Gelar Halalbihalal dan Dzikir Kebangsaan, Syarif: Kekacauan Bermula dari Penyakit Hati

acara syukuran untuk kemenangan bangsa yang telah berhasil melewati gawai besar Pilpres dan Pileg serentak yang relatif aman

Gelar Halalbihalal dan Dzikir Kebangsaan, Syarif: Kekacauan Bermula dari Penyakit Hati
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Acara syukuran dan dzikir kebangsaan ini ditutup dengan pemotongan tumpeng dan foto bersama. 

Kedua, kerukunan antar umat beragama. Sesama anak bangsa Indonesia kita harus saling menghargai saudara kita yang beda agama. Perbedaan itu merupakan wujud Kudratullah atau takdir Tuhan.

"Takdirlah yang membuat kita selalu berbeda, dan bukan kemauan kita. Jadi orang beriman itu wajib menghargai perbedaan kita yang tercipta berbeda. Yang ketiga, kerukunan antara umat beragama dan pemerintah," ujarnya.

Umat beragama harus mematok rasa rukun dengan pemerintah. Bukan sebaliknya para tokoh agama berunding mengajak makar. Indikasi nilai baik di sisi Allah itu adalah ketika kita mengakui pemerintah yang sah, mencintai tanah air dan membangunnya dengan segenap kemampuan.

Jika mau masuk surga kita mesti maksimal mensyukuri keberadaan bangsa kita yang besar ini. Bukan dengan merakit bom dan meledakkan diri untuk mendapatkan 'surga intuitif' yang tidak jelas asal usulnya.

Kegiatan dzikir tersebut juga merupakan kegiatan puncak (walaupun sederhana ) dari semua kegiatan dzikir yang dinahkodai oleh Dr H Syarif MA selama kurang lebih setahun ini di beberapa tempat khususnya Kalbar. Rektor IAIN Pontianak yang sekaligus sebagai pembina Majlis Dzikir Jokowi di seluruh Kalimantan ini menuturkan bahwa ilmu yg diperoleh tidak akan ada ruhnya melainkan jika dibarengi dengan dzikir secara aktif.

"Dengan berdzikir insya Allah ilmu akan semakin memberi manfaat, segala kegiatan terasa nikmat dan mendatangkan rahmatnya Allah azzawajalla, terangnya.

Syukuran dan dzikir kebangsaan ini menemukan puncaknya saat Dr H Syarif didaulat untuk menyampaikan hikmah syukuran dan dzikir kebangsaan ini.

Syarif memulai dengan bahwa semua kekacauan dan keangkara-murkaan di permukaan bumi ini bermula dari penyakit hati. Hati yang berpenyakit biasanya memandang orang lain selalu tidak ada baiknya. Seolah-olah hanya dirinya saja yang benar, sementara yang lain semua salah.

Pandangan kacamata kuda ini jelas sangat keliru dan jauh menyimpang dari nilai-nilai kesadaran berketuhanan yang mendalam. Dalam skala hidup berbangsa dan bernegara yang luas, ini jelas sangat berbahaya.

Tampaknya penyakit hati itu sepele, tapi ketika disadari dia adalah sumber dari segala kejahatan, termasuk kejahatan makar yang hampir kerap terjadi.

Halaman
1234
Penulis: Anggita Putri
Editor: Maskartini
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved