Risa Nofiani Lolos Seleksi Interview Satu-satunya Wakili Kalbar di Acara Hibah Bergengsi

Risa Nofiani termasuk yang lolos seleksi interview dan menjadi satu-satunya perwakilan dari Kalbar.

Penulis: Anggita Putri | Editor: Madrosid
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Risa Nofiandi Dosen Kimia, saat menjadi pemater seminar di Fakultas MIPA Untan 

Risa Nofiani Lolos Seleksi Interview Satu-satunya Wakili Kalbar di Acara Hibah Bergengsi

PONTIANAK - Risa Nofiandi adalah Dosen Kimia di Fakultas MIPA Untan dan merupakan alumni DIKTI - Funded Fulbright Grants for Indonesia Lecturers-visiting scholar program 2018 lecturers.

Selaku alumni DIKTI - Funded Fulbright Grants for Indonesia Lecturers-Visiting Scholar program 2018 lecturers.

Ia berkewajiban melakukan diseminasi hasil penelitiannya kepada peneliti yang ada di Indonesia sehingga terjadi tukar menukar informasi yang dapat meningkatkan kualitas penelitian serta kerjasama dalam antar peneliti sebidang.

Baca: Terima Penghargaan, Ipda Tatang Akui Tak Menyangka

Baca: UAS Ungkap Amalan Penting di Bulan Ramadhan: Lebih Berat dari Jihad, Menetes Darah, Nyawa Hilang

Baca: PMII Kalbar Harap PLN Dapat Jaga Stok Pasokan Listrik di Bulan Ramadan

Tak hanya itu ia juga ingin memotivasi teman-teman, dosen atau mahasiswa untuk mengikuti memanfaatkan program ini yang sangat bagus untuk membuka wawasan dan apalagi kalau ingin mencapai World Class University.

Kegiatan ini didanai oleh AMINEF Jakarta bekerjasama dengan Jurusan Kimia, FMIPA sebagai pelaksana kegiatan dan didukung oleh Himpunan Kimia Indonesia Cabang Pontianak.

Kegiatan diikuti oleh para dosen, guru SMA, mahasiswa dan siswa SMA yang ada di Pontianak.

DIKTI - Funded Fulbright Grants for Indonesia Lecturers-Visiting Scholar merupakan hibah bergengsi yang dapat diikuti oleh seluruh dosen Perguruan Tinggi Negeri atau Perguruan Tingg Swasta yang ada di Indonesia.

Tahun 2018, ada 21 orang yang lolos seleksi berkas dan dipanggil interview di Jakarta oleh AMINEF. Dari 21 orang, hanya 9 orang yang lolos seleksi interview.

Baca: Terima Penghargaan, Ipda Tatang Akui Tak Menyangka

Baca: PMII Kalbar Harap PLN Dapat Jaga Stok Pasokan Listrik di Bulan Ramadan

Risa Nofiani termasuk yang lolos seleksi interview dan menjadi satu-satunya perwakilan dari Kalbar.

Pemenang hibah ini akan diberangkatkan ke Amerika dan didanai oleh Fulbright Grant dan transportasi ke USA didanai oleh RISTEK-DIKTI. Durasi hibah ini adalah 3-6 bulan.

Risa Nofiani mengambil durasi selama 5 bulan.

"Setelah menang kita lanjut ke mereka yang akan membiayai kita untuk ke Amerikanya. Waktu itu saya berangkat Agustus 2018 sampai 31 Desember 2018 jadi sekitar 5 bulan," ujarnya kepada Tribun Pontianak.

Selain melakukan penelitian di Laboratorium Prof Taifo Mahmud, College of Pharmacy, Oregon State University, USA, Risa Nofiani mengikuti seminar dan pertemuan sesama Fulbrighter yang diadakan di OSU.

Selain seminar di OSU, Risa Nofiani juga mengikuti Enrichment Seminar di North Carolina State University selama 4 hari yang dihadiri oleh Fulbrighter dari selurud dunia.

Pada acara tersebut Fullbrigter di beri wawasan tentang budaya, food security (Ketahanan Pangan), Lingkungan dan Energi di AMERIKA.

Pengenalan budaya Amerika dilakukan dengan cara berkunjung ke keluarga Amerika. Untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi masyarakan Amerika yang tidak mampu.

Pemerintah menyediakan “Bank Makanan” (FOOD BANK). Beberapa donator dapat menyumbang makanan ke Bank tersebut. Para petani dapat juga menyetor hasil pertanian ke Bank tersebut seperti buah yang ukuranya tidak standar untuk ukuran dipasaran misalnya berhubungan ukuran yang besar atau terlalu kecil.

Beberapa makanan kaleng yang mengalami kesalahan produksi oleh pabrik tetapi masih memenuhi standar kesehatan dapat disimpan di Food tersebut.

Masyarakat kurang mampu dapat membeli dengan harga murah ke Bank tersebut dan pada kondisi tertentu masyarakat dapat juga mendapatkan barang tersebut tanpa harus membeli. Food Bak juga memberikan pelatikan memasak makanan pada masyarakat kurang mampu.

Setelah pelatihan selesai, masyarakat dibekali dengan alat masak dari Bank Makanan.

"Setelah budaya kita juga dipersiapkan untuk isu global adalah energi kemudian food security, makanan, air itu gimana kondisi global dunia sekarang dan lingkungan juga. Jadi kita belajar semuanya tentang energi di Amerika itu apa aja mereka yang fokusnya. Kemudian security nya tuh gimana mereka menghandle agar semua orang itu bisa makan senang kalau nggak bisa makan itu gimana jadi ada seperti puteng gitu," ujarnya.

Ia mengatakan selama di Amerika ia mengikuti riset 5 bulan, ikut kegiatan kemudian pergi ke masyarakat Amerika lihat gimana gaya hidupnya kemudian diskusi.

Bentuk kegiatan ini dibiayai oleh Fullbright tapi dikoordinir oleh Aminef yang menghandle organisasinya.

"Riset yang saya lakukan disini adalah mencari senyawa antibiotika, yang kita lakukan dengan cara penambangan genom secara konvensional kita isolasi senyawa nya kemudian kita lihat juga bagaimana bakteri itu melakukan Biosintesis untuk menghasilkan senyawa antibiotik tersebut," ujarnya.

Selain kegiatan riset yang dilakukan, sebuah artikel review denga judul “3-Ketoacyl-ACP synthase (KAS) III homologues and
their roles in natural product biosynthesis” telah dipublikasikan pada jurnal bereputasi internasional MedCHemComm. Tentunya melalui publikasi ini telah membawa nama Universitas Tanjungpura ke kancah dunia .

Hasil setelah melakukan riset dan sudah dapat hasilnya tinggal dianalisis, dan ada publikasi kalau publikas ada nama Untan sendiri kemudian ada nama konter Park dirinya di Amerika.

Jadi ada publikasi internasional yang lebih bagus, dan ia juga sudah mengeluarkan publikasi dari hasi ini dibuat review dan sudah diterima dan reseptif Jadi mungkin ada 2 hasilnya.

Melalui worshop ia mempunyai tujuan ingin memperkuat riset yang ada di Pontianak dengan cara dengan adanya diseminasi ini bisa berkolaborasi saling percaya dan mempercayai.

Kemudian memberikan wawasan dsn pengetahuan juga perkembangan di dunia itu bagaimana sekarang dan kondisi negara sekarang.

Tak hanya itu ia juga ingin memotivasi teman-teman, dosen atau mahasiswa untuk mengikuti memanfaatkan program ini yang sangat bagus untuk membuka wawasan dan apalagi kalau ingin mencapai World Class University. Jadi harus open minded.

Ia berpesan bagi dosen yang ingin mengikuti program ini dapat mengisis aplikasi seperti yang ada diwebsite AMINEF (https://www.aminef.or.id/grants-for-indonesians/fulbright-programs/grants-indonesian-lecturers/fvsp/).

Hibah ni akan ditutup setiap tanggal 1 November.

Ia berpesan juga untuk mahasiswa agan meningkatkan budaya membaca yang masih jauh dari negara-negara maju.Pada mahasiswa sendiri itu memang kelemahannya adalah membaca jadi membaca itu harus ditingkatkan.

Kemudian bahasa-bahasa seperti Bahasa Inggris harus ditingkatkan, karena tidak mungkin menutupi hanya dengan bahasa Indonesia untuk berkompetisi dengan negara-negara luar.

Kemampuan berbahasa Inggris juga harus ditingkatkan agar dapat mengikuti kompetisi hibah yang banyak disediakan oleh negara luar. Tentunya dengan pandai berbahasa Inggris sudah menjadi modal dalam melamar pekerjaan.

"Iya paling tidak harus membaca lah jangan hanya sekarang itu misalnya chatting atau membuang waktu begitu saja, jangan sampai seperti itu,"ujar
Dosen Kimia yang sudah mengajar sejak tahun dari 2003.

dirinya adalah kelahiran Tanjung Batu, Kepulauan RIau tetapi besarnya di Pekanbaru kerja di Pontianak, dari 2003 sampai sekarang. Ia adalah Alumni S1 di Universitas Riau, S2 di Institut Teknologi Bandung, dan S3 di University of Bristol, Inggris. (Anggita Putri)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved