Jadikan Rayap Ramah Lingkungan, Dosen Ini Diganjar Jadi Guru Besar Untan

Dalam sambutanya, Prof Yuliati Indiryani menyampaikan terima kasih dan hormatnya kepada ketua, sekretaris, dan anggota senat, serta rektor Untan.

Penulis: Anggita Putri | Editor: Didit Widodo
TRIBUNPONTIANAK/Anggita Putri
Rektor Untan berikan pengalungan pada Prof Yuliati Indiryani saat pengukuhan sebagai guru besar bidang Ilmu Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, Untan , di Auditorium Untan, rabu (19/6/2019). 

Laporan Wartan Tribun Pontianak, Anggita

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, TRIBUN - Universitas Tanjungpura (Untan) menyelenggarakan sidang terbuka senat dalam rangka pengukuhan guru besar Fakultas Kehutanan Untan di Auditorium Untan, Rabu (19/6/2019).

Acara pengukuhan itu diberikan kepada Prof Yuliati Indiryani, sebagai guru besar bidang ilmu Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan Untan.

Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia telah menetapkan secara resmi Prof Yuliati Indiryani sebagai guru besar tetap tersebut sejak 1 Desember 2018.

Dalam sambutanya, Prof Yuliati Indiryani menyampaikan ucapan terima kasih dan hormatnya kepada ketua, sekretaris, dan anggota senat, serta rektor Untan. Ia pun menyampaikan orasi ilmiah dalam rangka pengukuhannya sebagai guru besar yang berjudul ‘Pengendalian Rayap Ramah Lingkungan: Solusi Menjaga Keseimbangan Ekosistem’.

Prof Yuliati Indiryani usai pengukuhan sebagai guru besar bidang Ilmu Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, Untan, di Auditorium Untan, rabu (19/6/2019).
Prof Yuliati Indiryani usai pengukuhan sebagai guru besar bidang Ilmu Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, Untan, di Auditorium Untan, rabu (19/6/2019). (TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ANGGITA PUTRI)

Ia mengatakan judul ini dipilih dengan pertimbangan bahwa selama ini sebagian besar dari masyarakat yang sering memandang rayap sebagai musuh yang sangat merugikan.

"Namun dibalik sifatnya yang merugikan terdapat peran yang sangat penting dalam ekosistem kita," ucapnya.

Pontianak yang terkenal dengan kota Khatulistiwa memiliki suhu yang hangat dan kelembaban yang tinggi sepanjang tahun merupakan tempat ideal bagi perkembangan rayap.

Ia mengatakan survei penyebaran rayap di Kota Pontianak telah dilakukan pemetaan.

"Dengan adanya pemetaan ini diharaplam resiko penyerangan rayap pada bagunan dapat dikurangi sehingga pemakaian kayu sebagai bahan bangunan juga berkurang. Hal ini berdampak pada kelestarian hutan di Indonesia," ujarnya.

Prof Yuliati Indiryani kelahiran Pontianak ini pernah mengikuti Organisasi profesi seperti Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (Mapeki), Termite Research Groub (TRC), Society of Indonesia Bidiversity , JSPS Alumni Association of Indonesia (JAAI), Sustainable Agriculture, Food and Energy (SAFE ) Network.

Ia juga mempunyai 31 pengalaman penelitian , 11 Pengamalan Pengabdian Masyarakat ,59 mengikuti Simposium, 21 publikasi jurnal, dan 33 prosiding.

Ia juga pernah meraih penghargaan tahun lalu sebagai presenter terbaik dari PRPM, DIKTI.

Ia menyampaikan perasaan bahagia dan bangganya atas apa yang telah ia capai saat ini.

"Saya merasa bahagia bangga atas apa yang sudah saya capai ini juga tidak luput dari ridho Allah atas usaha yang telah saya lakukan hingga hari ini," ujarnya.

Baca: Peserta STQ Mulai Lakukan Persiapan untuk Lomba STQ Nasional 2019

Baca: Pemilik 5 Zodiak yang Paling Berpengaruh dan Jadi Panutan Orang Lain dari Kepandaiannya

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved