Hadiri FGD, Aswandi: Berdasarkan Penelitian Bara Konflik Antar Etnis Masih Ada di Kalbar

Jadi Bhineka tunggal ika ini modal untuk kita maju , tapi kenapa sampai hari kita tak maju karena keberagaman yang masih sifatnya semu

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ANGGITA PUTRI
Foto saat Focus Group Discussion mengangkat tema " Merajut Harmonisasi Keberagaman Di Bumi Khatulistiwa Dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia" yang berlangsung di Ruang Rektoran Untan, Selasa (15/10/2019). 

Hadiri FGD, Aswandi: Berdasarkan Penelitian Bara Konflik Antar Etnis Masih Ada di Kalbar

PONTIANAK - Universitas Tanjungpura menggelar Focus Group Discussion mengangkat tema " Merajut Harmonisasi Keberagaman Di Bumi Khatulistiwa Dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia" yang berlangsung di Ruang Rektoran Untan, Selasa (15/10/2019).

Wakil Rektor I Universitas Tanjungpura, Dr Aswandi mengatakan bahwa keberagaman memang sudah menjadi fitrah yang tidak bisa ditolak keberadaannya sejak manusia di lahirkan.

Selain itu bahwa dari perkembangan peradaban manusia ini ternyata mereka yang hebat dan maju serta berkembang pesat adalah mereka yang merasa nyaman dan bahagia di dalam keberagaman.

"Jadi Bhineka tunggal ika ini modal untuk kita maju , tapi kenapa sampai hari kita tak maju karena keberagaman yang masih sifatnya semu. Kita tidak bisa membagunnya dengan membuat tembok kita tidak bisa menjadi hebat dengan membuat tembok. Jadi kita harus mendekati orang yang membangun jembatan artinya diantara kita harus masih saling berdialog," jelasnya.

Ia sebagai orang suku Melayu merasa tergantung juga dengan suku lainnya dan juga harus bertanggung jawab dan berusaha menjadi orang baik.

Baca: Apresiasi Puskesmas Raih Akreditasi Paripurna, Ini Pesan Tokoh Mahasyarakat Putussibau

Baca: Raih Akreditasi Paripurna, Ini Penjelasan dari Puskesmas Putussibau Utara

"Jembatan itu ibarat komunikasi. seperti melalui Forum komunikasi antar umat beragama itu ada. Tapi setelah saya amati itu belum berjalan dengan sangat efektif ," ujarnya.

Ia mengatakan hal itu hanya insidentil saja yang sering terjadi di permukaan dan seolah ada tapi tidak terlalu efektif dan tidak menyatu.

"Hal itu ada di di masyarakat kita yang merasa eksklusif. Selama itu ada saya tidak yakin kita bisa harmonis di dalam etnis," ujar Aswandi.

Ia mengatakan di Kalbar sendiri masih ada yang seperti itu karena pernah dilakukan penelitian dan bara konflik itu memang ada.

"Lihat saja ketika pemilihan kepala daerah orang pada berpolarisasi berkotak-kotak . Hubungan antar etnis diantara kita sebenarnya tidak harmonis. Caranya bagaimana ciptakan multikultur education tapi tidak dilakukan bagaimana menyatukan keberagaman ini melalui pendidikan," ujarnya.

Dulu para siswa di sekolah belajar mengenai suku bangsa. Namun lihat sekarang tidak lagi belajar hal seperri itu.

"Jadi banyak yang sudah ditinggalkan dan pendidikan multikultural tidak berjalan dan itu sangat mengkhwatirkan," pungkasnya.

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak

Penulis: Anggita Putri
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved