Artha Graha Peduli (AGP) Antisipasi Karhutla, Gelar Apel Siaga dan Simulasi Karhutla

General Manager PT. MAR Semangat Sembiring, yang memimpin apel mengajak seluruh elemen untuk peduli lingkungan.

Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Artha Graha Peduli (AGP) melalui PAS Group mengadakan apel siaga penanggulangan kebakaran hutan dan lahan dan Simulasi, salah satunya di PT. Mitra Aneka Rezeki (MAR) Kubu Raya, Jumat (26/4). 

"Kita bina bagaimana untuk melakukan pengolahan tanpa bakar yang pertama lalu melakukan deteksi dini, dan patroli dini di wilayahnya. Supaya kalau ada kebakaran mereka bisa menangani dulu sendiri tidak mesti harus tunggu regu besar secara berjenjang,"

Dan PT. Cipta Usaha Sejati (CUS) dan PT. Jalin Vaneo (JV) ini merupakan pencetus berdirinya Tim Manggala Agni Perusahaan di Kalbar.

Camat Telok Pakedai Rasudi mengatakan, pihaknya melalui setiap desa telah menganggarkan perawatan untuk penanggulangan kebakaran lahan.

Selain itu, pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengantisipasi terjadinya karhutla.

PAS Group mengadakan apel siaga penanggulangan kebakaran hutan dan lahan dan Simulasi, salah satunya di PT. Mitra Aneka Rezeki (MAR) Kubu Raya, Jumat (26/4/2019).
Artha Graha Peduli (AGP) melalui PAS Group mengadakan apel siaga penanggulangan kebakaran hutan dan lahan dan Simulasi, satu di antaranya di PT. Mitra Aneka Rezeki (MAR) Kubu Raya, Jumat (26/4/2019). 

"Kita juga melaksanakan sosialisasi sosialisasi kepada masyarakat desa termasuk juga apa bisa juga bergabung dengan perusahaan seperti yang kita lakukan hari ini sejauh mana artinya biar bebas dari asap kebakaran hutan dan lahan melalui sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah," ujarnya.

Tokoh masyarakat setempat Lasem mengakui, sejak dulu masyarakat membuka lahan dengan cara membakar.

Namun para masyarakat, kata dia, melakukan pembakaran dengan aturan yang berlaku, pada jam tertentu, dan selalu dijaga tidak ditinggalkan begitu saja.

"Kalau kita sih memang dari dulu karena masyarakat adat itu kan identik dengan ladang, ladang detik juga dengan pembakaran cuma jaman jaman dulu kalau membakar lahan itu pun kita sudah antisipasi. Kalau bakar ladangnya itu di atas jam tiga jam tiga sore," ujarnya.

Dan untuk saat ini, masyarakat sudah jarang melakukan pembakaran karena memikirkan juga untuk melestarikan lingkungan hidup. Kemudian juga ada aturannya.

"Masyarakat adat itu ada hukum adatnya, misalnya kita udah cek kan udah kasih tau kalau mau bakar lahan harus ada rombongan, harus ada pencegahan atau diberi air. Kalau mereka masih melanggar itu ya sanksi adat," tegasnya.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved