MIS Al Munadir Kuala Mandor B Memprihatinkan, Penerapan K 13 Belum Maksimal

Idealnya satu orang siswa harus memiliki satu buah buku. Namun faktanya di sekolah ini, dua orang siswa harus berbagi satu buah buku.

MIS Al Munadir Kuala Mandor B Memprihatinkan, Penerapan K 13 Belum Maksimal
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/SEPTI DWISABRINA
Guru di MIS Al-Munadir, Kuala Mandor B, Kubu Raya menunjukkan kondisi ruang kelas, Minggu (21/07/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Septi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBU RAYA - Penerapan Kurikulum (K) 13 telah bergulir beberapa tahun yang lalu, namun kondisi memprihatinkan masih terlihat di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Al-Munadir, Kuala Mandor B, Kubu Raya. Prasarana yang tidak menunjang, akibatkan penerapan kurikulum 13 tidak maksimal.

"K 13 semampu kita dulu. Untuk kurikulum 13 kan, guru hanya sebagai fasilitas, yang berbicara dan berargumen itu semuanyakan siswa. Sementara kalau untuk itu, media kita kurang juga, pendukungnya kurang, jadi kurang maksimal," kata guru bidang studi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), Sunawi, Minggu (21/7/2019).

Ia juga menuturkan, ada beberapa keluhan yang di sampaikan dari guru bidang studi terkait proses pembelajaran di sana.

"Kan kita kekurangan buku juga, masalah buku siswa. Untuk penerapan K 13, satu orang siswa harus mempunyai satu buah buku (paket). Namun ketika siswa di minta untuk menerangkan tentang pendapat mereka tentang pelajaran, mereka harus gantian membaca satu buah buku secara bergiliran, sehingga tidak secara bersamaan," terangnya saat duduk di depan ruang kelas.

Baca: Hadiri Pameran Mewarnai dan Menggambar, Yanieta Dorong Kreativitas Anak

Baca: RSUD dr Soedarso Rujukan Nasional, Mad Nawir: Tak Masuk Akal

Baca: Bikin Pelayanan Tanpa Kelas, Midji Targetkan RSUD dr Soedarso Jadi Tipe A

Idealnya satu orang siswa harus memiliki satu buah buku. Namun faktanya di sekolah ini, dua orang siswa harus berbagi satu buah buku. "Siswa sih ada, namun dua orang satu buku saja, sebenarnya satu orang harus satu buku," ujarnya.

Pihak sekolah juga tidak dapat memaksakan siswa untuk memfotokopi buku pelajaran , karena terkendala biaya dan tidak ingin memberatkan siswa dan orang tuanya.

Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Al-Munadir terletak di Jl Parit Cahaya Utara, Desa Kuala Mandor, Kubu Raya hanya memiliki empat lokal kelas dengan daya tampung 80 siswa. Sehingga siswa pun harus bergiliran masuk sekolah.

"Terkait daya tampung siswa ini, di sini kalau MI/SD itu sampai dengan 6 kelas (jenjang SD), cuma yang ada sarana prasarana kita empat kelas saja. Kelas 1 dan kelas 2 itu masuknya pagi, karena terkait prasarana kurang kelasnya. Jadi untuk kelas 3,4,5 dan 6 itu masuknya siang, jadi bergantian," ungkap Sunawi.

Ia pun menuturkan, siswa yang bersekolah di sini tidak di pungut biaya. "Untuk masalah pembiayaan, anak-anak siswanya di gratiskan, tidak ada pembayaran sama sekali," imbuhnya.

Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) oleh pemerintah ini dinilai belum mencukupi, untuk menunjang kebutuhan sarana dan prasarana sekolah.

"Tidak cukup, kalau dana BOS itu kan untuk gaji guru juga, untuk sarananya juga, dan untuk baju-baju siswanya juga, baju olahraga, baju batiknya. Semuanya dipergunakan untuk siswa dan gurunya, sebagai pengelola yayasan harus mencari sesuatu yang ada menjadi ada untuk menutupi kekurangan itu," ucapnya.

Pria yang juga bertugas sebagai pendamping pengelola sekolah pun menambahkan, untuk sumber pendanaan sekolah selain dari BOS, juga berasal dari Swadaya, baik masyarakat, wali murid dan Pemerintah Desa. Guru yang mengajar di MIS Al-Munadir ini berjumlah 12 orang.

Editor: Didit Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved