Tahun Ajaran 2019, Mendikbud Masukkan Pendidikan Mitigasi Bencana di Sekolah

Jadi nanti satu paket di dalam PPK, dan masih terbuka kalau ada hal tertentu yang masih harus masuk, akan kita masukkan. Kita usahakan mulai tahun

Tahun Ajaran 2019, Mendikbud Masukkan Pendidikan Mitigasi Bencana di Sekolah
TRIBUN FILE/IST
Mantan Rektor UMM Muhadjir Effendy menggantikan Anies Baswedan sebagai Mendikbud. 

Tahun Ajaran 2019, Mendikbud Masukkan Pendidikan Mitigasi Bencana di Sekolah  

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, JAKARTA - Pemahaman terhadap mitigasi bencana dianggap perlu diketahui semua pihak tak terkecuali para siswa.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyampaikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan memberikan dasar-dasar keterampilan hidup atau basic life skills kepada siswa, salah satunya mengenai pendidikan mitigasi bencana.

Setidaknya ada 5 paket modul sudah disiapkan Kemendikbud, yakni tentang (1) bahaya narkoba, (2) menangkal radikalisme, (3) kesadaran hukum berlalu lintas, (4) pendidikan antikorupsi, dan (5) pendidikan mitigasi bencana.

Kelima modul tersebut tidak akan menjadi mata pelajaran khusus, melainkan akan dilebur ke dalam kegiatan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di sekolah.

“Jadi nanti satu paket di dalam PPK, dan masih terbuka kalau ada hal tertentu yang masih harus masuk, akan kita masukkan. Kita usahakan mulai tahun ajaran 2019,” ujar Mendikbud usai jumpa pers Akhir Tahun 2018 di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Kamis (27/12/2018).

Ia menegaskan, pendidikan mitigasi bencana yang dimasukkan ke dalam kurikulum tidak akan berupa mata pelajaran khusus. 

Baca: Ketua DPR Bambang Soesatyo Usul Pemda Alokasikan 1 Persen APBD untuk Antisipasi Bencana

Baca: Terjadi Banjir Secara Tiba-tiba, Saksi Mata Sebut Warga Banyak Yang Panik dan Berlarian

Baca: Yusril Ihza Mahendra Tantang KPU Coret Dirinya Sebagai Caleg DPR RI

Secara teknis, tutur Mendikbud, pendidikan mitigasi bencana diintegrasikan dalam kegiatan belajar mengajar tanpa melalui mata pelajaran khusus.

“Kan sebetulnya proses belajar mengajar dibikin seluwes mungkin, dengan waktu yang cukup. Dan dengan ketentuan guru mengajar 8 delapan jam, memberikan keleluasaan kepada guru untuk mengatur jam belajar lebih luwes,” tuturnya.

Mendikbud menuturkan, pendidikan mitigasi bencana butuh keterlibatan semua pihak, baik sekolah, orang tua, masyarakat, maupun kementerian/lembaga lain.

Halaman
12
Editor: Rihard Nelson
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved