Ratusan Warga Tionghoa Ikut Ritual Bakar Kapal Wangkang, Ini Makna dan Sejarahnya

Yang tadi rebut, yang isi dikapal, itu bekal mereka buat perjalanan kenegeri cina sana, soalnya jaman dulu itu

Ratusan Warga Tionghoa Ikut Ritual Bakar Kapal Wangkang, Ini Makna dan Sejarahnya
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Ketua Panitia Pelaksana, Ahok Angking saat ditemui awak media di lokasi ritual Bakar Kapal Wangkang, Kamis (15/8/2019) i 

Ratusan Warga Tionghoa Ikut Ritual Bakar Kapal Wangkang, Ini Makna dan Sejarahnya

KUBU RAYA- Masyarakat Tionghoa, khususnya penganut Konghucu di wilayah Kalimantan Barat Khususnya Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya hari ini melakukan ritual penutupan Sembahyang Kubur dengan menggelar puncak ritual bakar kapal Wangkang yang sebelumnya di dahului dengan ritual sembahyang rampas atau sembahyang rebut.

Kegiatan ritual Bakar Kapal Wangkang yang di gelar di lapangan komplek pemakaman Yayasan Bhakti Suci, yang terletak di jalan Adisucipto, Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya ini diikuti boleh ratusan masyarakat Tionghoa.

Ketua panitia pelaksana Ahok Angking menjelaskan bahwa pembakaran replika kapal ini bermakna untuk mengantarkan para arwah untuk menuju akhirat / Nirvana.

Baca: Prihatin! Masih Ada Tempat Usaha di Ketapang belum Memasang Bendera Merah Putih

Baca: Sultan Hamid II Gagal Raih Gelar Pahlawan Nasional, Donny Iswara Sampaikan Hal Ini

Ritual pembakaran Replika Kapal ini sendiri dilaksanakan sekali dalam setahun, setiap bulan 7 tanggal 15 penanggalan Imlek pada masa sembahyang kubur, sementara untuk ritual sembahyang kubur dilaksanakan 2 kali dalam setahun yakni di bulan 3 dan bulan 7 kalender Imlek.

Ahok menceritakan bahwa dahulu kala Replika Kapal yang di bakar ini merupakan sebuah kapal Sungguhan yang mengantarkan warga masyarakat Tionghoa dari negeri asalnya berlayar hingga ke Indonesia, dan untuk saat ini prosesi bakar replika kapal ini juga untuk mengenang jasa dari Kapal ini selain bermakna mengantar kan arwah ke akhirat.

"Caritanya ya, jaman dulu sebetulnya ini kapal ini ada tulisan 3 huruf itu (sembari menunjuk replika kapal) itu namanya Khuang Sun Heng, jadi memang itu memang asli kapal yang dari Cina bolak balik ke Indonesia, bolak balik mengangkut orang ke sini ke pontianak ini, jadi kapal ini udah ratusan tahun jaman Belanda, dan sekarang tinggal mengenang aja"ungkapnya.

"jadi dalam budaya Tionghoa ini tetap mengingat leluhur, leluhur jaman dulu menggunakan kapal ini untuk bolak balik, bolak balik, dari negeri Cina kesini. Jadi sekarang replikanya ini untuk mengangkut arwah,"imbuhnya.

Kemudian, terkait sembahyang rampas / rebut, ia mengatakan hal tersebut juga memiliki makna pada jaman dahulu kala dalam perjalanan dari Cina menuju Indonesia menggunakan kapal di butuhkan bekal yang banyak, sehingga di maknai berbagai makanan yang ada merupakan bekal bagi para arwah.

"Yang tadi rebut, yang isi dikapal, itu bekal mereka buat perjalanan kenegeri cina sana, soalnya jaman dulu itu, kapal itu bisa berbulan baru nyampai, jadi persediaan makanan mesti banyak, Ndak kayak sekarang lah pesawat aja sebentar. Jadi ini adalah juga melanjutkan tradisi," terangnya.

Penulis: Ferryanto
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved