DEMA FEBI IAIN Pontianak Adakan Dialog Interaktif Revolusi Industri 4.0 Antar OKP

Sebelum diskusi berlangsung Sekretaris Jurusan Perbankan Syariah yaitu Rianda Hanis. S.E., ME memberikan kata pengantar pra diskusi

DEMA FEBI IAIN Pontianak Adakan Dialog Interaktif Revolusi Industri 4.0 Antar OKP
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Foto bersama kegiatan 

DEMA FEBI IAIN Pontianak Adakan Dialog Interaktif Revolusi Industri 4.0 Antar OKP

Citizen Reporter Kabid Diklat DEMA FEBI, Siti Maulida

PONTIANAK - Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (DEMA FEBI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak Bidang Kesejahteraan Mahasiswa menggelar Dialog Interaktif antar OKP di Gazebo kampus dengan tema “Pengaruh Perkembangan Revolusi Industri 4.0 di Kalimantan Barat”.

Pemateri merupakan kader dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Kesatuan Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). (11/4/2019).

Baca: Wabup Effendi Hadiri Peresmian Gedung Kejari Ketapang

Baca: Usai #JusticeForAudrey, Tagar #AudreyJugaBersalah Kembali Trending Topik di Twitter, Terkait Visum?

Baca: Audrey Pontianak - Ketua KPPAD Kalbar Imbau Masyarakat Bedakan Antara Fakta & Hoax Kasus AU

Sebelum diskusi berlangsung Sekretaris Jurusan Perbankan Syariah yaitu Rianda Hanis. S.E., ME memberikan kata pengantar pra diskusi, ia mewakili jajaran dosen sangat mengapresiasi kegiatan dialog ini. Menurutnya dialog ini memang sudah seharusnya dilakukan untuk menyiapkan mahasiswa dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0`

“Revolusi Industri bukanlah suatu hal yang menakut nakuti kita semua, justru malah membuat kita tertantang sehingga dapat memanfaatkan sebaik mungkin” ungkapnya.

Pemateri Pertama yaitu Linawati selaku Ketua Rayon FEBI Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat IAIN Pontianak memaparkan tentang Revolusi Industri dalam prespektif Politik. Ia menyinggung tentang aplikasi Jaringan Politik RI yang berisi aduan aduan masyarakat terhadap partai politik yang menyalahi aturan.

“Aplikasi ini salah satu bentuk perkembangan revolusi industry 4.0 yang dapat memantau perkembangan atau perjalanan politik di Indonesia” paparnya.

Ia juga menambahkan bahwa saat ini televise sudah dikuasai oleh pemilik modal, bahkan dikuasai oleh segelintir partai sehingga melanggar netralisasi perpolitikan.

Lain halnya Kader GMNI yaitu Muhardianyah memaparkan bahwa setelah adanya revolusi hal hal yang mendasar seperti Revolusi Agraria berkembang menjadi usaha pertanian perkebunan dan lain-lain. Menurutnya Revolusi industry ini dirasa positif.

“Dilihat dari revolusi industry 4.0 ini seperti Aplikasi Gojek maupun Grab sisi postifnya dapat menyediakan lapangan pekerjaan,” Ungkapnya.

Sedangkan kader Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Syariah yaitu Khairul Hatami memaparkan bahwa di Revolui Industri 4.0 berpengaruh terhadap sosial dan budaya yang ada di Indonesia. Banyak yang menggunakan internet namun minim yang mencari tau tentang budaya dan adat istiadat maupun sejarah Indonesia.

“Kita jangan sampai acuh tak acuh terhadap perkembangan revolusi Industri 4.0 ini. Karena jika kita acuh tak acuh, kita akan lenyap” ungkapnya. Ia menjelaskan bahwa revolusi industry menuntut masyarakat untuk menjadi masyarakat yang berkreasi.

Pemateri terakhir yaitu Nahriansayh selaku kader Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesi (KAMMI) memaprakn tentang Revolusi Industri 4.0 prespektif pendidikan. Menurutnya perkembangan revolusi ini akan berkembang robot yang dapat mengambil alih pekerjaan manusia. Hal ini akan menambah jumlah pengangguran. Pengubahan di dunia Pendidikan fungsi guru akan berubah, yang awalnya mengajar berubah menjadi mentor atau motivator, karena saat ini siswa dapat mencari pengetahuan melalui internet.

Penulis: Syahroni
Editor: Maskartini
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved