Ekspedisi Tapal Batas Ey.Move.On, Meretas Jalan Memakmurkan Masyarakat di Garis Terluar Negeri

Seperti mahasiswa Fisioterapi UNISA, Kesehatan Masyarakat UAD, dan juga Poltekkes Jurusan Analis Kesehatan.

Penulis: Ishak | Editor: Jamadin
ISTIMEWA / ARISTA PRATIWI
Aksi beberapa mahasiswa relawan E Youth Movement for Nation dalam agenda Ekspedisi Tapal Batas, di Desa Palapasang, Entikong, beberapa waktu lalu. 

Ekspedisi Tapal Batas Ey.Move.On, Meretas Jalan Memakmurkan Masyarakat di Garis Terluar Negeri

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Segala keterbatasan yang dihadapi masyarakat sisi terluar negeri jadi perhatian bagi E Youth Movement for Nation (Ey.Move.On). Organisasi nirlaba yang relawannya banyak diisi anak-anak muda dari berbagai kampus di Indonesia inipun lantas menggagas program khusus yang dinamai Ekspedisi Tapal Batas.

"Ekspedisi Tapal Batas ini sebenarnya tujuannya untuk meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lingkungan. Khususnya di kawasan perbatasan," ungkap satu di antara relawan, Arista Pratiwi, Sabtu (16/2/2019).

Dalam ekspedisi kali ini, pihaknya menurutnnya memilih Desa Palapasang, Kecamatan Entikong, sebagai lokasi dilaksanakannya program. Puluhan relawan yang umumnya datang dari mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Indonesia itupun terjun langsung berbaur dan mencoba membantu masyarakat setempat.

Baca: Dari Nasyid hingga Pengrajin Tanjak Melayu Khas Kalbar

Baca: KPU Gelar Sosialisasi Pemilu 2019, Ini Materi Yang Disampaikan

Dari Pontianak, beberapa mahasiswa Universitas Tanjungpura ikut serta. "Unta itu ada yang dari FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan), Kedokteran, FISIP, dan Teknik," sambungnya.

Relawan juga datang dari Yogyakarta. Seperti mahasiswa Fisioterapi UNISA, Kesehatan Masyarakat UAD, dan juga Poltekkes Jurusan Analis Kesehatan.

Dari Bali,  turut serta beberapa mahasiswa dari Dokter Hewan, Universitas Udayana. Pun demikian dari beberapa mahasiswa Universitas Diponegoro yang jadi perwakilan dari Semarang.

"Selain itu juga ada dari Bengkulu, Padang, dan Bangka Belitung. Kumpul semua membantu masyarakat dalam ekspedisi ini," sambungnya.

Ia mengungkapkan, ada banyak hal-hal menarik yang ditemui tim selama ekspedisi dilaksanakan. Sektor pendidikan misalnya, yang menurutnya saat ini masih sangat memprihatinkan.

"Di sana hanya ada satu SD dan satu SMP. Jumlah siswanya sedikit karna banyak yang tidak bersekolah. Bahkan kelas 7 saja hanya 6 orang dalam satu kelas," bebernya.

Selain itu, hanya ada tiga orang guru yang memfasilitasi proses belajar mengajar di sekolah tersebut. "Kadang dibantu guru honor tapi jarang datang karna akses jalan yang sulit. Harus melewati transportasi darat dan air," sambungnya.

Baca: VIDEO: Detik-detik Pesawat Lion Air Tergelincir di Bandara Supadio

Pun demikian dengan aspek kesehatan. Kondisinya, menurutnnya masih teramat memprihatinkan dan butuh perhatian lebih

"Di sana tidak ada tenaga medis. Jika sakit mereka pasrah di rumah. Atau paling tidak ke pos tentara dengan obat-obatan seadanya. Kalau ad rezeki mereka ke Entikong atau Kuching. Tapi butuh uang yang besar untuk biaya transportasi," kisahnya.

Kondisi inipun juga sebelas dua belas pada aspek perekonomian masyarakat setempat.  Dari hasil observasi di lokasi,  masyarakat setempat menurutnnya menggantungkan hidup dari hasil pertanian.

"Hasil tani rata-rata masyarakat adalah lada, kacang tanah, dan beras. Tapi beras lebih sering hanya untuk makan sendiri. Dulu lada jadi hasil utama yang bisa meningkatkan kan penghasilan mereka karna bisa mencapai  Rp 100 ribu per kilogram. Tapi sekarang harga turun jadi Rp 20 ribu, dan membuat ekonomi mereka pun merosot," sambungnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved