Zonasi dan Sistemnya, Apakah Solusi?

Pendidikan di Indonesia menjadi bagian dalam sector pembangunan Indonesia. 74 Tahun Indonesia merdeka, Negara ini terus berusaha

Zonasi dan Sistemnya, Apakah Solusi?
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Sekwil SAPMA PP KALBAR Akbar Ramadhan 

Namun kenyataannya kemarin, saya mencoba untuk membantu mendaftarkan sepupu saya disalah satu sekolah jenjang SMA Negeri , saya harus keskolah antri pagi pagi untuk mengambil nomor.

Setelah pagi pukul 8 saya menunggu kurang lebih 2 jam karena saya tiba pukul 6, dan cukup riuh suasana saat petugas mulai membuka nomor pendaftaran.

Berdesak desakan dengan suara teriak dari petugas melalui soundsystem yang cukup mengganggu dengan nada marah untuk antri.

Bisa dibayangkan kan bagaimana riuhnya. Setelah nomor didapat harus menunggu hingga siang untuk pengecekan berkas yang kita bawa seperti SKL, SKHU, KK asli dan fotocopynya. Belum lagi harus dilegalisir yang fotocopy nya agar benar benar asli.

Saya cukup tertawa dengan mekanisme nya, apakah ini namanya online,? Karena saya penasaran saya ikuti terus agar saya tahu bagian mana yang online katanya.

Setelah pengecekan berkas dianggap lengkap kita diberikan formulir untuk di isi yang pada intinya isinya adalah data siswa, orangtua, alamat, nilai dan pilihan sekolah. Yang peling penting itu jarak alamat ke sekolah karena katanya ini system zonasi (jarak terdekat dengan sekolah).

Setelah diisi manual, formulir kembali diserahkan dan kemudian nanti di input oleh petugas disana kedalam system SIAP PPDB itu. Dan akhirnya saya menyimpulkan, oh bagian inilah yang online. Nanti siswa bisa mengakses melihat dia diterima atau tidak disekolah itu atau dilempar ke sekolah mana berdasarkan pilihan. Jika tidak diterima semua pilihan sekolah, otomatis ya pilihannya harus ke swasta.

Kembali pada pokok pemikiran saya tadi tentang system online. Apakah ini yang dinamakan system online? Saya rasa salah besar. Sekali lagi yang namanya system online itu mempermudah rakyat untuk menggunakannya , kalau masihs aja harus kesekolah antri, isi manual formulir lagi maka peran system yang dibuat online atau didalam internet itu bukan system online , itu namanya hanya menumpang simpan data saja yang bisa diakses dengan jaringan internet.

Karena toh masih saja sama kita harus mengisi manual dulu. Kenapa harus demikian? Kenapa kalau memang peran system itu tadi hanya untuk menyimpan data ,di computer biasa juga bisa. Sekali lagi saya tidak setuju jika ini dikatakan system online.

System online itu rakyat bisa mendaftar dimana saja asalkan ada jaringan internet? Padahal saya melihat saat saya akses system itu padahal bisa kita mendaftar sendiri, kenapa diharuskan mengisi lagi form manual? Ataukah mungkin pemangku kebijakan takut, saat masyarakat menginputkan sendiri datanya akan dipalsukan? Itu semua bulshit.

Halaman
1234
Penulis: Syahroni
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved