Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Berang Pemerintah Rencanakan Pelarangan Kratom

Daniel mengatakan, jika dirinya telah menyampaikan kepada menteri yang bersangkutan agar mengkaji daun kratom.

Penulis: Ridho Panji Pradana | Editor: Ishak
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Tanaman Kratom (Mitragyna speciosa Korth). 

Disamping efek kratom yang disebutkan sebelumnya, kratom juga mempunyai efek samping yang tidak diharapkan pada manusia.

Efek yang tidak diharapkan ini biasanya dimulai pada penggunaan kratom dosis tinggi (≥5 gr).

Efek ini dapat berupa mual, sulit buang air besar, gangguan tidur, disfungsi seksual, gatal-gatal, berkeringat, mulut kering, rambut rontok hingga gejala ketergantungan.

Penghentian pemberian kratom secara tiba-tiba dari penggunaan rutin sehari-hari dapat menyebabkan gejala putus obat berupa mual, sulit tidur, berdebar-debar, hilang selera makan, gelisah, nyeri badan, perubahan mood hingga tremor.

Penggunaan kratom dalam waktu lama dapat menyebabkan ketergantungan, berat badan turun, hilang nafsu makan, hilang libido dan kehitaman pada wajah dan pipi.

Over dosis penggunaan kratom dapat memberikan gejala berupa kejang-kejang, kenaikan tekanan darah, berdebar-debar, halusinasi, koma, muntah hebat, ketakutan, depresi pernapasan hingga kematian.

Di beberapa Negara, penggunaan kratom termasuk illegal.

Negara-negara seperti Malaysia, muang thai, birma dan Australia sudah melarang penggunaan kratom secara bebas.

Pada beberapa Negara seperti Denmark, jerman, finlandia, Rumania dan selandia baru, penggunaan kratom mulai dikendalikan oleh pemerintah dalam penggunaannya.

Di Indonesia, kratom masih legal ditanam dan diperjual belikan secara bebas meskipun Badan Narkotika Nasional (BNN) telah merekomendasikan kratom untuk dimasukan kedalam kelompok Narkotika Jenis Baru.

Hal ini disebabkan karena kratom belum masuk dalam daftar narkotika jenis baru yang diterbitkan dalam peraturan menteri kesehatan terbaru nomor 2 tahun 2017 tentang perubahan Penggolongan narkotika.

Oleh sebab belum masukjnya kratom dalam daftar tersebut, kratom sampai saat ini masih bisa diperjual belikan secara bebas tanpa larangan yang mengikat dari pemerintah.

Badan POM sebenarnya juga telah melarang penggunaan kratom sebagai obat tradisional dan suplemen makanan.

Hal ini diwujudkan melalui keputusan kepala badan POM Nomor HK 00.05.23.3644 tahun 2004 tentang ketentuan Pokok Pengawasan Suplemen makanan dan peraturan kepala badan POM tahun 2005 Nomor HK 00.05.41.1384 tentang kriteria dan tatalaksana pendaftaran obat tradisional, obat herbal terstandar dan fitofarmaka serta surat edaran badan POM nomor HK. 04.4.42.421.09.16.1740 tahun 2016 tentang pelarangan penggunaan mitragyna speciosa (kratom) dalam obat tradisional dan suplemen makanan.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved