WWF Gelar Workshop Best Management Practices, Pelaku Usaha Sepakat Lindungi Bekantan Kubu Raya

Bahkan, International Union for the Conservation of Nature (IUCN) menempatkan bekantan sebagai spesies langka.

WWF Gelar Workshop Best Management Practices,  Pelaku Usaha Sepakat Lindungi Bekantan Kubu Raya
TRIBUN PONTIANAK/WWF Indonesia di Pontianak
Para pemangku kepentingan konservasi lingkungan mengikuti workshop bertajuk Membangun Manajemen Konservasi Bekantan Melalui Pendekatan Best Management Practices (BMP) yang dihelat WWF-Indonesia di Pontianak, 25-26 September 2019. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Agus KPI

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, TRIBUN - Penurunan populasi bekantan (Nasalis larvatus) semakin mengkhawatirkan. Alih fungsi lahan, perburuan liar, dan kebakaran hutan merupakan beberapa penyebab primata endemik Borneo ini perlu segera mendapatkan konservasi.

Bahkan, International Union for the Conservation of Nature (IUCN) menempatkan bekantan sebagai spesies langka.

World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia Kalbar malah memperkirakan adanya indikasi penurunan populasi Bekantan sebanyak 50 persen sejak tahun 2015 hingga pertengahan tahun 2019 di wilayah Kubu Raya.

Untuk itulah, WWF Kalbar menggandeng para pengusaha dan pemangku kepentingan konservasi lingkungan untuk Membangun Manajemen Konservasi Bekantan melalui pendekatan Best Management Practices (BMP). Pertemuan berupa workshop yang dihelat WWF-Indonesia ini berlangsung 25-26 September 2019, di Hotel Ibis Pontianak.

Hasilnya, para pemangku kepentingan di bidang konservasi bekantan tersebut bersepakat melindungi habitat satwa endemik Kalimantan ini itu melalui pendekatan BMP.
Sedikitnya ada empat pelaku usaha yang menyatakan komitmennya. Antara lain PT Kandelia Alam, PT Bina Silva Nusa, PT Ekosistem Khatulistiwa Lestari, dan PT Wana Subur Lestari.

Denis Wara Hermiandra, dari PT Ekosistem Khatuliswa Lestari (EKL) menyatakan dukungannya untuk melindungi bekantan secara kolaboratif.

"Pola pengelolaan lahan berbasis lanskap seperti ini sangat tepat diterapkan mengingat satu perusahaan dengan perusahaan lainnya saling terkoneksi. Ini menjadi salah satu instrumen para pihak dalam mengelola sebuah kawasan secara berkelanjutan," kata Dennis, Jumat (27/9).

Baca: Pencopotan Kapolda Riau karena Gagal Atasi Kabut Asap Karhutla? Begini Penjelasan Kabid Humas

Baca: Menkumham Yasonna Laoly Minta Maaf ke Jokowi, Pamit Mundur sebagai Menteri

Menurut Dennis, konsesi Ekosistem Katulistiwa Lestari (EKL) terbentang di dua kecamatan di Kubu Raya, yakni Kubu dan Batu Ampar. Wilayah perusahaan restorasi ekosistem ini didominasi nipah.

"Hasil survey menunjukkan ada sekitar 97 ekor bekantan hidup di konsesi ini," ungkapnya.

Halaman
12
Editor: Didit Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved