kiai.

Tribun: Berapa lama proses pemotretan Jokowi dan Maruf Amin?

Darwis: Tiga puluh menit, tapi sebelumnya saya sempat ngobrol dengan Bapak selama tiga sampai lima menit. Sebetulnya saya mengobrol hanya untuk menetralkan.

Saya bicara yang rileks saja, tidak bicara yang berat-berat. Saya utarakan hal-hal sederhana yang bisa bikin Bapak senyum. Itu saja. Supaya rileks saat difoto. Intinya cuma itu.

Saya tahu waktu saya memotret situasi pikiran Bapak sedang berat. Kalau kita lihat tiga minggu lalu, situasinya seperti itu. Buat saya itu adalah suatu momentum mukjizat yang luar biasa.

Saya sempat khawatir tidak dapat ekspresi yang baik. Sebetulnya harus rileks. Bapak terbebani begitu berat.

Baca: Suryati Ajak Masyarakat Daftar dan Buktikan Manfaat Program JKN-KIS

Baca: Jelang Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden, Kapolres Ajak Seluruh Masyarakat Jaga Kondusifitas

Nah, bagaimana caranya saat memotret, bisa hilang. Ternyata saat itu Bapak, luar biasa, bisa begitu.

Saya mengarahkan sedikit, Bapak lepas dan saya mendapatkan momentum satu sampai dua menit itu.

Sisanya Bapak kembali ke pemikiran masalah-masalah yang begitu berat, yang memang harus dia jalankan.

Bapak memang sosok pemimpin yang luar biasa dalam kondisi seperti itu saya masih bisa memotret.

Itu yang membuat saya salut kepada Beliau dan rileks. Bisa dilihat dari behind the scene.

Behind the scene itu saya buat untuk memperlihatkan sosok kepala negara kita, sosok pemimpin kita pada situasi seperti itu, bisa menjalaninya secara rileks.

Jika saat itu saya gagal berkomunikasi, fotonya pasti tidak bagus. Kalau tidak bagus, jadinya tidak bagus saat dipajang. Itu persoalannya. 

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved