Yuk, Kenali Penyakit Cacar Monyet yang Menyerang Singapura

Tribun mewawancarai Dokter Umum RS Santo Vincentius Singkawang, dr Frandy terkait apa saja yang harus dilakukan masyarakat mencegah penyakit ini.

Penulis: Jovanka Mayank Candri | Editor: Jimmi Abraham
360nobs.com
Kondisi bocah Afrika yang badannya terserang virus cacar monyet atau monkeypox. 

Yuk, Kenali Penyakit Cacar Monyet yang Menyerang Singapura

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Cacar monyet atau monkeypox yang menyebar di wilayah Singapura pada 8 Mei 2019 lalu ikut mengancam warga Kalbar.

Saat ini, Dinas Kesehatan (Diskes) Kalbar serta Diskes kabupaten/kota melakukan langkah antisipasi mencegah penularan penyakit yang berasal dari Nigeria ini.

Tribun mewawancarai Dokter Umum RS Santo Vincentius Singkawang, dr Frandy terkait apa saja yang harus dilakukan masyarakat mencegah penyakit ini.

Baca: Dinkes Pastikan Penyakit Cacar Monyet Belum Ditemukan di Sintang

Baca: Virus Cacar Monyet, Pemkot Pontianak Belum Ambil Langkah Penanganan

Berikut petikan wawancaranya:

"Pemerintah Singapura baru saja mengkonfirmasi temuan seorang warga Nigeria berusia 38 tahun yang datang ke Singapura positif mengidap penyakit cacar monyet.

Pasien tersebut dilaporkan mengonsumsi daging hewan liar (bushmeat) sewaktu menghadiri acara pernikahan di Nigeria.

Kuat dugaan daging hewan liar tersebut menjadi sumber penularan dari virus cacar monyet.

Penemuan kasus cacar monyet ini tentu saja membuat wilayah Indonesia yang bertetangga dengan Singapura seperti Batam, Kepulauan Riau ikut waspada.

Cacar monyet atau monkeypox adalah penyakit yang disebabkan virus yang ditularkan ke manusia dari hewan.

Wabah cacar monyet ini sering terjadi terutama di bagian terpencil Afrika tengah dan barat, daerah dekat hutan hujan tropis.

Virus monkeypox sendiri pada umumnya mirip dengan virus pada cacar manusia.

Penyakit cacar monyet sendiri hingga saat ini belum pernah ditemukan di Indonesia.

Artinya, Indonesia tidak punya pengalaman khusus dalam menghadapi penyakit ini sebelumnya.

Namun, dengan sifat penyakit yang bisa sembuh sendiri, infeksi cacar monyet juga perlu diperhatikan agar tidak menimbukan wabah.

Belum pernah ditemukan juga tidak mengindikasikan Indonesia aman sepenuhnya dari infeksi cacar monyet.

Infeksi pada kasus ini ditularkan melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau lesi kulit dan mukosa hewan yang terinfeksi.

Di Afrika, infeksi pada manusia ditularkan melalui kera, tikus dan tupai yang terinfeksi.

Faktor risiko lain yang memungkinkan terjadinya kasus cacar monyet adalah karena konsumsi makanan yang telah terkontaminasi dengan proses pengolahan makanan yang kurang baik.

Penularan dari manusia ke manusia, dapat terjadi akibat kontak dekat dengan sekresi saluran pernapasan yang terinfeksi, lesi kulit dari orang yang terinfeksi atau benda yang terkontaminasi oleh cairan pasien.

Penularan terjadi terutama melalui droplet (partikel air dari saluran pernapasan). Penularan juga dapat terjadi dengan inokulasi atau melalui plasenta (cacar monyet bawaan).

Gejala Cacar

Masa inkubasi (interval dari infeksi sampai timbulnya gejala) dari cacar monyet biasanya 6 hingga 16 hari tetapi dapat berkisar dari 5 hingga 21 hari.
Infeksi dapat dibagi menjadi dua periode:

Pertama, periode invasi (0-5 hari) ditandai dengan demam, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), nyeri punggung, mialgia (nyeri otot) dan asthenia yang intens (kekurangan energi);

Kedua, periode Erupsi Kulit (dalam 1-3 hari setelah munculnya demam) di mana berbagai tahap ruam muncul.

Ruam sering dimulai pada wajah (95% kasus) dan kemudian menyebar di tempat lain di tubuh.

Ruam juga dapat muncul di telapak tangan dan telapak kaki (dalam 75% kasus).

Dalam waktu 10 hari, luka kemudian berevolusi menjadi lepuhan kecil berisi cairan, bintil, dan akhirnya kerak.

WHO menulis bahwa untuk menghilangkan kerak ini sepenuhnya, diperlukan setidaknya waktu tiga minggu, meskipun pasien telah menjalani perawatan untuk cacar monyet.

Beberapa pasien mengalami limfadenopati parah (pembengkakan kelenjar getah bening) sebelum munculnya ruam, yang merupakan ciri khas dari cacar monyet dibandingkan dengan penyakit serupa lainnya.

Cacar monyet biasanya merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung dari 14 hingga 21 hari.

Kasus yang parah terjadi lebih sering pada anak-anak dan terkait dengan tingkat paparan virus, status kesehatan pasien dan tingkat keparahan komplikasi.

Kasus kematian bervariasi tetapi kurang dari 10% kasus yang dilaporkan, sebagian besar di antaranya adalah anak-anak.

Secara umum, kelompok usia yang lebih muda tampaknya lebih rentan terhadap penyakit cacar monyet.

Diagnosis

Cacar monyet hanya dapat didiagnosis secara pasti di laboratorium khusus di mana virus dapat diidentifikasi dengan sejumlah tes berbeda.

Jika dicurigai monkeypox, petugas kesehatan harus mengambil sampel yang sesuai dan membawanya dengan aman ke laboratorium dengan kapasitas yang sesuai.

Spesimen diagnostik berasal dari lesi - usapan lesi eksudat lesi atau kerak yang disimpan dalam tabung kering dan steril (tidak ada media transportasi virus) dan tetap dingin.

Darah dan serum dapat digunakan tetapi seringkali tidak dapat disimpulkan karena durasi viremia yang pendek dan waktu pengumpulan spesimen.

Untuk menafsirkan hasil tes, sangat penting bahwa informasi pasien dilengkapi dengan spesimen termasuk perkiraan tanggal timbulnya demam, tanggal timbulnya ruam, tanggal pengumpulan spesimen, status saat ini dari individu (tahap ruam) dan usia.

Pengobatan

Hingga saat ini belum ada perawatan atau vaksin khusus untuk menangani cacar monyet. Data studi dari WHO menunjukkan bahwa vaksin variola 85 persen efektif dalam mencegah cacar monyet.

Namun, vaksin ini sudah tidak lagi diproduksi untuk khalayak umum menyusul eradikasi variola global.

Oleh sebab itu, cara terbaik untuk menghentikan penyebaran cacar monyet adalah dengan mencegah infeksinya.

WHO telah mengimbau pihak-pihak yang berwenang untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan akan faktor risiko cacar monyet dan cara-cara untuk mengurangi paparan terhadap virus ini.

Pemerintah juga dituntut untuk mengidenftifikasikan kasus baru secepatnya sebagai upaya untuk menghentikan wabah.

Untuk masyarakat, pencegahan infeksi cacar monyet adalah dengan mengurangi transmisi hewan ke manusia.

WHO juga mengimbau agar masyarakat di daerah endemik cacar monyet untuk menghindari kontak dengan primata dan hewan pengerat.

Selalu gunakan pakaian pelindung, seperti sarung tangan ketika bersentuhan dengan hewan yang diduga membawa virus cacar monyet.

Untuk mencegah penularan antar manusia, hindari kontak fisik dekat dengan orang-orang yang terinfeksi cacar monyet.

Selalu gunakan pakaian pelindung ketika merawat mereka dan jangan lupa untuk cuci tangan sebelum dan setelah merawat pasien." (*)

Lebih dekat dengan kami, follow akun Instagram (IG) Tribun Pontianak : 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved