Di Tengah Meluasnya Aksi Demo, Rupiah 5 Hari Berturut Alami Pelemahan, Bagaimana Dampak ke Ekonomi?

Di Tengah Meluasnya Aksi Demo, Rupiah 5 Hari Berturut Alami Pelemahan, Bagaimana Dampak ke Ekonomi?

DOK/TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA
Di Tengah Meluasnya Aksi Demo, Rupiah 5 Hari Berturut Alami Pelemahan, Bagaimana Dampak ke Ekonomi? 

Di Tengah Meluasnya Aksi Demo, Rupiah 5 Hari Berturut Alami Pelemahan, Bagaimana Dampak ke Ekonomi?

JAKARTA  - Di tengah meluasnya berbagai aksi demonstrasi di tanah air, nilai tukar rupiah terus tertekan di hadapan dollar Amerika Serikat (AS).

Mengutip Bloomberg, Jumat (27/9/2019), pukul 11.05 WIB, rupiah melemah 0,21 persen ke level 14.195 per dollar AS.

Ini merupakan pelemahan rupiah lima hari berturut-turut.

Sementara itu, rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI ada di Rp 14.197 per dollar AS, melemah 0,25 persen dibanding sehari sebelumnya yang ada di Rp 14.162 per dollar AS.

Baca: JOKOWI Bungkam Soal Penangkapan Aktivis Ananda Badudu & Dandhy Dwi Laksono, Pratikno Jawab Singkat

Analis Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar menilai kurs rupiah bisa terus turun hari ini bila kondisi politik dalam negeri tetap ricuh.

"Rupiah bisa berlanjut melemah bila pemerintah tidak menyampaikan komentar yang bisa membuat suasana dalam negeri lebih kondusif dan nyaman bagi investor," kata Deddy, kemarin.

Dampak Demo ke Ekonomi

Gelombang aksi unjuk memang rasa terus melanda beberapa kota di Indonesia.

Bagaimana dampak aksi demonstrasi mahasiwa ini terhadap perekonomian Indonesia?

Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Fajar B. Hirawan menilai aksi tersebut tidak akan berpengaruh signifikan terhadap ekonomi RI.

Baca: DITUNDA Dua Laga Liga 2, PSMS Medan Vs BaBel United Akibat Demo, PSPS Riau vs PSGC Kabut Asap

"Hingar bingar politik seperti ini pun bukan kali pertama terjadi di Republik ini dalam kurun waktu satu tahun terakhir," katanya seperti dikutip dari Antara, Jumat (27/9/2019).

Menurut dia, sebagai negara yang menganut paham demokrasi, Indonesia sudah selayaknya terbiasa dengan aksi-aksi unjuk rasa apalagi ada payung hukum terkait kebebasan berpendapat di tempat umum.

Fajar mengatakan, kondisi seperti itu sudah menjadi pemandangan lumrah bagi para pengusaha dan investor.

Sementara mengenai nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang melemah, dia menyebut, masih dalam batas wajar dan tidak perlu dikhawatirkan.

Baca: FOTO : Jakarta Travel Fair 2019

"Dalam hal ini, BI tidak perlu melakukan tindakan apa pun karena untuk menarik investasi, BI telah menurunkan suku bunga acuan," sebutnya.

Sebelumnya BI telah menurunkan BI seven days reverse repo rate sebesar 25 basis poin dari 5,50 menjadi 5,25 persen.

Sedangkan, Direktur Asian Development Bank (ADB) untuk Indonesia Winfried F Wicklein menyebut, pihaknya belum bisa memperkirakan hal itu karena belum memasukkan variabel dampak aksi massa terhadap pertumbuhan ekonomi hingga 2020 mendatang pada Outlook 2019.

Sehingga kata dia, terlalu dini rasanya memproyeksi sejauh apa aksi massa akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dalam iklim investasi.

"Terlalu dini untuk kita bisa proyeksi karena kami belum memasukkan variabel dalam analisis tahun 2019," kata Winfried F Wicklein di Jakarta, Rabu (25/9/2019).

Baca: Sempat Viral, Mahasiswa yang Turunkan Foto Jokowi Ditetapkan Tersangka, Begini Kronologis Kasusnya

Dalam laporan Asian Development Outlook 2019, Wicklein menuturkan pertumbuhan ekonomi Asia memang tengah melambat seiring dengan melemahnya laju investasi dan perdagangan sebelum ada demonstrasi.

Indonesia sendiri, pertumbuhan ekonominya melambat dari 5,2 persen tahun 2018 menjadi 5,1 persen di tahun 2019. Perlambatan ini terjadi karena melemahnya investasi domestik dan ekspor.

Sementara di Asia Tenggara, pertumbuhan ekonomi diproyeksi 4,5 persen tahun 2019 dan 4,7 persen pada tahun 2020 secara keseluruhan.

Kendati demikian, pertumbuhan investasi bisa didorong dengan memperbaiki sistem investasi seperti perizinan dan segelintir masalah lain sehingga mempermudah masuknya investasi ke Indonesia.

Baca: Jokowi Berubah Usai Dua Kali Kukuh Tolak Batalkan UU KPK Hasil Revisi, Ini yang Membuatnya Melunak

Dia bilang, hal tersebut mesti segera dibenahi secara signifikan agar pertumbuhan ekonomi di tahun depan bisa terus terkendali bahkan meningkat dari perkiraan.

"ADB sangat menyarankan pemerintah untuk segera memperbaiki sistem, termasuk manajemen keuangan publiknya. Ini akan sangat positif menyaring investor domestik maupun asing," jelas dia.

(*)

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved