Breaking News

Menjadi Relawan, Bantu Tuntaskan Masalah Pendidikan Bangsa

Dengan melihat pada fakta itu, katanya, lantas menjadi hal yang sangat ironi ketika melihat pendidikan di Indonesia.

Penulis: Ishak | Editor: Dhita Mutiasari
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Beberapa aktivitas para relawan pendidikan yang tergabung dalam VTIC berikan pendidikan kepada anak-anak Indonesia di Miri, Malaysia, beberapa waktu lalu. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Jagat maya dalam beberapa pekan ini sempat dihebohkan dengan video seorang siswa yang harus melewati batas negara Indonesia-Malaysia saban hari hanya untuk sekolah. Kabar itupun lantas memantik keprihatinan beberapa kalangan.

Satu di antaranya adalah Maya Safitri. Mahasiswi Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak inipun bahkan menuangkan keprihatinannya dalam bentuk karya tulis bertajuk 'Mendidik : Tugas Siapa?'

Baca: Laga Persipon Pontianak Vs Persik Kediri Dalam Liga 3 di Stadion SSA Pontianak

Baca: Jangan Takut, Presentasi di Depan Kelas Bisa Bawa Banyak Manfaat Loh

"Latar belakang penulisan artikel ini karena saya terinspirasi dari cerita Nursaka. Anak kelas 3 di perbatasan Entikong yg harus sekolah melintasi perbatasan dua negara, Indonesia - Malaysia yang lagi viral diberitakan kemaren," ujarnya, Sabtu (15/09/2018).

Pendidikan di perbatasan Indonesia, khususnya di Kalbar, menurutnya, sangat memprihatinkan. Disparitas kualitasnya jika dibandingkan dengan pendidikan di kawasan urban, jelas sangat timpang.

Baca: Takut Presentasi di Depan Kelas, Perhatikan Hal Ini Agar Prosesnya Lancar

Padahal, katanya, pendidikan menjadi aspek penting dalam kemajuan satu bangsa. Iapun tak sungkan menuangkan hal tersebut ke tulisannya itu.

Bahwa, katanya, sepanjang sejarah, pendidikan ikut mewarnai catatan peradaban dunia . "Mesir  kuno dan Yunani kuno memiliki peradaban yang tinggi, karena pendidikannya yang maju," sambungnya.

Demikian pula dengan bangsa maju di era modern.

Baik seperti Amerika Serikat, Jepang dan Korea, pun demikian pula Jerman dan Prancis yang memiliki basis pendidikan yang kuat hingga menjadi negara  dengan tingkat kemajuan yang pesat.

"Jepang yang hancur setelah perang Dunia II  mulai bangkit dengan melakukan pembenahan sistem pendidikan, karena Jepang  sadar pendidikan merupakan investasi jangka panjang. Hasilnya Jepang  sekarang menjadi negara maju terdepan dalam percaturan ekonomi dunia,"jelasnya

Dengan melihat pada fakta itu, katanya, lantas menjadi hal yang sangat ironi ketika melihat pendidikan di Indonesia. Khususnya di wilayah perbatasan.

Ketidakmerataan pendidikan masih menjadi masalah yang belum terselesaikan. Pendidikan di perbatasan masih jauh dari kata maju dibanding dengan  pendidikan di kota- kota besar.

Hal tersebut menurutnya terlihat jelas dari realitas yang ada. Mulai dari kurangan tenaga guru, sampai infrastruktur dan suprastruktur yang tak begitu memadai.

Semakin memprihatinkan manakala didapati fakta bahwa di Indonesia, pendidikan di Kalbar terbilang kurang maju. 8 kabupaten di Kalimantan Barat tercatat sebagai daerah tertinggal, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden (perpres) Nomor 131/2015.

Program KKN (Kuliah Kerja Nyata) bagi mahasiswa calon guru, yang dihadirkan untuk menimbulkan rasa ketertarikan untuk mengajar di daerah-daerah perbatasan pun belumlah optimal. Dalam tulisannya itu, menurutnya,  faktanya banyak lulusan guru yang telah menyelesaikan KKN, tetap memilih mengajar di daerah perkotaan.

Padahal, pendidikan merupakan hak setiap warga negara dan telah tercantum dalam UUD 1945. Idealnya setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved