Sutarmidji Harap Kalbar Jadi Lumbung Pangan Nasional

Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji saat menghadiri kegiatan pencanangan BBRGM XVI, HKG PKK ke 47, HKP ke 47, HPS ke 39

Penulis: Muhammad Luthfi | Editor: Madrosid
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/M WAWAN GUNAWAN
Sekretaris Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Sambas, Syahrial saat menyampaikan pendapat di depan Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji, Minggu (4/8/2019). 

Sutarmidji Harap Kalbar Jadi Lumbung Pangan Nasional

SAMBAS - Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji saat menghadiri kegiatan pencanangan BBRGM XVI, HKG PKK ke 47, HKP ke 47, HPS ke 39, Harganas XXVI, Pekan Daerah KTNA XI, Pencanangan PKK KB KES tingkat Provinsi Kalbar 2019, mengatakan ia ingin Kalbar kedepan menjadi lumbung pangan Nasional.

Dalam sambutannya Sutarmidji menegaskan kedepan ia menginginkan Sambas dan seluruh Kabupaten-Kota di Kalimantan Barat bisa menjadi lumbung pangan.

Bukan hanya menjadi lumbung pangan di Kalimantan Barat, tapi juga bisa menjadi lumbung pangan Nasional

"Sambas, landak, Sanggau, Ketapang, Mempawah dan Kubu Raya. Jika di maksimalkan dengan bibit dan pupuk yang benar, maka saya yakin kita bisa menjadi lumbung pangan Nasional," ujarnya, saat di Wawancarai, Minggu (4/8/2019) sesaat setelah kegiatan selesai.

Baca: Terkait Permintaan KTNA, Ini Tanggapan Gubernur Kalbar

Baca: KTNA Sambas Minta Pemprov Intervensi Harga-harga Komoditas

Baca: BKKBN Provinsi Kalbar Libatkan Bupati dan Walikota Sebagai Ayah Bunda GenRe Tangani Masalah Remaja

Menurutnya, jika bibit yang di tanam dan pupuk yang diberikan betul-betul. Maka per-hektare lahan pertanian di Kalimantan Barat bisa menghasilkan 3,5 ton setiap hektarnya.

"Kalau misalnya 3,5 ton per hektar, itu bisa naik sekitar 25 persen atau meningkat 600 kilogram, dari biasanya. Maka itu bisa memenuhi kebutuhan kita," ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, kedepan ia tidak menginginkan ada banyak kajian-kajian pada bidang pertanian yang di anggap tidak perlu.

Menurutnya, itu hanya akan menjadi mubazir terhadap anggaran. Karena bisa mencapai ratusan bahkan Miliaran rupiah.

"Saya tidak mau ada kajian-kajian. Ada Kajian kadang sampai miliaran, kadang ratusan juta, untuk ape? Ndak perlu lagi di kaji. Apalagi yang mau di kaji-kaji, Hasilnya cuma kertas dan buka saja," katanya.

Namun demikian, ia tidak menutup kemungkinan untuk mengkaji hal-hal yang di anggap penting. Salah satunya adalah kajian untuk Pembangkit listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

"Kecuali hal yang perlu macam PLTN itu perlu di kaji karena referensinya ndak banyak. Kalau pertanian itu sudah banyak, ape lagi yang mau di kaji, struktur tanah kite sudah Ade, hasilnya sudah Ade. Nah ape lagi yang mau di kaji,? Merampot-merampot Jak," Tegasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved