Harga Ayam dan Cabai Naik, Pedagang Curhat Merugi

"Saya jual Rp 28 ribu sekilo, kalau di tempat pemotongan sekitar Rp 26 ribu per Kg," imbuhnya.

Harga Ayam dan Cabai Naik, Pedagang Curhat Merugi
TRIBUN PONTIANAK/MG1
Interaksi pedagang dan pembeli ayam di Pasar Kemuning, pada Jumat (12/07/2019). 

Harga Ayam dan Cabai Naik, Pedagang Curhat Merugi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Gerimis sisa hujan semalam masih awet membasahi Pasar Kemuning pagi ini, Jumat (12/07/2019). Genangan air tak terhindarkan, becek dimana-mana dan menimbulkan bau khas pasar basah.

Gerimis tidak mampu menghambat kegiatan jual beli di Pasar Kemuning ini. Pukul 5.30 WIB, suasana pasar sudah mulai riuh oleh pedagan dan pembeli, termasuk lapak ayam yang di jaga oleh seorang perempuan bernama Santi.

Santi merupakan remaja akhir yang berusia 20 tahun. Ia mengakui telah berjualan ayam sejak Tahun 2017. Ayam-ayam yang dijualnya berasal dari pemotongan ayam Pasar Kemuning.

Baca: Mayat Wanita Indekos di Singkawang Diotopsi, Sosok Teman Pria Korban Masih Misterius

Baca: Polisi Temukan Pasangan Bukan Suami Istri Tidur Satu Kamar di Putussibau

Santi mengambil keuntungan sekitar Rp 2 ribuan dari setiap kilogram yang berhasil dijualnya. "Saya jual Rp 28 ribu sekilo, kalau di tempat pemotongan sekitar Rp 26 ribu per Kg," imbuhnya.

Lapaknya beroperasi dari pukul 05.00-12.00 WIB. Dirinya dapat menjual 31-50 Kg sehari.

Namun, lain cerita jika di hari libur. Santi dapat menjual hingga 100 Kg/hari. Dalam sehari, gadis 20 tahun ini beralamat di PAL 7 ini dapat mengantongi keuntungan sekitar Rp 500-700 ribu rupiah.

Baca: Jemaah Haji 2019 Tertua di Kalbar, Usianya 93 Asal Sambas, Termuda Juga Asal Sambas

Namun, Santi mengeluhkan harga ayam naik, sudah lima hari terakhir ini. Meskipun naik hanya Rp 800/Kg, namun kenaikan itu berdampak sepinya pembeli. Akhirnya, kadang dagangannya tak semua laku terjual sehingga harus merugi.

"Jika tidak laku, ya harus dieskan, namun pembeli sudah tidak mau beli jadi terpaksa dijual dengan harga murah, dan itu menyulitkan," curhat Santi.

Dampak dari penurunan penjualan akibat harga naik juga dicurhatkan Dewi, pedagang cabai di Pasar Kemuning. Bahkan, sekarang harga tebus di atas Rp 100 ribu per Kg.

"Harga cabai rawit sekarang itu dari Rp 95-100 ribu (per Kg, red), kalau 1 onsnya Rp 10 ribu. Itu sudah tidak bisa ditawar lagi," ungkapnya.

Baca: Muda Mahendrawan: Budaya Saprahan Perekat Generasi Bangsa

Ia sangat menyayangkan kenaikan harga tersebut, karena sangat berdampak pada daya tarik pembeli. Dirinya juga harus merugi akibat kualitas cabai yang menurun sehingga berdampak pada nilai jualnya.

Dewi berharap, pemerintah dapat mengontrol harga barang pokok seperti cabai. Karena, akan sangat menyulitkan para pedagang.

Naiknya beberapa kebutuhan pokok dikeluhkan konsumen. Ibu rumah tangga, Sri mengungkapkan, kenaikan barang memang tak drastis, namun perlahan-lahan.

"Naiknya sedikit-sedikit, Rp 500 lah, Rp 1.000 lah tapi rutin, itu sangat menyedihkan. Pemerintah harus selalu mengawasi agar stabil," keluhnya. (mg1)

Editor: haryanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved