Korban Kawat Layangan
Deraian Air Mata Kerabat Iringi "Perjalanan" Agustami ke Liang Lahat
mau menyalahkan pemain layangan saya tidak tahu siapa pelakunya, mau menyalahkan pemerintah juga tidak bisa
Penulis: Muhammad Rokib | Editor: Jamadin
Deraian Air Mata Kerabat Iringi "Perjalanan" Agustami ke Liang Lahat
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Meski sudah pasrah dan menerima kenyataan dengan sepenuh hati, keluarga almarum Agustami (39), korban tersengat listrik layangan bertali kawat masih dirundung kesedihan.
Orangtua korban, Kasim (63) terlihat meneteskan air mata dan berdoa di samping jenazah anaknya mengatakan bahwa dirinya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Saat itu Kasim mengenakan baju koko putih kusut dan kain sarung mengangkat tangannya setinggi dagu dan komat-sambil membaca doa.
"Saya memang sedih anak saya menjadi korban, tapi saya mau menyalahkan siapa," kata Kasim usai berdoa, Sabtu (26/1/19) pagi.
Baca: Tersengat Listrik Kawat Layangan di Jalan Raya, Ini Keterangan Korban
Baca: Tersengat Listrik , Korban Sadar Ketika Sudah di IGD Rumah Sakit Yarsi
Abang kandung tertua korban, Edwar (40) juga berlinang air mata menenagkan ayahanda nya, Edwar menyampaikan kepada Tribun agar masyarakat mebuka mata selebar-lebarnya bahwa musibah yang menimpa adiknya adalah contoh untuk dijadikan pelajaran.
Edwar berharap kejadian yang menima Agustami tidak pernah terjadi kepada siapapun lagi.
"Saya tidak bisa menyalahkan siapapun, mau menyalahkan pemain layangan saya tidak tahu siapa pelakunya, mau menyalahkan pemerintah juga tidak bisa," tutur Edwar.

Namun Edwar meminta kepada pemerintah terkait, agar terus melakukan razia dan menertibkan para pemain layangan dengan rutin sampai seterusya.
"Saya harap adik saya adalah korban terkahir, tidak ada lagi Agustami, Agustami lain di Pontianak, saya minta ads tindakan tegas dari pemerintah" ujar Edwar.
Duduk disamping Kasim, adik kandung bungsu korban, Ita (32) nampak terpukul saat jenazah abangnya hendak dimasukan kedalam keranda.
Ita menangis menjadi jadi di depan jenazah abangnya sembari memegang sebuah baju kaos hitam dan singlet putih.
"Bang ini baju mu bang, ini bajumu," ucap Ita sambil meraung.
Ita tampak tak terima abangnya meninggalkannya begitu cepat.
Kerumunan orang tampak berusaha menenangkan Ita, sejumlah kerabat juga terbawa suasana dan berisak tangis.