Citizen Reporter

Tradisi 17 Agustus Dalam Tinjauan Ushul Fiqh

Hal ini memang perlu dilakukan demi menanamkan jiwa-jiwa nasionalisme didalam diri warga Indonesia.

Tradisi 17 Agustus Dalam Tinjauan Ushul Fiqh
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / FILE
Lomba Panjat Pinang dalam rangka Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun lalu 

Citizen Reporter

Alumni Ma’had Aly situbondo, Dosen Agama Politeknik Negeri Pontianak, Farida Asy’ari

PONTIANAK- Sekarang kita sudah memasuki bulan agustus, dan sebentar lagi kita akan memperingatinya. Kita tahu bahwa Hari 17 Agustus merupakan Sesuatu yang tidak asing lagi bagi satu masyarakat karena telah menjadi kebiasaan dan menyatu dengan kehidupan baik berupa perbuatan maupun perkataan yang selalu digaungkan tiap tahunnya.  

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa di tanggal 17 agustus itu Para pejuang dan pahlawan bangsa beradarah-darah mempertaruhkan segala jiwa dan raganya supaya Nusantara ini terbebas dari penjajahan, merdeka! Kita bisa bekerja, sekolah, beribadah dan berbuat segala sesuatu dengan tenang setelah kemerdekaan itu diraih.

Namun masih ada yang berpendapat dikalangan masyarakat bahwa kegiatan 17 agustus baik itu dengan cara memperingati ataupun mengucapkan selamat hari kemerdekaan dikatakan bid’ah.

Kita tahu pada dasarnya, syariat Islam dari masa awal banyak menampung dan mengakui adat atau tradisi itu tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. 

Kedatangan Islam bukan menghapuskan sama sekali tradisi yang telah menyatu dengan masyrakat. Tetapi secara selektif ada yang diakui dan dilestarikan serta ada pula yang dihapuskan.

Para ulama ushul fiqih membagi ‘Urf  kepada tiga macam yaitu:
1. Dari segi objeknya, ‘urf dibagi kepada, al-‘urf al-lafzi ( kebiasaan yang menyangkut ungkapan yakni: kebiasaan masyarakat dalam mempergunakan lafal atau ungkapan tertentu dalam mengungkapkan sesuatu, sehingga makna ungkapan itulah yang dipahami dan terlintas dalam pikiran masyarakat.),dan al-‘urf al-amali (kebiasaan yang berbentuk perbuatan yaitu kebiasaan masyarakat yang berkaitan dengan perbuatan biasa seperti kebiasaan libur kerja pada hari-hari tertentu dalam satu muinggu atau mu’amalah perdata semisal kebiasaan masyarakat dalam berjual beli bahwa barang-barang yang dibeli itu di antarkan kerumah pembeli oleh penjualnya, apabila barang yang dibeli itu berat dan besar, seperti lemari dan peralatan rumah tangga lainya.

2. Dari segi cakupannya, ‘urf  terbagi dua yaitu al-‘urf al-‘am (kebiasaan yan bersifat umum yakni kebiasaan tertentu yang berlaku secara luas di seluruh masyarakat dan di seluruh daerah.misal tradisi jual beli sepeda motor, maka ingklud di dalamnya BPKB dan STNK) dan al-‘urf al-khash ( kebiasaan yang bersifat khusus yakni  kebiasaan yang berlaku didaerah dan di masyarakat tertentu. Misalnya, sepakat kalau ada jual beli barang , tiba tiba rusak maka boleh dikembalikan atau ditukar).

3. Dari segi keabshannya dari pandangan syara’, ‘urf  terbagi dua yaitu al-‘urf al-shahih (kebisaan yang dianggap sah yakni  kebiasaan yang berlaku di tengah-tengah masyarakat yang tidak bertentangan dengan nash ( ayat atau hadits, semisal adanya akte nikah saat nikah,KK, KTP) dan al-‘urf al-fasid (kebiasaan yang dianggap rusak yakni kebiasaan yang bertentangan dengan dalil-dalil syara’dan kaidah-kaidah dasar yang ada dalam syara, dalam hal ini bisa dicontohkan denga penyuapan agar perkaranya dimenangkan oleh hakim,dll)

Baca: Hari Raya Idul Adha, Sekretariat DPRD Sanggau Potong Dua Ekor Sapi Kurban

Baca: Banyak Yang Tak Tahu, Awas Tiup Lilin Saat Ulang Tahun Bisa Sebabkan Penyakit

Halaman
12
Penulis: Maudy Asri Gita Utami
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved