Pembuat Gula Aren Berharap Adanya Bantuan dalam Pemasaran Produk
Karena persediaan di tempat penampungan masih banyak dan terpaksa gula aren tersebut disimpan dirumah.
Penulis: Marpina Sindika Wulandari | Editor: Jamadin
Pembuat Gula Aren Berharap Adanya Bantuan dalam Pemasaran Produk
SEKADAU- Menjadi satu diantara pembuat gula aren atau gula botong dari Desa Semabi, Kecamatan Sekadau Hilir, Abdul Dani (41) berharap adanya tempat penampungan hasil produksi dan dibantu proses pemasaran oleh pemerintah.
Dani biasa disapa, saat ditemui di rumahnya, Senin (14/10/2019). Usai membuat gula aren mengaku terhitung 20 tahun lamanya ia menjadi pembuat gula aren di Desa Semabi tersebut.
Dan permasalahan yang selalu didapatkan tetap sama yakni susahnya menjual hasil produksi. Dani pun menceritakan dirinya sempat mengalami kerugian lantaran gula aren yang diproduksi tidak dapat di pasarkan.
Baca: Jadwal Penutupan Jembatan Kapuas II, Serta Perkiraan Estimasi Waktu Pengerjaan
Baca: Berlakukan Buka-Tutup, Antrean Kendaraan di Penyeberangan Feri Normal
Karena persediaan di tempat penampungan masih banyak dan terpaksa gula aren tersebut disimpan dirumah. Sehingga gula aren yang ia produksi pun akhirnya rusak.
Meski begitu Dani mengaku tetap akan menjadi pembuat gula aren, karena menurutnya tidak sembarang orang yang dapat memproduksi gula tersebut.
Ia pun mengharapkan perhatian pemerintah, tidak hanya dalam memenuhi keperluan alat untuk membuat gula tetapi juga dalam proses pemasaran.
"Ya keinginannya saya dan pembuat gula aren lainnya. Kami di bantu untuk penjualan gula aren ini. Karena jarak dari desa ke seberang juga cukup jauh. Dan biasanya hasil produksi kami hanya bisa di jual di pasar. Harapan kami agar gula aren ini juga bisa di jual di toko-toko besar. Kalau bisa keluar kota. Jadi kami pun memproduksi gula aren ini tidak akan takut kalau nantinya hasil produksi kami tidak terjual," ujarnya menggunakan bahasa daerah Kabupaten Sekadau.
Ia pun menjelaskan secara garis besar proses pembuatan gula aren yang masih tradisional.
Pertama, sebelum mengambil air dari pohon aren selama14 hari atau lebih dalam satu bulan dilakukan proses pemukulan dengan irama tertentu.
Baca: Jadwal Penutupan Jembatan Kapuas II, Serta Perkiraan Estimasi Waktu Pengerjaan
Setelah dipukul, kemudian lengan-lengan pohon aren di ayun hingga lentur. Proses ini dilakukan dengan tata cara adat petani aren, yang tidak sembarang dilakukan.
Setelah itu bunga atau mayangnya di potong. Dilanjutkan dengan mengelap air yang keluar dari batang sebanyak 3 kali, hal itu untuk melihat apakah air pohon enau atau aren itu banyak atau tidak.
Setelah di potong lengannya, didiamkan minimal selama 2 hari dan setelah itu diperiksa sebanyak apa sagunya.
Dalam proses pengambilan air, petani aren akan menyanyikan sebuah lagu, yang disebut bepomang.
Sedangkan proses pemasangan tangga untuk naik ke atas pohon dilakukan saat mulai mengayun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/abdul-dani-gula-aren.jpg)