Najis Anjing, Begini Beda Pandangan Ulama dan Beberapa Mazhab

Beragam aksi menanggapi kasus tersebut karena anjing dinilai sebagai hewan yang najis sehingga perlu cara tertentu untuk menyucikannya

Najis Anjing, Begini Beda Pandangan Ulama dan Beberapa Mazhab
istimewa
Anjing Pitbull 
Najis Anjing, Begini Beda Pandangan Ulama dan Beberapa Mazhab
Belum lama ini, Indonesia sempat dihebohkan seorang wanita paruh baya yang membawa anjing ke dalam masjid. 
Beragam aksi menanggapi kasus tersebut karena anjing dinilai sebagai hewan yang najis sehingga perlu cara tertentu untuk menyucikannya.
Terkait status kenajisan anjing tersebut, beberapa ulama berbeda pandangan terkait itu.
 
Dikutip Tribunpontianak.co.id dari nu.or.id, dijabarkan berbagai perbedaan pandangan terkait status kenajisan anjing.
Berikut beberapa perbedaan pandangan tersebut:
1. Syekh Wahbah Az-Zuhayli
Syekh Wahbah Az-Zuhayli menyebut anjing pada nomor pertama perihal najis yang diperselisihkan ulama.
 ثانياً ـ النجاسات المختلف فيها: اختلف الفقهاء في حكم نجاسة بعض الأشياء: الكلب
Artinya:
Kedua, jenis benda najis yang diperselisihkan ulama. Ulama fiqih berbeda pendapat perihal status najis sejumlah benda berikut ini. pertama, anjing,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz I, halaman 153).
2.  Mazhab Hanafi
Menurut Mazhab Hanafi, anjing tidak termasuk benda najis. Karena, anjing bermanfaat sebagai penjaga dan pemburu.
Sedangkan babi jelas benda najis karena kata ganti “ha” pada Surat Al-An’am ayat 145 merujuk pada babi yang disebut “rijsun” atau kotor.
Adapun mulut anjing itu sendiri atau liurnya dan fesesnya, menurut Mazhab Hanafi, tetap najis.
Tetapi status kenajisan beberapa bagiannya tidak bisa dianalogikan pada fisiknya secara keseluruhan.
Sebuah benda, dalam pandangan mazhab ini, harus dibasuh sebanyak tujuh kali karena dijilat oleh hewan tersebut berdasarkan hadits Nabi SAW riwayat Ahmad dan Muslim.
Surat Al-An‘am ayat 145 berbunyi sebagai berikut:
 قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ
 Artinya:
“Katakanlah, ‘Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, darah yang mengalir, atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor.”
3. Mazhab Maliki
Mazhab Maliki menganggap anjing adalah hewan yang suci.
Status sucinya berlaku untuk anjing jenis mana pun, yaitu anjing penjaga, pemburu, dan anjing dengan fungsi lain.
Tetapi sebuah bejana yang terkena liur anjing, kemasukan kaki atau lidahnya, harus dibasuh sebanyak tujuh kali sebagai bentuk kepatuhan kepada syariat (ta‘abud).
4. Mazhab Syafi‘i dan Mazhab Hanbali
Sementara itu, Mazhab Syafi‘i dan Mazhab Hanbali menilai anjing dan babi, air bekas jilatan keduanya, keringat keduanya, dan hewan turunan dari salah satunya sebagai najis berat.
Pandangan ini didasarkan pada hadits riwayat Muslim dan Ad-Daruquthni.
Benda yang terkena itu semua, menurut pandangan kedua mazhab ini, harus dibasuh sebanyak tujuh kali di mana salah satunya dicampur dengan debu yang suci.
مَسْأَلَةٌ: فَإِنْ وَلَغَ فِي الإِنَاءِ كَلْبٌ أَيَّ إنَاءٍ كَانَ وَأَيَّ كَلْبٍ كَانَ كَلْبَ صَيْدٍ أَوْ غَيْرَهُ, صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا فَالْفَرْضُ إهْرَاقُ مَا فِي ذَلِكَ الإِنَاءِ كَائِنًا مَا كَانَ ثُمَّ يُغْسَلُ بِالْمَاءِ سَبْعَ مَرَّاتٍ, وَلاَ بُدَّ أُولاَهُنَّ بِالتُّرَابِ مَعَ الْمَاءِ, وَلاَ بُدَّ, وَذَلِكَ الْمَاءُ الَّذِي يُطَهَّرُ بِهِ الإِنَاءُ طَاهِرٌ حَلاَلٌ
Artinya:
“Masalah, jika seekor anjing–anjing mana pun baik anjing pemburu maupun yang lain, baik besar maupun kecil–menjilat di dalam sebuah bejana mana pun itu, maka (kita) wajib menumpahkan seluruh isi bejana tersebut, lalu membasuhnya sebanyak tujuh kali.Dan tidak boleh tidak, salah satunya dengan debu bersama air. Tidak boleh tidak bahwa air yang dipakai untuk membasuh adalah air yang suci dan halal,” (Lihat Jalaluddin Al-Mahalli, Kanzur Raghibin fi Minhajit Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 109).
Selain anjing, benda yang diperselisihkan ulama perihal status najisnya adalah bangkai hewan air; bangkai hewan yang tidak mengalir darahnya (seperti nyamuk, lalat, dan jenis serangga lain).
Bagian bangkai yang keras tanpa darah seperti tanduk, tulang, dan gigi; kulit bangkai; kencing bayi laki-laki yang masih menyusu dan belum mengonsumsi selain asi; kencing, keringat, dan feses hewan yang halal dimakan; mani; air pada luka tubuh; jenazah manusia; dan liur yang keluar dari mulut orang tidur.
Adapun kebanyakan masyarakat Indonesia dalam hal ini mengikuti pandangan Mazhab Syafi‘i.
Masyarakat Indonesia akan membasuh sebanyak tujuh kali benda-benda yang dijilat oleh anjing di mana salah satu basuhannya dicampur dengan debu yang suci. (*)
Penulis: Haryanto
Editor: Haryanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved